Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Senin, 23 Desember 2013

Temukan Aku #11

Bismillaah...

Berapa ujian yang sudah terlewati? Membayangkan apalagi yang akan terjadi di depan sana aja kayaknya sudah ciut duluan :'( Padahal, sering banget nguatin orang-orang di sekitar. Tapi nyatanya? Aku lemah, meeen... Penghujung tahun yang dihujam ujian bertubi-tubi. Oke, anggap saja ini bonus. Masih teinget banget deh kata-katanya dia. Gini deh... kalau sampai tahun depan aku belum nikah, entah apalagi yang akan menghadang. Pasti makin gencar ajetuhh...

Aih! Alloh yang bekengin semuanya kok. Harusnya sih, nggak boleh khawatir. Harusnya sih, aku kudu tenang. Harusnya sih aku nggak boleh cengeng. Harusnyaaaa... Iya, oke.. tadi sempet  nangis dikit. Nggak kuat rasanya. Tapi, katakan saja sama si masalah "Hai masalah BESAR, ada Alloh yang JAUH LEBIH BESAR!" Apa yang perlu ditakutkan, yan? Nggak ada! Iya, nggak ada... Harusnya~

Masih adakah yang rutin menanyakan kabar lagi? Iya, masih ada. Walaupun nggak rutin. Sayang, keadaan bener-bener nggak kondusif. Mulai dari prinsip yang dipermasalahkan. Mungkin ujung-ujungnya bakalan diusir dari rumah, mungkin. Sampai masa depan yang semakin buram. Aku sudah atur semuanya, kok. Tapi, lagi-lagi... Alloh berkehendak lain. Boleh nangis nggak, nih? Hiks... pinjam pundaaaaaakk~

Perjuangan yang nggak ada akhirnya. Hari ini begini, besok tak tahu akan seperti apa. Kepala ini isinya udah nggak karuan. Pasti kuat! Ya, pasti kuat! Senyum... senyum... nggak boleh kalah sama keadaan. Sekalipun keluarga ngebenci dan semuanya nggak berjalan baik, ada Alloh di balik ini semua dan semua akan indah pada waktunya. Nggak tahu deh kapan bakalan indahnya. Yang jelas, Alloh nggak mungkin ingkar janji, kan? Mau cerita sama siapa selain ke Dia dan layar bisu ini?

Satu hal. Terkadang diri yang terlalu penat ini, pengen rehat sejenak dari semua kepiluan dunia. Argh! Alloh Maha Adil... Dan kalau ditanya kabarku hari ini, aku tetep ngejawab, "Alhamdulillah... baik!"

Mau ada yang baca ini tulisan atau nggak kek, peduli amat, deh... Untuk mereka yang suka kepo, mungkin ini konsumsi publik yang yahut. Tapi, untuk dia yang terkadang suka nyari kabar tentang keadaanku, mungkin ini sedikit membantu. Haaa~ Jodoh, masa depan, cita-cita, keluarga, iman, Islam, mati...

Apa yang mau diperjuangkan?
Alloh, peluk aku... :'(


Balikpapan, 23 Desember 2013
21.24 wita
Tak lagi bersinar...
Binarnya meredup...
Mungkin, kelak akan mati!

Sabtu, 21 Desember 2013

Alur~ Buntu!


Kampus bertingkat...
Kampus belantara...
Hujan...
Seminar...

Semua terputar di situ-situ saja. Pertemuan dan perpisahan. Selalu di sekitar bilangan itu. Ah, pilihannya ya hanya empat. Sudah jelas! Selain itu, kita tak akan pernah dipertemukan. Percaya atau tidak, itulah kenyataannya...

Muara yang tak berujung... itu juga bukti bahwa semuanya terus mengalir. Ikuti irama dan gemericik air yang hanya mampu diresapi oleh hati. Memori-memori yang telus berlarian dan masa terus menangkapinya, semua mulai usang tertutup sesal. Ada harap.. dan kau tahu itu. Biarkan aku terus begini tak akan ubah satu hal pun dalam dirimu. Tak percaya? Ayo, kita buktikan!

Hujaaaann... ah, kunikmati lagi wanginya. Lenyapkan badan ini diantara gerimis dan rintik kecil. Apa bedanya? Haha! Gerimis di mana-mana. Masih kuingat saat itu. Gerimis di lantai 3... menanti dan terus menanti.

Mendung. Gerimis. Becek. Basah. Lembab. Lantai tiga. Kerumunan orang. Tangis dalam hati. Rindu. Pertemuan. Perpisahan. Biskuit isi coklat.

Tersebut namamu. Lagi-lagi, dikala rintik hujan. Do'a akan naik ke langit. Temui Sang Maha Kaya. Semoga terkabul. Atau tersimpan sampai waktunya tepat. Dan Al-qur'an yang bernama itu bisa temui dan berkumpul dengan pemiliknya... ~

Rindu yang menggantung.. Rindu yang memecah langit hati.. Rindu yang jatuhkan gemericik airnya.. Rindu... Rindu...

 
Balikpapan, 21 Desember 2013
22.54 wita
 
Entah, di kepalaku hanya ada memori di tanggal 20 dan 21 di bulan Agustus. Ada apa denganmu? Kau baik-baik sajakah?

Kamis, 19 Desember 2013

Enyak... aku padamu~


Ini foto diambil pada awal tahun 2013
sebelum hijrah...
sebelum aku meninggalkan kegelapan...
 
 
Banyak hal yang berubah. Mulai dari sikap, penampilan, akhlak, dan iman. Namun, hanya satu yang tak berubah, malahan bertambah. Ya, rasa cinta yang meningkat tajam kepada sosok itu. Sosok yang menguatkan langkah dan hatiku. Enyak! Eh, kalau beliau ngebaca kata 'enyak' itu, bisa ngomel-ngomel nih, hehe... Piss~ Aku biasa memanggilnya IBU. Perempuan yang dulu selalu mengomel saat aku males mandi (sampe sekarang masih suka males sih, hehe...), merawatku bahkan nggak tidur kalau aku sakit, nungguin aku di ruang tamu kalau aku belum pulang sekolah alias telat pulang, selalu ngelindungin dan belain aku.. walaupun aku salah. Ibu yang sabarnya bener-bener nggak ada habisnya...
 
 
Nyak, asal tau saja... Andai dulu Alloh tak sentuh hati ini dengan hidayah-Nya, mungkin sampai saat ini kau masih menitikkan air mata sakit karena sikap dan perilakuku. Entah, berapa kali hatimu kuhancurkan dan engkau masih berikan maaf padaku. Bahkan, dulu... hanya saat Idul Fitri aku meminta maaf padamu. Bu, jika ditanya, untuk siapa semua yang kumiliki sekarang kupersembahkan? Jawabannya dua, Bu. Alloh dan dirimu~
 
Kupandangi sosokmu..
Walau keriput menghiasi wajah,
tak pernah pudar senyum pelipur lara...
Selalu pancar cinta di balik kemelut...
 
Wahai malaikat Alloh..
Sutra pun tak mampu tandingi lembut belaianmu..
Seratus jamaah pun tak dapat tandingi ridhomu..
Dan sejuta cinta di bumi ini, tak mampu lenyapkan cintamu padaku...
 
Yaa Robb...
Jika kau tetapkan hari itu..
Ijinkanlah kulukiskan bahagia di hatinya..
Antarkannya dengan kesholehanku..
Terangkat padanya atas kemuliaan~
 
Aamiin~
 
 
Balikpapan, 19 Desember 2013
23.43 wita
hari ini nggak ada ketemu Enyak :'(
muah!

Selasa, 03 Desember 2013

Temukan Aku #10

Bismillah...


Deretan kata-kata itu membelalakkan mata. Nikah muda? Siapa yang tak mau? Itu impianku bukan? Yaa Robb, inilah jawaban atas do'a yang terpanjatkan. Tapi, prinsip kami... beda~ Tak akan ada yang mau menerima perbedaan prinsip. Lelaki yang luar biasa mana pun pasti tak dapat menerimanya. Ini pula yang menjauhkan aku dengannya. Dan kini... berita itu dibawa. Nikah muda. Ditawari dengan kawan dari kawan yang lain. Lagi-lagi... ini seperti flash back. Dulu pun ini pernah terjadi. Herannya, setiap ada tawaran itu... hatiku tak mantap lagi untuk menikah. Padahal, di atas sajadah... keinginan itu sangat menggebu. Hiks~

Nikah muda, yaaaan? Masih ragu? Iya, ragu! Beda holaqah! Kenyataan tak berpihak! Iya, kenapa holaqah menjadi penghalang? Tidak, bukan penghalang. Tapi itu prinsip! Tak mungkin mendidik anak-anak kelak dengan ilmu dan ajaran yang berbeda. Mau jadi apa mereka nanti? Ah!

Biarlah Alloh yang aturkan seemuanya untukku.. Semoga ini tak berkepanjangan~

Itu... dia yang di sana... emmm.. tak taulah...

 
 
Telah lengkap kemustajabannya,
Ada aamiin dalam do'a,
Tertunduk pasrah,
Mengharap diam,
Terluka lebih lama dalam sedih...
 
Muaranya telah memanggil,
Tuk sempurnakan dien,
Alloh ijabah tiap lantunan do'a
Sepertiga malam saksinya...
 
Kenapa ragu menghinggap?
Sedang Alloh meluluskan,
Yakin pun tak lagi ada,
Aku hanya... inginkan yang sepaham...
 
Tak ingin ulangi kecewa,
Sungguh...
Sakit mencekam saat melepaskan
Terpilih walau buram
Di masa depan masih tak tampak...
 
Balikpapan, 02 Desember 2013
Penghujung~
Haruskah?
23.58 wita


Senin, 02 Desember 2013

Catatan Hujan...

Bismillah...

Kusyukuri atas kehadiranmu,
Tak banyak kisah terukir,
Tapi rasa pantas itu telah pasti,
Menyesapi gerai hari...
Lewat rintik kecil air,
Jalan tak berujung,
Juga bangunan bisu...

~Hujan dan Kampus Belantara~

Taraaaa... akhirnya sampai juga di gedung yang sudah tak asing lagi bagiku. Perjalanan jauh yang ditemani rintik hujan sepanjang jalan, menimbulkan berbarel-barel syukur atas keselamatan dan keutuhan diri yang diberikan-Nya. Dengan ringan langkah kaki ini memasuki gedung itu. Terus berjalan, menaiki tangga, berbelok ke kiri, jalan terus lagi, dan berhenti di sudut gedung di bagian sisi sebelah kanan. Sebuah ruangan yang menjadi tempat favoritku... yap, Musholla. Di sinilah tempat teraman dan ternyaman untuk mengadukan dan tunaikan sunnah. Haaa, 3 tahun mimpi itu tergantung. Dan kini, diri ini ada di gedung yang dulu aku impikan. Rasanya untuk memimpikan kaki ini menginjak-injak lantai gedung ini saja nggak mungkin bangeeett. Tapi hari ini, Alloh berkehendak lain dan selalu ijinkan aku untuk terus menggapai mimpi. Ck, inilah serunya~ Aku pun selalu mengagumi hal-hal kecil di sana. Kagum pada sajadah-sajadah yang tak pernah beranjak dari lantai Musholla. Kagum pada arah kiblat yang tak berubah. Kagum pada tulisan-tulisan di papan, juga foto-fotonya. Kagum pada beberapa sendal jepit yang tersedia untuk mereka yang ingin tunaikan sholat. Juga pada Al-qur'an cantik nan elegan, namun berdebu tebal karena tak pernah dibuka :')

Gedung ini adalah tempat untukku dulu. Mimpi-mimpiku banyak kugantungkan di tempat ini. Namun kini, bukan mimpi lagi yang menggantung, melainkan kisah abstrak yang tak pernah aku tuliskan dalam naskah kehidupanku. Oke, aku tak menuliskan, tapi ternyata... Alloh-lah yang sudah tuliskan itu. Hiks~ Ingin rasanya melantunkan Ar-Rohmaan di dalam gedung itu. Loh? Yasudah, ini impian yang baru tercetus. In syaa Alloh, next time hal itu pasti terwujud. Di dalam Musholla-nya... akan kulantunkan Ar-Rohmaan setelah tunaikan sunnah atau fardhu. Di gedungku pun rasa-rasanya aku belum pernah lantunkan surah itu. Kalau di gedung belahan lain, pernah sih... Ah, ngerancu gini~

Bingkisan Alloh yang lainnya pun tengah menunggu. Sayang, hati ini telah diburamkan dari warnanya yang awal. Sudahlah... toh, Alloh telah wujudkan dan kabulkan do'a. Dia satukan rindu pada muaranya. Ya, seketika itu pula rindunya meluap. Tak tinggalkan bekas, seperti air yang terus dipanaskan. Tak ada sisa air, melainkan partikel-partikel kecilnya yang menguap bersama udara. Begitulah... tak bersisa... tak berbekas... Hanya sajadah dan ruangan itulah yang menjadi saksi bisu. Mereka mendengarkan, tapi memilih untuk diam.



 
Ada do'a di sudut ruang,
Ada rindu di sudut mata,
Ada cita menggelayuti,
Ada kisah yang menyebar,
Ada kita di sana...
Juga hujan dan kampus belantara...
 
 
Ulangi lagi
Balikpapan, 01 Desember 2013
Catatan di awal Bulan,
Pembuka kisah baru,
Penemu rindu...

Jumat, 29 November 2013

Catatan Hari...

Bismillah...

Seorang guru SD itu berdiri dan mengutarakan testimoninya. Ada air mata yang terjatuh dari kedua mata dan suara yang ia keluarkan itu, jelas terdengar getarannya. Ia tengah menyesal. Menyesali perilaku dan sikap yang salah dalam mendidik murid-murid. Ia juga menyesali pengetahuan yang tak pernah didapatkannya dalam mendidik anak-anak usia dini. Bayangkan, dia yang bercerita telah menjadi guru dari tahu 1987 dan sampai sekarang, ia tak pernah diangkat menjadi PNS. Apakah dia merasa bosan menjadi seorang guru yang tak dihargai? Tidak! Beliau terus mengajar, bahkan setelah dia menyadari kesalahan dan kekurangannya, ia tetap berjanji, AKAN TERUS MENGAJAR. Beliau mengakui, bahwa mengajar adalah panggilan jiwa. Tak peduli berapa jumlah uang yang didapatkan, inilah jalan hidupnya. MENGAJAR...
Ibu LINDA~ Guru yang tegas, bersuara merdu, dan semangat menggebu :)
Semoga Alloh selalu menjagamu, Bu...


Tau apa aku tentang beliau? Aku baru melihatnya kemarin. Di acara PKPU yang dengan ijin Alloh, aku dapat berada di sana. Mengenalnya pun tidak. Tapi ada sinyal-sinyal kuat yang menghubungkan perasaanku dengan kalimat-kalimat yang ia keluarkan. Terenyuh, nyaris menangis bersama pilunya hati yang menghiasi ruang aula pada hari itu. Aku merasakan getaran cinta dari seorang guru yang berjanji akan meningkatkan kualitas mengajarnya, demi memperbaiki dan mencetak generasi yang berkualitas pula. Tak ada rasa benci padanya. Bangga dan haru. Guru yang hebat! Betapa beruntungnya sekolahan yang memiliki pengajar seperti beliau. Dan betapa mirisnya, PNS tak pernah disandang oleh guru yang cerdas itu.

Tak pernah kusaksikan suasana pelatihan yang begitu mengharukannya seperti kemarin. Dimana ada cita di sana, cinta yang membungkus dinding dan langit-langit, juga do'a yang selalu terpanjatkan. Ah, andai murid-murid mereka tahu bagaiman harapan, cita, cinta, do'a, perjuangan, rasa sesal, pengorbanan, dan waktu yang mereka habiskan, hanya untuk murid-murid yang terkadang tak bersyukur memiliki guru-guru hebat seperti mereka. (Termasuk aku, hiks...)

Semoga Alloh senantiasa memberikan kekuatan lebih, kesabaran, keikhlasan, cinta yang lebih, kelapangan hati, rizki yang barokah, dan Surga di akhir usia... kelak.
Aamiin~
Untuk semua guru di dunia dan para calon guru...
*tersenyum*

Setelah disadarkan dengan pemandangan yang tak biasa dari guru-guru hebat itu, Alloh hadiahkan lagi pemandangan yang menakjubkan. Subhanalloh... walau tak kuabadikan, tapi ingatan ini masih dapat kugambarkan dengan jelas. Langit bersih yang dihiasi SENJA kemerah-merahan... Ya Robb, nikmatmu yang mana lagi yang dapat aku dustakan? Aku hanya diam. Terpaku memandangi keindahan langit sore. Perjalanan jauh dan lelahnya hari ini, terbayarkan sudah. Hadirnya senja telah cukup melunturkan kepayahan hati dan raga ini. Alhamdulillah...

Sengaja tak ku hentikan perjalanan panjangku. Kunikmati langit Jingga sambil terus mengendarai motor merah ini. Perlahan... senyumku terus mengembang. Betapa indahnya ciptaan Alloh yang satu ini. Pesonanya sampai membuatku seperti orang tak waras. Tersenyum terus sepanjang perjalanan yang sesekali memandangi langit. Ah, ketika tak kuminta, Alloh hadirkan dia. Alloh tau apa yang aku butuhkan.

Kututup hari dengan berjuta keindahan dan perkenalan dengan orang-orang baru. Setiap hari selalu begitu... bertemu dengan hal baru, orang baru, suasana baru, kisah baru, dan semangat baru. Kemanfaatan akan terus tersebar selama bumi masih memiliki orang-orang bersahaja seperti mereka.. para GURU.. dan hal indah seperti kamu... Jingganya SENJA.


Balikpapan, 28 November 2013
Bertemu lagi...
Senja dan Ironi Hati...
Cita dan Harapan Lahir..
Sedih dan Haru Bangga...
~Langit Sore Beranjak Magrib~
Tak tentukan pukulnya
#yosh !

Temukan Aku #9

Bismillah...

Alhamdulillah, dengan menyebut segala puji bagi Alloh yang telah mengatur semuanya dengan sangant apik dan teratur, kulipat kembali ratusan bandel ingatan yang tiba-tiba menyapa dan menari-nari di alam sadarku. Ketika membaca tulisan-tulisan itu, tamparan keras menghujami wajah keimanan. Katanya akhwat, tapi kok gitu? :'(
Semoga bisa lebih baik lagi~

Komentar pedas dari kawannya seorang kawan (mbulet kaan..) yang aduuhh.. menyadarkan diri ini lebih mantap dari kesalaha-kesalahan di masa lalu. Selama ada teman akhwat, kenapa tak tanyakan berbagai hal padanya? Tak perlu interaksi langsung terhadap lawan jenis, selama yg sesama jenis belum dimusnahkan dari muka bumi. Yak, aku pahami itu dan kuresapi lagi. Tak banyak yang bisa kulakukan... hanya merenung, mungkin. Berdo'a agar diri ini benar-benar terjaga dari apapun. Dan Alloh, semoga Kau tak bosan mendengar keluhanku setiap harinya :'(

Beberapa pemberitahuan berderet terpampang. Kupandangi satu per satu. Ah, hati ini tergoda untuk membalasnya. Tahaaann... tahaaaann... kamu pasti bisa! Alloh bersamamu...! Tekad bulatmu tak perlu kau runtuhkan sebab kerinduanmu yang hampir meledak-ledak itu. Alloh punya caranya tersendiri untuk menjawab pinta dan do'a-do'amu yang melangit. Tak usah paksakan diri hanya untuk memuaskan hati yang sifatnya 'sesaat'. Maafkaaan~ Aku hanya menunggu takdir-Nya menjadi nyata saja. Aku tak ingin berkehendak sendiri tanpa meminta persetujuan-Nya. Aku harus adakan rapat dan betul-betul bertukar pikiran dengan-Nya. Karena aku tak ingin kecewa (lagi) atas pilihanku sendiri.

Simbol <3 diduga berasal dari bentuk biji tanaman Silphium yang pada zaman dulu digunakan untuk aborsi. #8D
 
 
Ahaaa~ dan inilah bentuk biji tanaman Silphium itu... Hampir mirip yak :')


'Kurang dari TIGA'... kata-kata yang sempat memerah mudakan hati. Tak apa... bersyukur karena pernah mendapati dan merasakan. Tapi, itulah masa yang tak seharusnya diulang. Disimpan saja... Toh, rindu ini akan sampai pada muaranya... tanpa dipinta~

 
Dan dengarkan lagi hatimu...
Ada cinta tengah memanggil
Menyeru dan terus menyeru...
Memberi tanpa pernah mengharap balas
Tengoklah hatimu...
Ketika kau sibuk mengejar,
Ada yang tengah setia menunggumu...
Menunggu sujud dan tangis isakmu,
Menunggu celotehan usai menunaikan rakaat,
Dia yang selalu kabulkan pintamu...
Tidak kah kau rasakan cinta yang luar biasanya?
Cinta tak bersyarat yang ditawarkannya,
Tak bernilai jika cinta-Nya telah kau dapatkan...
 
Balikpapan, 29 November 2013
05.35 wita
 
Biarlah Alloh yang mengatur ulang~
Rindu, Dira...

Kamis, 28 November 2013

Temukan Aku #8

Untuk kita, yang terlalu malu-malu walau sekedar menyapanya,
Terlanjur bersemu merah,
Dada berdegup kencang,
Keringat dingin di jemari,
Bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian,
Memendam perasaan lewat puisi-puisi,
Dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.

(Tere Liye - Berjuta Rasa)

Bismillaah...
Tentang seorang penulis amatiran yang sampai sekarang terus menggantungkan harap dan mimpinya. Juga tentang hati yang dulu tersapa manis dan kini dirinya lebih memilih untuk meninggalkan dan berpaling dari cintanya. Soal hati yang selalu teriris, dia tutupi dengan senyuman, walau panas tengah membakar kelembutannya. Terbiasakah dia untuk itu? Yap, bisa dibilang begitu... Tak ada kata untuk selalu hidup bahagia dengan cinta yang dia hadirkan. Tekad yang bulat untuk sekedar menjaganya pun, tak ayal menjadikan itu sebagai senjata pembunuh balik bagi dirinya.

Yaaa... dia bisa apa? Terus menatapi kebahagiaan yang lain, walau sisi lain dalam hatinya merasakan perih. Dia bagaikan bunga yang memesona, hadir sebagai sosok wanita yang baru di sebagian hidup mereka. Tak jarang banyak mata tertarik, bahkan rela melabuhkan hati kepadanya. Dikatakan perebut, perusak kebahagiaan, tak tahu diri, dan apakah itu membuatnya semakin terjatuh? Ya, untuk saat itu dia terjatuh. Tapi, untuk apa terus-terusan memikirkan kata mereka? Dia bangkit! Dengan senyum yang mengalahkan sinar matahari, dia kembali membenahi cinta dan hidupnya. Satu hal yang membuatnya tersadar, "Bukan akulah yang datang menghampiri hati mereka, tapi merekalah yang menawarkan hati. Apakah aku salah? Tidak! Merekalah yang bodoh! Melepaskanku untuk yang lain... Mereka bukan orang baik. Tak pantas untuk aku sesali. Aku yang berhak tentukan hidupku. Namun, merekalah yang tak pantas untuk mendekat!"

Sudah berapa banyak tokoh yang dia buat berdasarkan banyaknya hati yang singgah? Berapa banyak tulisan-tulisan yang tak pernah terbaca oleh sang pujaan hati? Berapa kali rasa yang terpendam tak pernah tersampaikan, bahkan tak dapat diraihnya? Juga bagaimana bentuk hatinya ketika ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa dia tak berhak bahagia dengan yang sekarang? Sudah... dia telah lama bangkit. Walau kini dihadapkan kembali pada kesedihan dan luka yang sama. Tak apa, dia akan terus melangkah.

Lupakan rasa sakit itu! Tinggalkan rasa yang pernah tergantung untuk sekedar menunggu kepastian! Ah, hanya ditinggalkan, tapi tak mungkin dapat dilupakan apalagi dibuang. Biarlah mereka terus membenciku. Mereka bisa apa? Akulah yang paling tahu keadaanku. Kenapa? Apakah aku terlalu sinis dan berlebih? Biar~


...Kemelut Hati...
Biarkan terus mencari~
28 November 2013
12.22 wita
Dira~

Temukan Aku #7

Bismillah...

Hari ini? Kuhabiskan waktu siang hingga soreku di Gramedia untuk mencari inspirasi judul cerpen dan kata-kata baru. Berjam-jam aku berkutat dengan buku-buku hasil karya penulis-penulis handal yang keren banget. Buku setebel itu, bagaimana cara mendapat idenya, ya? Haaa... ngiler sumpah! Kelak bukukulah yang akan terpampang di sana. Yak, harus!

Kudapati masa mudaku dalam keadaan serba kecukupan. Adakah Alloh turunkan kekurangan dalam hari-hariku? Tidak pernah! Setiap aku menginginkan sesuatu, diberikan-Nya langsung. Walau terkadang aku sadar, betapa beruntungnya aku. Lalu, masa mudaku yang kuhabiskan bersama mereka, teman-teman yang menemani langkah ini, akankah kembali lagi... nanti? Ketika aku telah berkeluarga dan disibukkan dengan urusan rumah tangga? Ah, membayangkannya saja sudah ngeri~

Tentang sebuah mimpi menjadi seorang penulis, ibu cerdas, wanita karir, guru, semua itu masih belum mampu kugenggam dengan sempurna. Dan hari ini aku tersadar, bahwa aku belum mampu untuk menjadi seorang ibu :'( Masih kurang bijaksana, cekatan, sabar, ikhlas, dan masih banyak lagi. Haaa~ sesak! Kalau kata ibu, buat apa mengeluhkan perihal jodoh? Tuntaskan saja cita-cita yang menggantung itu, jika waktunya telah tepat... akan didatangkan 'dia', sosok yang tak terduga, yang datang dari arah yang tak terduga pula.

Hari ini pun aku belajar hal baru. Dari seorang adik tingkat yang gemar sekali membagi ilmu bahasa Jepangnya. Aku terpesona dengan kepiawaiannya. Diberikannya alamat situs yang dapat kugunakan untuk mendalami bahasa Jepang. And see? Aku tak berhenti mencatat kalimat-kalimat yang tersusun di laman web itu :) An amazing knowledge! Tak ada ruginya memang berteman dan ramah kepada banyak orang...

Eh, hatinya apa kabar? Wah, alhamdulillah baik-baik saja. Aku tengah FOKUS pada peng-hijrah-an diri. Sudah, tak perlu dibahas lagi :) Biarkan air mengalir sampai temui muaranya~
Harusnya sih, gituuu... Tapi Alloh Yang Maha Mengetahui. Semangat!


 

Burung Origami...
Dibuat dengan teknik melipat dan dibutuhkan 22 lipatan (In syaa Alloh) untuk menghasilkan sebuah burung origami. Ada apa dengan burung? Kenapa harus burung?
Karena ia tak pernah lelah mengepakkan sayap mimpinya. Walau badai, hujan, angin kencang sekali pun, ia tak gentar dan tetap menghalaunya.
Burung ini menggambarkan AKU. Mimpi yang kupunya tak kan kubiarkan menggantung. Akan kuterbangkan mimpi-mimpi itu bersama dengan kepakan sayap keoptimisanku, searah maupun bertentangan dengan arah laju angin.
AKU akan terus terbang, tak henti kepakkan sayap, menatap lurus pada tujuan, fokus, tak kenal lelah, semangat, pantang menyerah, dan selalu ingat... Alloh tak akan biarkan diri ini terjatuh. Muslimah tangguh itu seperti Burung ini. Siap mengahadapi perubahan-perubahan ekstrim di sekitarnya dan tau apa yang harus dia perbuat untuk mengatasinya.
Bismillah... #yosh!

(Matkul Pengembangan Diri 302... Sekreatif Apakah AKU?)


Sekian tengokan hari ini...
Semoga kisah-kisah lainnnya akan tetap berlanjut selama usia ini masih bersisa...
Aamiin~

Baik-baik ya, di sana :')
Dira~
Balikpapan, 28 November 2013
01.49 wita

Selasa, 26 November 2013

Temukan Aku #6

Warna hijau di sudut layar itu menggiurkan untuk di'klik'. Seolah-olah dia memanggil untuk sekedar kuintip atau kusapa. Kutarik lagi mata ini dari warna hijau di ujung sana. Aku sibukkan mata yang terlalu lincah ini dengan mengamati hal-hal yang lain. Masih sama... warna hijau itu masih terjaga di sana. Walau kadang menghilang, tapi nanti pasti muncul lagi. Kalau hati ini tak punya benteng sekuat bentengnya Indonesia (hah?), pasti sudah di'klik'.

Haaa~ warna hijau yang memesona...

26 November 2013
02.06 wita
Masih menatapi 'si hijau'
di kamar yang penuh dengan kertas!

Merah, Manis, Tangis...


Bismillah...

Dalam bingkai kemerahan hati,
Kutancapkan nama kesayangan...
Terisak dalam tiap huruf yang terucap,
Tertelungkup bersama hati penuh luka...

Indah merahnya,
Manis sari yang ditawarkan,
Elok bentuknya,
Kini tersadarkan dengan duri ganasnya...

Dia menancap!
Tepat di ruam-ruam lukaku...
Luka yang nyaris pulih,
Kini kembali menganga,
Merahnya mengalir,
Menyatu dengan merah kelopaknya...

Harusnya kau hiasi aku...
Tawarkan senyum merekah
Ketika kuncup menjadi rekahan kelopak sempurna
Ketika wangi menyusupi tiap rongga paruku

Kenapa kau begini?
Aku tengah tawarkan pot cantik,

Pupuk unggulan,
Tetesan air dari pusaranya,
Dan cinta untuk hidupmu...
Apa yang kurang?

 


Ada aku,
Kau cari siapa?
Rindu...
Dira~
26 November 2013
01.14 wita

Mau Dipendam Sampai Kapan? #2

Kudapati dua orang laki-laki tengah duduk di atas motor biru. Menunggu seseorang rupanya. Aku tersenyum kepada mereka. Mereka pun tersenyum padaku. Kuanggukkan kepalaku.
"Dan, ya? Ayok, langsung saja."
Tanpa basa-basi lagi, aku memutar motorku dan mendahului mereka menuju rumahku. Kulirik merek melalui kaca spionku. Laju motornya sangat lambat, apa gara-gara rute ke rumahku yang terlalu ekstrim, ya?

Di depan rumah...
Dengan gagahnya aku memarkirkan motorku dan diikuri oleh Dan di posisi parkir yang lain. Sampai detik itu aku masih belum berbicara apapun kepada dia dan temannya. Dengan mengumpulkan keberanian diri yang digumpal-gumpal jadi satu, akhirnya aku berbicara.
"Ayo, masuk."
Jeddeeeng... cuma itu saja? Iya, itu dulu buat permulaannya. Deg-degan, meeen...
Mereka membalas epilogku dengan anggukan kepala, mesam-mesem, dan saling dorong. Oke, itu sudah biasa terjadi di kota-kota besar. (Nahlo?)

Di ruang tamu...
Mereka duduk. Aku masuk ke ruang keluarga untuk meletakkan kunci motorku, lalu ke ruang tamu lagi. Mereka menatapku. Aku tersenyum (lagi). Kubulatkan tekad lagi untuk memulai percakapan.
"Maaf ya, tadi lama."
"Eh, iya nggak apa-apa. Oh iya kenalin, ini Rahn," katanya sambil mengangguk ke arah temannya. Senyum jenaka.
"Salam kenal. Saya Dira," jawabku dengan senyuman (lagi?).
"Jadi, tadi survei-nya berapa kali?" tanyaku.
"Tiga kali, Dir. Sekali yang sebelum sholat, kedua.. tadi sebelum nelpon kamu, dan ketiga.. pas sudah sampai di atas, kaminya balik lagi ke bawah."
Aku tertawa. "Waah, tinggal dikit lagi, loh. Ujung-ujungnya saya jemput juga, kan? Pengen repot banget, nih.."
"Hehe, habisnya kami nggak enak kalau harus menyusahkan. Jadinya ya, usaha dulu. Walaupun ujung-ujungnya tetap menyusahkan, sih. Hehehe..."
Aku tersenyum (lagi-lagi?). Suasana sudah mulai mencair. Rasa deg-degan dan khawatir bakalan gagap mendadak lenyap. Obrolan-obrolan pun mulai beruntunan keluar dari masing-masing kami. Tak ada rasa canggung lagi. Kami mengobrolkan apa saja. Mulai dari kampus, teman-teman di kampus, rencana beberapa tahun ke depan, tempat tinggal, sampai akhirnya ibuku keluar dan mengajak mereka mengobrol.

Temukan aku #5

Bismillah...

Jambore Remaja Muslim akhirnya selesai sudaaahh.. Rasanya nggak mau pisah dengan mereka. Kelompok yang #yosh banget! Mau ngapa-ngapain, pasti nungguin bindamnya dulu :) hehehe...
"Perkenalkan, Kami dari kelompok?? DUAA!! Nama bindam kami, Kak DIAN IKA!" Prookk... prookk... prookk...!! Epilog andalan mereka ketika disuruh menyanyikan yel-yel. Bangga! Apalagi pas mereka nyebutin namaku berkali-kali. Aku pasti langsung action. Masang pose cool.. Ehehehe...
Hampir nyerah rasanya ngebimbing mereka. Tapi, Innalloha ma'anaa :) Dipermudahkan segala hal dan akhirnya kami bisa jadi kelompok yang kompak.

Oke, perkenalkan kami Kelompok Dua yang dibimbing oleh saya, Dian Ika Setiawati, Ketua Dony, dan Adik-adik lainnya yang luar biasa (Maimunah, Rudah, Sephia, Herlyna, Isthafa, Agus, Dede, Rafli, Jovan, Nurfan, Said, Surya). Cukup 2 hari 1 malam saja untuk menjalin kerjasama, kasih sayang, kedisiplinan, kepercayaan, ikatan persaudaraan, mengenal satu sama lain, dan tentunya bercerita banyak hal. Mereka nggak ada duanya, deh. Dari yang nggak mau gerak sama sekali (red: males gerak/show up) sampai yang gila maju ke depan, hehehe. Gimana nggak? Tiap disuruh maju, merek kugeret atau langsung tak tunjuk. Apa nggak mati kutu mereka? :D
Tapi merekanya terima-terima saja, kok. Aku kan baik~ *apa hubungannya?*

Kemana mereka pergi, aku ikutin. Mereka bikin pohon mimpi, aku ikutan nulis. Mereka bakar kertas yang berisi tulisan-tulisan kegagalan di masa lampau, aku juga ikutan, mereka makan aku juga makan di antara mereka, sampai mereka pulang pun, rasanya tak mau melepaskan mereka. Sudah ada ikatan. Mereka yang loyo kuadrat, bisa jadi pemuda-pemudi yang semangat berkobar-kobar. Bangga punya kalian! :)

Rasa lelah bersama kalian, terbayar sudah dengan kerja keras kalian untuk tampil di mana saja. Hehe.. Oh iya, teman berbagi keluh dan peluh selama di kamar asrama haji, aku sudah ingat loh. Ada Retno yang kereeen banget. Dia pindahan dari UPN Jogja.. maaf, kisah tentangnya kusimpan yak :)
Terus, ada Devi yang paling muda di antara kita. Dia ceria meeen~ nggak jauh beda sama aku :p
Yang terakhir Mbak Emi, beliau sabar banget. Perlu belajar banyak dari beliau..

Hanya jepret-jepretan saja yang bisa menceritakan kebersamaan kami dan kisah-kisah bahagia kami di sana. Kelompok 2 yang AMAZING, Kamar No. 1 di Asraman QUBA, teman-teman se-kampus yang mulai banyak aku kenal (semoga Alloh menjaga kalian selalu~), dan Asrama Hajinya sendiri... kelak aku akan tidur di sana lagi dengan Ibu dan saudara-saudara yang lain, dan pasti akan kujajaki Mekkah yang sesungguhnya :) Aamiin~

Pelajaran apa yang tak kudapat di sana? Hampir semuanya kudapatkan. Kisah yang #yosh banget!

Semoga kita bertemu lagi :')


Alhamdulillah...
Balikpapan... Kenangan baru (lagi)
23-24 November 2013
Mengukir sejarah baru~

Minggu, 24 November 2013

Temukan Aku #4



23 November 2013...
Hari bersejarah lagi :) Setelah dua tahun aku habiskan waktuku di kampus tercinta dan memilih untuk selalu ikut serta di dalam Paduan Suara setiap acara wisudaan, kali ini aku tampil beda. Heyak! Setelah ditawari untuk menjadi penerima tamu dan pembawa baki yang berisi ijazah kakak-kakak tingkat, aku menuliskan sebuah kisah baru lagi :') Dengan jilbab syar'i yang tak mau kutanggalkan beserta prinsip untuk 'tidak ber-tabaruj', akupun optimis untuk tidak berdandan. Oke, tak terlalu cantik memang. Tapi aku yakin, cantik tak selamanya harus berdandan secara berlebihan. Be natural sajalah~ Toh, ini jalan yang dipilih saat ini :') SYAR'I! Dan aku juga membuktikan bahwa jilbab syar'i tak menghalangimu untuk selalu tampil di depan umum dan hal itu tak mengurangi kecantikanmu. Hem, aku akui bahwa aku tak cantik, tapi aku punya ini *nunjuk hati* yang Insya Alloh akan selalu memancarkan cahaya kecantikan dari dalam sehingga siapa pun yang memandangnya akan mencintai kecantikan itu secara utuh dan LUAR BIASA.. Dan satu lagi! Tak perlu korbankan ke-syar'i-anmu untuk sekedar tampil cantik dan memukau di depan khalayak banyak. Prinsip ya prinsip. Walau hanya sekali, tapi rasanya kok mengerikan yak? Ya, aku nggak menyalahkan yang lain. Itu prinsip tiap orang. Berbeda-beda~
Dan kalau ada yang bilang, "Jilbab syar'i itu membatasi ruang gerak kita", kata siapa? Buktinya hal itu nggak terjadi padaku. Malahan kesempatan-kesempatan emas selalu datang menghampiri. Pernyataan yang seperti itulah yang menjadi doktrin nyata di otak setiap orang. Prasangkanya sudah jelek duluan sih, jadinya ya beneran terjadi, deh.

Eh, kok jadi ngomongin jilbab syar'i? Nggak apa-apa, deh. Sekalian promosi, ehehe~
And see? I never look ugly with my long hijab :')
ISTIQOMAH adalah kuncinya :)

... Wisuda angkatan 5 STIE MADANI Balikpapan...
Jatuh cinta lagi~
My long hijab :') #yosh !

Temukan Aku #3

Bismillah..

Nggak pernah kepikiran bakalan terdampar di ruangan ini. Asrama QUBA dengan nomor kamar 1 di Embarkasih Haji Bataka. Mimpi apa aku, sampai-sampai sang kakak yang sangat mengkhawatirkan adiknya ini akan mengijinkan adiknya untuk menginap dan melalui rutinitas yang sangat-sangat melelahkan di hari ini. Asli, jam segini aku belum tidur. Dan tepat pukul 00.00 wita kami baru kelar rapat. Capek? Bangeeeett~ Tapi pengalaman yang luar biasanya itu loh yang nggak bakalan dilupakan. Kelak hari ini akan aku kisahkan kembali kepada anak-cucuku, bahwa aku bukan sembarang akhwat yang dengan mudahnya menjalani dan melewati tiap ujian bahkan amanah-amanah yang terkadang tak mampu aku tuntaskan.

Oke... kalau menceritakan hari ini, aku akan ulas semuanya. Aku diamanahi untuk menjadi seorang bindam di kelompok 2. Suweeerr, mereka parah banget. Letoy, nggak ada semangatnya sama sekali. Bener-bener nggak fokus. But, actually they're so funny :) Mereka enjoy banget kalau diajak bercanda dan kerjasama. Awalnya sih mereka canggung, tapi lama-kelamaan... mereka sama kayak aku, gilak! Kerjaannya becanda, giliran disuruh mikir, pada lemes.. bener-bener, deh~

Aku sekamar dengan 3 orang gadis. Namanya retno, dan dua lagi... emm, afwaan aku lupa nama kalian :'( Besok aku ingetin betul-betul, deh. Kalau anggota di kelompok 2, nama para gadisnya aku hafal. Ada sephia yang kalem banget, terus herliana yang gilaknya, eh warasnya subhanalloh, hm... ada raudah yang pendiem, dan duh.. satu lagi namanya siapa yak? asli, lupa! Besok, aku tengok di absennya, deh.. Em, ngomong-ngomong soal absen, aku telah menghilangkannya DUA KALI. Aku ulangi lagi, ya.. DUA KALI saudara-saudara :'( Dan ekspresiku? Luar binasa paniknya..! Sampai-sampai semua orang kutanyain. (nggak semuanya juga, sih) Yang parahnya lagi, kehilangan yang ke dua kalinya itu, dia nyaris terbakar di api unggun. Keadaannya sudah mengenaskan. Kumal, kotor, ada bekas terinjak-injak, dan panas. Hiks, alhamdulillah... Alloh menyelamatkanmu. Mungkin saja tadi kau sudah di dalam api, tapi Alloh turunkan mukjizat sehingga dirimu dilemparkan lagi ke jalanan berkerikil itu. Ya... bisa jadi.

Ini kisah MENGINAPku hari ini. Masih ada keseruan yang menanti di esok hari. Semoga masih diberi umur panjang, yak :) Aamiin~
Walau hanya sekedar menengok, tak ada salahnya kan?

Jambore Remaja Muslim...
Asrama Haji Batakan...
Balikpapan, 24 November 2013
Di tengah rasa capek dan keram di sekujur tubuh~
00.33 wita

Bersabarlah! :') #yosh !

Sabtu, 23 November 2013

Temukan Aku #2

Bismillah...

Harusnya aku menghilang dari ranah pengeksisan diri? Haha, bukan berarti saya harus mangkir dari dunia maya yang lama aku gandrungi. Bukan caraku untuk tiba-tiba menghilang, lalu muncul kembali. Maaf, aku hanya sedang menata diri. Mencari jalan kemilau yang mengarahkanku pada kebaikan dan tak melunturkan cintaku pada-Nya.

Tengok saja kabarku di sini. Karena mungkin kau tak akan dapati apapun di sana. Di sana sudah tidak nyaman untuk dijadikan tempat berbagi. Aku rasa di sini lebih nyaman. Mereka hanya bisa melihat, tanpa harus kuliahat komentar-komentar mereka. Ah, tak pedulilah!

Ehm, tentang kamu... tentang aku...
Sudahlah...
Biarkan rintik-rintik hati yang berjatuhan ini temukan sendiri muaranya~


Tak lagi sempurna...
23 November 2013
06.14 wita
Berhenti~

Jumat, 22 November 2013

Temukan Aku #1

Malam terakhir...
 
Aku bersyukur mengenalmu... Mengetahui banyak hal tentangmu... Mendengarkan kisah luar biasa yang kau dongengkan untukku... Juga 'kurang dari tiga'nya....
Jika kau suruh aku untuk membencimu, maaf aku benar-benar tak bisa. Hati yang memilih. Bukan lagi akal atau peruntungan.
Kalau penilaian mereka akulah yang salah, yah... terserah. Aku sudah cukup kuat untuk menghadapi mereka sendiri... lagi. Kata-katamu malam itu, memantapkan hati ini untuk terus maju. Tak ada kata untuk mangkir.
Bahagia itu ternyata tak terlalu lama bersemi. Kenapa? Mungkin kau muak saat membaca tulisan ini. Karena aku tahu, kau sering menengoknya. Sekarang kau pasti sedang mengernyitkan dahi dan tersenyum tipis.
Cukup tengok tulisan-tulisanku di blog ini saja. Karena mungkin, inilah malam terakhirku untuk eksis. Kekuatanku sedang kembali penuh. Butuh pengisian enegi tambahan agar aku tak cepat lelah dan menyerah.
Jaga diri, yak! Ah, harusnya kata-kata itu buatku.
Ya, tulisan ini untukmu. Sosok yang memesonakan banyak hati wanita. Dan mereka yang berharap lebih padamu. Tapi aku tidak! Aku tak mau menggantungkan harapan terlalu tinggi. Kubiarkan saja dia menggantung, tanpa tersentuh, dan tak mungkin tergapai.
Semoga Alloh menjaga hatimu, ragamu, imanmu, semangatmu, cita-citamu, mimpimu, dan semua yang ada di sektarmu.
Aku tak menyerah! Melainkan sadar diri dan memilih untuk undur diri. Baik dari hidupmu, maupun mimpimu...
 
Temui aku dengan kisah barumu~

 
Hijrah lagi...
Hingga Alloh katakan 'sudah waktunya'...
Entah itu denganmu,
Atau yang lain...
Hijrah terus...
Sampai iman tertutup sempurna...
Masa menggamit cita...
Dan Hijrah tak pernah putus~
 
Dian Ika S.
teruntuk dia yang dititipkan di hati
Bi~
 
22 November 2013
Malam terakhir...
22.17 wita
di Kamar Pink, Singgasana...
Itu Ranu Kumbolo, kan? Kelak aku akan ke sana juga untuk melihat dan menikmati pemandangan yang sama. Seperti saat kau ceritakan tentang pesonanya dan rasa lelahmu. Aku akan resapi tiap perjalananku dengan mengingat-ingat kembali cerita yang kau ceritakan dengan menggebu itu. Ah, beruntungnya aku. Selalu menikmati tiap kisah yang kau hadiahkan, walau bagi sebagian orang hal itu sangatlah tak berarti. Waktu-waktu yang kita lewati ketika berbagi kisah itulah yang sangan berarti. Selalu ada yang baru. Dan ekspresi itu... two thumbs up!

Diary Hujan #Rintiknya Belum Kembali

Ada rasa ngilu... Padahal rasa itu sudah tertepis jauh. Tapi, ketika posisi itu tergantikan, apakah akan diterima dengan baik oleh hati ini? Mengapa rasanya masih sama? Sakit. Sudah, mau diteruskan lagi, semuanya sama. Tak ada hasil. Yang ada hanya perih. Mau bertahan sampai kapan? Sedang aku tengah berada dalam perlombaan dalam memperebutkan hatinya. Buat apa ikut serta? Walau do'a tak pernah putus, tapi apa hakku untuk meminta sesuatu yang belum tentu akan ada di masa depanku? Kalian tampak serasi, sungguh. Entah, kata-kata apalagi yang pantas untuk menggambarkan siluet kalian. Harusnya aku pergi! Ah, mau kemana? Entahlah... kaki ini pun enggan untuk beranjak. Jemari ini pun mulai lelah menuliskan hal-hal perih tentangmu. Sebenarnya ada suka, tapi... ah!

Aku terkalahkan lagi. Sama seperti waktu itu. Ada yang tertawa di tengah hatiku yang mendung dan teriris cacah. Senyuman khas para pemenang. Dan aku, selalu menikmati itu. Selalu menerima itu dengan kelapangan dada yang luar biasa. Air mata yang selalu tertahan, isak yang terdengar dalam hati, dan rintihan yang tak bertuan. Aku paham betul posisiku saat ini. Tersudut dan disalahkan! Dan aku, tak berhak berbahagia atas semuanya. Kebahagiaan ini hanya semu. Dalam hitungan detik akan hilang. Maaf~

Tak terlalu banyak tulisan yang bisa menggambarkan dirimu. Tak terlalu banyak pula orang-orang yang paham, bagaimana rasanya menjadi diri ini. Yang mereka tahu, ah, apa peduliku? Kenapa juga aku harus peduli posisiku saat ini? Mau kalah atau menang, itu tak menentukan siapa yang akan mengisi kekosongan ini.

Berhentilah memberikan harapan itu padaku. Aku mungkin lebih suka menganggapmu biasa saat ini. Walaupun semuanya sudah terlanjur. Jika dia lebih memilih menceritakan hal-hal ini pada yang lain, sungguh... aku lebih memilih Tuhanku sebagai tempat curahan segalanya dan kamu sebagai pengurang beban-beban ini. Aku sudah terbiasa denganmu. Aku memandangmu berbeda. Dan aku lakukan hal yang berbeda pula terhadapmu.

Diary Hujan...
Rintiknya belum kembali~
DI.RA\\
22 November 2013
17.14 wita

Kamis, 21 November 2013

Lautan Hujan DI.RA

Bismillah..

Hari yang diselimuti mendung di seluruh penjuru langitnya. Ada rasa nyaman... Bau hujan, lembab, dan tanaman-tanaman rindang yang basah, ah... aku menyukainya. Tentang sebuah perjuangan, tentang sebuah pengorbanan dan tentang sebuah penantian. Kenapa masih mengharapkannya? Pertanyaan klasik!

Hujan yang semakin deras, mungkin akan berakhir. Tapi, balada hati yang semakin semerawut ini, apakah akan usai? Sedang sebagian lainnya telah terbawa pergi tanpa tahu harus dilabuhkan kemana. Ada yang salah memang. Tapi, air yang jatuh tak pernah memilih untuk dijatuhkan dimana. Mata yang tengah tertutup dari pemandangan memukau lainnya, jika disalahkan sekalipun, mungkin dia tak akan menerimanya. Cukup satu. Walau tak hanya satu yang memercayakan penglihatan itu terhadapmu.

Mungkin menghilang sejenak adalah pilihan terbaik. Toh, kita tak akan dipertemukan lagi. Jalan kita sudah dibelokkan sejauh mungkin. Semoga saja tak ada lagi temu muka. Haaa~ polemik hati. Lingkaran yang awalny amembuatku nyaman pun, sekarang sudah tak berarti. Tak ada kekuatan dalam menyokongku di sana. Aku mulai kalut...


Di satu sisi, hati ini mantap untuk memilih jalur lain. Meninggalkan lingkaran yang lama dan mungkin, kita akan benar-benar dijauhkan. Menurutku itu baik. Kau bisa memilih jalanmu tanpa menghiraukan rasaku atau rasamu yang masih mengambang itu. Kau bisa kepakkan sayap masa depanmu selebar yang kau mau tanpa memerdulikan kehadiranku. Dan kau bisa bersama yang lain, yang sejalan dengan prinsipmu, yang searah dengan jalurmu, dan yang kau cintai tentunya. Tak perlu tanyakan bagaimana keadaan hatiku saat ini. Tenang... ada hujan yang selalu menggambarkan situasi saat ini. Lagi-lagi hujan, bukan senja :')

Ini bukan langkah untuk melarikan diri darimu. Hanya sebuah pilihan tersulit yang pernah disuguhkan di hadapanku. Aku bisa apa? Hanya bisa memilih! Aku tak bisa mengikutimu dan kau pun tak bisa mengikutiku. Aku lepaskan kau dengan berjuta rasa yang terpaut, dengan sejuta angan yang perna tergantung, dan dengan sejuta do'a yang selalu tercurah untuk keindahan masa depan. Ini curhat kah? Yah, sesuka kau sajalah mau menganggapnya bagaimana. Aku tak akan pikirkan lagi tanggapan mereka, orang-orang, dan siapa pun itu. Telinga ini sudah kebal dan nyaris tertutup.

Tak apa jika senja tak mampu menyenangkan hati lagi. Masih ada hujan yang setia menjatuhkan dirinya untuk kutampung dalam dekapan sepiku. Halah! Bahasanya kealayan banget! Aku tak sendiri.. Kelak aku pun akan menjadi sepertimu. Hidup dengan berjuta mimpi dan cara untuk meraihnya :') Dan satu lagi, aku memilihmu, masih memilihmu.

Di persimpangan jalan itu,
Kupandangi punggungmu...
Pernah ada harap yang menggamitnya
Pernah ada cinta di ruas-ruasnya...

Tapi hati yang tak tergapai,
Semu pun terasa syahdu di sini...
Terbiasa dengan derai air mata,
Terbiasa menunduk menyembunyikan...

Jalan yang tak pertemukan kita...
Leraikan dua tautan jiwa...
Hampir patah,
Terpapah lemah...

Akankan DI.RA kembali?
Lautan Hujan~
21 November 2013
09.44 wita
Akhirnya... aku melepasmu~

Rabu, 13 November 2013

Dira... Rindu?

Bismillah...

Di taman yang sama...
Aku duduk diantara diam menghitung debit
Ada rangkaian air yang mencuat ke atas
Juga bulir-bulirnya yang terhempas ke bumi

Kupandangi lagi ribuan airnya
Piasannya menyusup ke kulit
Menyentuh wajah juga hati
Menyisakan basah dan seri

Bangku yang kita duduki,
Ada bayangmu memukau
Ada senyummu yang menggoda hati
Beserta cerita dan filosofi air, juga kita...

Aku rindu~
:')

 
Terhempas lagi ingatan ini pada masa itu,
Pertama kali bersama menikmati air,
Menyembulkan rona bahagia dan tawa secerah dirimu,
Tak lunturkan rasa rindu yang hampir mendobrak...
Ingin temui pemiliknya...
Pujaannya...
 
 
Apa kabar DIRA? :')
 
 
Balikpapan, 12 November 2013
Langit Malam
Taman...

Minggu, 03 November 2013

To Everyone in My World :)


Bismillah...

Apa kabar kawan?
Semoga dalam keadaan baik dan Alloh selalu menyertai dalam setiap langkah dan perjuanganmu.
Aamiin~

Teruntuk kalian yang pernah singgah sesaat di hidup ini...
Tak banyak kata yang harus aku tuangkan untuk kalian. tapi, inilah ungakapan dan penghargaan atas kebaikan hati kalian yang nilainya tak seberapa. Bukan sekedar coretan tak bernilai, melainkan catatan kecil yang mungkin akan kalian tengok dan jadikan pengobat rindu padaku (ngarep).
Tiap cinta, kenangan, kebahagiaan, rasa nyaman, aman, kekaguman, rasa hormat, kepercayaan, tawa, bahagia, percaya diri, dan semangat baru... telah kalian tularkan padaku. Walau kini keberadaan kalian entah ada dimana, tapi aku yakin... kelak, Alloh akan pertemukan kita. Entah pertemuan singkat atau akan dijadikan saudara dan kawan lagi, biarlah Alloh yang mengatur.
Berapa banyak cerita yang telah kita rajut hingga menjadi buntelan-buntelan pengalaman serta ingatan dalam memori otak yang mungkin tengah menyelip saat ini?
Satu, dua, tiga, seratus, dua ratus? Ah, berapa pun banyaknya itu, tak akan berarti saat kita kembali bertemu dan menguraikan kembali kisah-kisah lama kita sembari menikmati senja atau malam yang ditemani dengan minuman favorit kita, juga cemilan-cemilan ringan yang mendukung. Aku akan menantikan itu, kawan... :)

Teruntuk kalian yang dulu pernah menjadi sahabat, lalu pergi...
AH, kebersamaan kita tak terhitung berapa lama dan seringnya. Susah, senang, tawa, bahagia, canda, tangis bahagia dan lara, perjuangan, cita-cita, mimpi, angan omong kosong, cerita cinta, cinlok, ngambek, cemburu, marah, berlari, kehujanan, kepanasan, makan bareng, saling olok, ah... benar-benar tak terhitung apa saja yang telah kita lewati. Begitu pula dengan mimpi kita yang akan selalu bersahabat hingga nanti kita menikan dan akhirnya memiliki anak, lalu anak-anak kita pun akan saling bersahabat pula. Manis sekali...
Tapi sayang, mimpi hanya menjadi sekedar mimpi. Aku yang tak pernah menghubungimu lagi karena taku t mengganggu aktivitasmu yang sekarang dan kebahagiaanmu dengan sahabat-sahabat barumu, juga waktu yang kupunya sudah tak sebanyak dulu. Huh! Sesak rasanya ketika mengingat memori-memori indah yang telah kalian tinggalkan dengan manis di ingatanku. Dan ternyata, kaupun melakukan hal yang sama terhadapku. Lebih memilih untuk tidak menghubungi satu sama lain.

Dan sahabatku yang termanis..
Tak ada kata 'substitusi' di hati ini
Kelak jika kau kembali ingat padaku,
Dan kembali pada posisimu dulu,
Dengan tangan yang terbuka lebar...
Aku akan menyambutmu,
Dan meletakkanmu kembali,
Pada ruang spesial yang sedari dulu kusiapkan,
Hanya untukmu...

Teruntuk kalian yang sedari dulu melengkapi hati dan hidup ini...
Betapa seringnya aku ditinggalkan. Hal itu, menjadikanku tangguh tak tertandingi. Begitu pula dengan datang. Begitu banyaknya sampai-sampai aku sering melupakan kehadiran mereka. Terlepas dari mereka yang hilir mudik datang dan pergi, ada mereka yang hingga kini tetap pada posisinya. Tak meninggalkanku walau sejengkal langkah sekalipun saat aku di puncak ataupun ketika aku berada di posisi terendah bumi.
Ya, aku mengenal mereka dengan istilah KELUARGA. Mereka tak pernah berhenti menyokongku dalam perihal materil maupun moril. Apapun yang terjadi, mereka berada di belakangku tanpa meminta lebih. Tak ada kata bosan dan lelah. Demi Alloh, semua suasana hati dan perjuangan, hingga persoalan hidup yang memekik hati, sudah kualami di lingkaran ini. Hal-hal yang belum mereka rasakan, aku sudah lewati itu semua. Ah, mungkin belum semua... beberapa. Dari sinilah langkah dan niat ini terbentuk dengan gagahnya. Tak ada lagi hati yang lemah atau langkah gontai tak tahu arah. Mereka mengajarkanku banyak hal. Dan mereka pulalah yang memberikanku keluasan dalam memilih dan menentukan hidup.
Selain mereka ada dua lagi yang tak pernah meninggalkanku walau satu detik pun. Jangankan satu detik. 0,000000000000001 detik pun Mereka tak pernah tinggalkanku. Siapakah Mereka? Ya, ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALAA dan ROSULULLOH. Haruskah diuraikan segala Ramhat, Karunia, Hidayah, Rizki, Kesempatan, Do'a, dan apapun yang aku dapatkan di dunia ini dan akhirat kelak? Allohu Rabbi... tak ada kata sesal telah Kau ciptakan aku untuk meniti kehidupan di dunia ini, serta menjadi salah seorang Umat Rosul. Alhamdulillah... Alloohumma Sholli 'alaa Muhammad.

Tik... tok... tik... tok...
Detik pada jarum jam menghentak
Tak berhenti walau langkah ini selalu terhenti
Tersadar akan satu hal...
Masa tak mengikuti mauku...
Detik itu akan terus menghentak
Sampai habis masa dunia
Sampai diri ini ditentukan...
Atas dasar keimanan,
taqwa yang terbawa dari keluarga,
dan kecintaan pada akhirat...

Teruntuk kalian yang saat ini ada di langkah yang sama...
Kalian luar biasa! Pendatang baru yang perlahan-lahan mengambil posisi sebagai penyokong hati, menguatkan dalam setiap langkah, tak pernah berhenti untuk mengigatkan akan kebaikan, dan senantiasa bersabar dalam menghadapi kebobrokan iman dan diri.
Tanpa kusadari... diri ini telah banyak berhutang budi pada kalian. Dan aku, aku seperti 'kacang yang lupa akan kulitnya'. Lupa akan kebaikan yang kalian bawa untukku, pura-pura tak mengtahui keberadaan kalian, menutup mata dari segala hal yang behubungan dengan kalian, dan melarikan diri dari kalian.
Maafkan diri ini yang terlalu salah dalam menilai kebaikan yang tengah kalian tebar untukku. Maafkan segala khilaf yang telah kuperbuat terhadap kesucian diri kalian. Maafkan...
Entah, bagaiman ceritanya sehingga aku dapat dilupakan dari itu semua. Kalian yang berarti, tiba-tiba saja menjadi tak berarti di mataku. Tapi, apakah itu berpengaruh terhadap kehidupan kalian? Jelas tidak! Karena keberadaan kalian akan lebih bermanfaat di mata yang lain.
Satu hal yang kutahu saat ini... aku akan menguatkan segala tali yang mulai terurai longgar ini dan akan kusatukan lagi simpul yang mulai berantakan. Persaudaraan dan persahabatan yang sekarang, akan menjadi sejarah baru dalam hidupku. Melukiskan tiap perjuangan kita dengan indahnya dan akan tersimpan dengan cantik di tiap buku bersampul cantik yang menggoda siapapun untuk membacanya.
Kita satu, tapi aku yang menceraikannya. Maaf....

Teruntuk kalian yang menggantikan posisi itu...
Kenapa harus kalian? Tidakkah hanya ada satu orang yang menggantikan posisi itu? Ah, tidak! Dengan berbekal pengalaman ditinggalkan dan kehilangan, aku mencoba untuk menutup diri. Tapi kenyataannya? Alloh berikan pengganti. Mereka para sahabat baru yang selalu menyemangati, menjadi tempat sampah abadi, berbagi apapun, kawan berpetualang, dan masih banyak lagi, kini tengah berada di zona ternyaman dalam bagian hidupku. Mereka yang menjadi penyemangat dengan berbagai versi sifat dan cara mereka, benar-benar sukses mencairkan hati yang beku. Hei, makasih ya! :)
Dan untuk pengganti yang lain, sudah... biar Alloh, aku, kamu, malaikat, dan para setan yang selalu mengusik saja yang tahu segalanya. Biarlah yang lain hanya tahu kisah dari 'katanya' tanpa tahu kebenarannya. Cukup menyampaikannya dalam tiap do'aku dan do'amu. Sudah... disudahi saja. :)

Teruntuk kalian yang berteman atas dasar rasa penasaran kalian terhadap masalah dan diriku...
Terima kasih atas waktu yang kalian punya untuk terus memperhatikan tiap gerikku. Entah itu hanya untuk memuaskan rasa keingintahuan kalian atau apa, aku tak peduli. Yang kulakukan hanya berbaik sangka saja pada kalian. Semoga dengan dasar tujuan awal kalian itu, kita bisa menjadi teman bahkan sahabat.
Keingintahuan itu akan semakin terpuaskan jika kalian benar-benar berkenalan denganku dan mencari apapun yang ingin kalian ketahui hanya dengan menanyaiku secara langsung. :)
Aku tak membatasi diriku untuk berteman dengan siapapun. Laki-laki maupun perempuan, bagiku sama saja. Hanya saja, aku membatasi perilakuku terhadap kalian. Perlakuanku terhadap teman perempuan tidak akan sama dengan teman lelaki. Jelas ada batasannya...
Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih~ :)


Teruntuk kalian yang berseliweran dalam duniaku,
Apapun argumenmu... aku mencintai kalian karena Alloh...
Tak ada alasanku untuk menyerah terhadap takdir
Walau takdir itu pasti,
Namun apalah arti hidup ini jika dipenuhi kesia-siaan?

Beragam cinta dan benci,
Kutahu itu semua berasal dari-Nya...
Tanpa itu, apalah artinya kehidupan yang fana ini?
Hanya lingkaran membosankan....

Terima kasih...
Tak perlu belajar terbang dari sang burung
Aku punya cara tersendiri
Terbang dengan mimpi-mimpiku...
terbang bersama kalian...
Terbang bersamamu...

Dan bersama, kita terbang...

Diani's
Balikpapan, 03 November 2013

Tak takut dengan masa lalu,
Optimis dengan masa depan,
Dan bersyukur dengan yang sekarang...
#yosh !

Selasa, 29 Oktober 2013

Bersama Hujan :)

Bersama hujan,
Pernah melukiskan kisah
Saat gemuruh halilintar tengah memecah langit,
Kau yang diam di gelapnya malam
Kau yang tak ditemani seorang pun untuk berbagi senyap
Kau terhanyut dalam kisahku

Segelas teh panas kuberi,
Kubagikan kehangatan untuk melawan dinginnya malam
Malam yang lembab
Dipenuhi air di seluruh langit
Dan aku yang berada pada kursi yang berbeda

Aku menggambarkan apa?
Ya, antara kamu dan rintik hujan
Bersinergi sama..
Ah~

Hujan yang dirindukan..
datanglah lagi...

Rabu, 09 Oktober 2013

Titik-Titik Kisah #yosh

Bismillah...

Hari ke-9 di bulan Oktober. Apa kabar cinta? Masihkah tergantung dengan manisnya di hati masing-masing? Maihkan menunggu dalam diam dan doa? Atau menyerah dan meninggalkan perasaan yang perlahan tersadarkan oleh takdir yang berkata lain. Apa yang kau rasakan hari ini? Waktu berlalu begitu cepat bukan? Begitu saja meninggalkan kenangan dan berjalan maju menuju masa depan. Ah, seoptimis apa aku untuk menjamin masa depanku tanpa kenangan yang sempat diharap lebih itu? Sudahlah... aku baik-baik saja, kok.

Sudah deh, berpuitis-puitisnya. Kembali ke manusia normal yang nggak terlalu memikirkan EYD, penulisan yang baik, tanda baca yang diletakkan dengan tepat, bahh... apapun itu deh, pokoknya mau ditinggalkan sejenak.

Hem, ini nih ilmu baru yang barusan aku dapat.
Ruslan Abdul Gani dan Soekarno, "Kerbau menyusu anak kerbau."
Apa coba maksudnya? Ini istilah yang baru saja disampaikan sama Pak Dosen. Awal ceritanya sih gara-gara kau yang menjelaskan soal proses perancangan program pelatihan. Dan tau nggak dosenku bilang apa? HEBAT!
Maha Besar Alloh yang memberikan kelebihan dan anugerahnya yang tiada hentinya untuk seseorang yang dulu sempat melalaikan perintah dan ninggalin semuanya. Nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang kamu dustakan?

Eh, kembali ke arti istilah di atas. Artinya... yang tua mengambil pelajaran atau ilmu dari yang muda. Jadi, mungkin sih, pak dosen ngambil ilmu yang tadi aku sampaikan. Mungkin loh, ya.. Nggak mau GEER, bah :'(

Sudah... sudah... hatiku sudah membaik, kawan. Soal patah hati? Haha, siapa yang patah hati wehhh...? Nggak ngerasa, tuh. *buang muka*

Loh, kenapa jadi ngomongin hati lagi? Emmm... kita sudahi saja hari ini. Ini cuma breaking news saja, kok. Informasi penting untuk yang jarang mendapatkan info langsung dari diri yang terlalu lugu ini. *halah*

Terus bersinar!
tak peduli senja tengah membelakangiku!
Terus buat jejak!
Karena kelak jejak itu yang akan mengikuti ragaku!
Semangat heyaaaaa~
#yosh !
 
~diani's~

Minggu, 06 Oktober 2013

#yosh !

Bismillah...

 
Kalau kata Alloh, "Janganlah kamu mendekati zina!"
Kalau kata murobi, "Anti sudah tau hukumnya, kan? Keputusan ada di tangan anti. Sama dia atau bukan sama dia, yang namanya jodoh nggak kemana."
Kalau kata Ibu, "Ya, kalau jodoh ya nggak kemana, ndok."
Kalau kata Mba Dea, "Belajar buat menjaga lagi, ukh. Peringatan Alloh sudah jelas. Jodoh pasti bertemu."
Kalau kata Dian, "Ehem! Tes... tes... satu... dua... tiga... Bismillah... Aku nggak mau membatasi diri dengan lingkungan. Ada batasan tapi tidak betul-betul terpisahkan. Dan satu hal, aku sudah bosan terjerumus dalam masalah yang sama. VMJ itu masalah sepele, tapiiii... dampaknya luar biasa! Apapun yang sudah terjadi, aku harus bangkit! Tidak ada yang namanya lelah untuk terus bangkit. Soal perasaan.. emm, sudahlah. Alloh telah mengaturnya. Mau menyesal? Tidak! Aku tidak menyesal. Malahan bersyukur :) Dan hal yang lain... Hati ini akan ditata ulang. Rombak habis-habisan malah. Judulnya sudah bukan 'Cinta Terpendam' lagi, tapi ya itulah... RAHASIA! Sekarang ini cuma bisa menikmati yang ada. Dan satu hal lagi, ah! Kebanyakan! Intinya aku tidak lemah, langkah ini akan kukembalikan pada Alloh, niat ini akan kuluruskan, dan iman ini akan terus meningkat."
 
 
Bukan masalah 'mau dibawa kemana hati ini'. Tapi sebenarnya semua sudah diatur. Tinggal bagaimana diri ini mengkondisikannya dan mematuhi apa yang sudah diatur. Duh, jadi bingung ini jari mau mengetik apalagi. Semuanya seperti mengawang. Ini saja mengetik tanpa mikir dulu. Langsuk tiktiktiktik... dan taraaaaa.. tulisannya langsung ter-post. Jadi kayak ajang curhat. Tapi, yasudahlah. Dan dari keempat pendapat di atas, kata-kata dari Alloh-lah yang paling menohok di hati. Mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya? Astagfirulloh~
 
Biarlah tanjakan itu menjadi saksi
Bahwa dulu kita pernah terpaut
Antara rasa dan dakwah
Juga sejuta rasa lain yang ikut membumbui
Biarlah langkah ini memilih mundur
Bukan untuk mengulangi
Namun untuk menghindar dan berpaling
Maaf, wajah ini pun sudah tak layak kau tatap
Apalagi kau kagumi
Tawa renyah atau apapun itu,
Mungkin hanya menjadi ingatan yang tersimpan
Maaf, aku lancang!
Tanpa sadar malah melukai
Menggoreskan sesuatu pada tempat yang tak semestinya
Ini bukan puisi!
Hanya bumbu manis penutup dua paragraf
Mengakhiri perjuangan
Tapi malah memulai tiap do'a
Dalam sujud di sepertiga malam...
Mungkin kamu tak merasa
Dan, biarlah...
Didekatkan atau dijauhkan,
Alloh-lah sutradaranya
Mau bagaimana lagi?
Hanya dalam do'a
Aku panjatkan harap dan impian
Aku tuangkan penyesalan
Aku pinta perpisahan...
 
Inilah lini hidup
Hari ini suka, mungkin besok tidak
Hari ini aku mendapatkan
Mungkin besok malah kehilangan
Ah, jadi ingat dengan satu prosa
Begini bunyinya...
"Belajarlah dari Elang. Dimana dia akan kembali kepada Betinanya."
Begitu kira-kira yang masih kuingat
Sosok yang mungkin akan pergi
Dan mungkin kelak akan kembali
Membawa berita bahagia atau duka
Bahagia untukku, dan duka bagi yang lain?
Atau bahagia untuk yang lain, dan duka untukku?
 
Wallahu'alam bishshowab'..
 
R. A.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Hujan yang menyadarkanku...

 

Bismillah...

 
Langit tengah lelah menahan tiap bulirnya
Memendam kesakitan
Menyembunyikan muram
Dan sekuat tenaganya menghalau mendungnya
 
Hujan yang perlahan turun...
Menyentuh jemari ini dengan perlahan
Tiap bulirnya menyerap dalam jiwa
Antara bahagia dan kesedihan
 
Tak seperti biasa...
Hujan yang selalu menemani hari,
Menghadirkan ketenangan dan kegembiraan
Bukan kemurungan yang senada dengan mendung
Bukan rintikan yang senada dengan bulir-bulirnya
 
Aku dan hujan memang sama...
Terkadang lelah menahan mendung
Terkadang lelah mencerahkan hari
Dengan senyum hangat mentari
Dengan kemilau cahaya senja
Dan sepoi angin yang menemani
 
Sampai kapan langit dapat menampung mendungnya?
Ketika hatinya penuh dan ingin meledak,
Apa yang dilakukannya?
Ya! Dia akan mengeluarkan semuanya
Semua! Bukan beberapa...
 
Yang sekarang aku lakukan adalah kebalikannya
Aku akan tetap menampung
Mengumpulkan rasa
Yang aku sendiri tak dapat menggambarkannya
Menunjukkannya pun aku tak bisa
Senyuman ini lebih mendominasi
Tetap cerah, walaupun dalamnya mendung
 
Hujan yang mewarnai hari...
Terima kasih atas pengertiannya
Menemani hati yang tak terlukis lukanya
Menggambarkan rintihan yang senada dengan bunyimu
Aku tak kan selemah dirimu
Aku tak kan tumpah layaknya airmu
Dan aku akan tetap begini
Dengan senyum merekah secerah mentari
Yang terkadang menyilaukan
Yang terkadang dirindukan...
Setelah rintikmu hilang...
 
 
Terima kasih...
Darimu diri ini belajar...
dan terus belajar...
Hingga nanti yang terpendam ini akan tumpah
Tapi tidak di depanmu,
melainkan di hadapan Pencipta-ku...
Yang menciptakan suka dan pilu...
Yang menumbuhkan lalu melayukan...
Ah!

 
 

Rabu, 02 Oktober 2013

Denting Hati - Oktober

Bismillah...

Aku kalut. Entah musti berbuat apa. Aku merasa diriku ini jahat. Mengambil alih kebahagiaan yang lain dan merasa senang atas itu. Padahal aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan dan tak pernah mendapatkan apa yang aku harapkan dalam tiap do'a. Ah, akunya saja yang ke-GEER-an  mungkin. Dia belum pernah bilang secara serius. Dan aku harap, tak ada apapun di dalam pertalian ini. Ah! Makin ngelantur. Kenapa mesti mengharapkan yang tidak pasti? Ini nih, yang malahan membebani pikiran. Hanya bisa menangis dalam do'a. Merasa berdosa dan malu pada Alloh. Sesak. Mau kepada siapa lagi aku mengadu? Karena Alloh is the only one who know me so well :')
 
 
Untuk senja yang selalu menemani hati dan hari
Terima kasih atas apapun yang telah diberikan
Akupun tak berani menuntut banyak
Hanya berharap diam-diam dalam doa
 
Hai, senja yang selalu menyejukkan hati...
Tak sadarkah kau bahwa ada seseoarng yang tengah mengharapkanmu?
Bukan aku!
Tapi dia yang mungkin merasakan getaran yang sama
Dan kamu tau?
Saat ini kepalaku penuh dengan kamu dan dia
 
Rasanya menghimpit
Aku tak pernah suka dengan situasi ini
Dimana aku harus bijak,
Dan kamu tau?
Aku tak pernah mampu untuk bijak...
 
Kamu melihatku karena apa?
Semoga tak ada kata 'karena' dalam ulasanmu
Aku harap-harap cemas
Antara hati dan pengorbanan
Antara kamu dan dia
Antara teman dan masa depan
Ah!
 
Kamu tahu?
Aku nyaris menyerah dan melepaskanmu
Aku harus bagaimana?
Ah, aku lupa...
Kamu pun tak tahu tentang apa yang aku rasa
Aku memilih diam
Bingung harus memulainya
Bingung dengan apa hakku untuk itu
Dan bingung dengan KITA
 
Aku memang manusia baru di hidupmu
Tak tahu masa lalumu dengan baik
Tak tahu siapa saja yang pernah singgah di hatimu
Dan akupun lelah untuk memintamu bercerita
 
Maaf, Aku lelah...


Senin, 30 September 2013

Mau Dipendam Sampai Kapan?

Cinta terpendam... sekelumit kisah akan aku hadirkan melalui tulisan-tulisan nakal yang tersalurkan melalui jemari-jemari ini. Dengan debaran hati yang terus bergemuruh, aku coba keluarkan apa yang kurasa. Padahal, belum ada yang mengetahui perasaan ini yang sebenarnya. Bersama tulisan yang menyatu dengan cinta yang perlahan mulai muncul, bismillah... kisah ini pun aku mulai.
. . . . .


Awal kisah bersamanya.  Pertemuan singkat, malahan terlalu singkat. Pertemanan pun masih bisa dihitung dengan jari lamanya. Kami bertemu berkali-kali, tapi tak pernah bertegur sapa. Dia yang tiba-tiba datang, saat ini malah mager di hati. Haha, inilah yang dinamakan takdir. Mungkin, tapi yasudahlah. Nikmati saja dan biarkan mengalir. Layaknya hujan yang tak pernah berhenti di kala mendung terus memayungi hari. #tsah

. . . . . 
 
Pertemuan pertama...
Perdebatan semakin sengit. Antara kubu ibu-ibu dan bapak-bapak. Sang moderator hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Topik pembahasannya sangat berbobot, tapi kami semua membuat suasana dan sudut pandanga dari permasalahan ini hanya berdaasrkan transportasi, uang belanja yang akan semakin menipis, uang jajan suami bakalan berkurang, stok makanan di rumah tidak melimpah, dan lain-lain. Haha... oh iya, kami berdebat tentang kenaikan harga BBM, dampak yang dihasilkan, dan solusinya. Tiba-tiba sebuah suara yang mengalihkan mata kami semua menyuarakan pendapat luar biasannya. Mata kami menatapnya, mulut yang tadinya mengoceh ini-itu, tiba-tiba tertutup secara otomatis. Dia bersinar, kata-katanya menyihir kami untuk terus menyimak tiap kata yang dihasilkannya. Dia kharismatik dan penuh dengan pengetahuan yang luas. Ya, karena dia pembiacaraan kami jadi lebih berbobot.
 
"Kita bisa menilai kenaikkan BBM dari berbagai sudut pandang. Ketika inflasi, pemerintah tentu saja memiliki kebijakan sendiri untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan banyak hal. Tidak hanya menguntungkan bagi pihak luar, tapi pemerintah juga harus mengendalikan kemudinya  agar para ibu-ibu dan bapak-bapak tidak dibuat pusing olehnya."
 
Kurang lebih kata-kata yang keluar seperti itu.  Ada raut bangga. Di balik kacamatanya, binaran mata yang terpancar itu terlihat jelas. Dia klasik. Dengan wajah oval dan kacamata itu sudah cukup sempurna untuk menjadi seseorang yang berbeda. Eh, aku nulis apa barusan? Ah!
 
Nah, sekarang dia lagi orasi. Kita dipimpin olehnya. "Semakin unik saja orang ini," pikirku. Orangnya benar-benar unik. Apa saja diucapkan, nyanyi-nyanyi tidak jelas, dan kami cuma tertawa, sebenarnya sih, aku saja yang paling banyak tertawa. Duh, jadi malu, haha... Namanya siapa, ya? Lupa, eh. Gara-gara keasikkan tertawa, jadinya semua ingatan kayak meluap.
 
"Ho, namanya Dan. Hebat... hebat... dia nyabet gelar peserta yang terbaik," lagi-lagi aku ngedumel sendiri. Barusan, peserta terbaiknya disuruh maju. Dan, namanya dipanggil. Dapat buku yang tebal, tuh. Rasanya pengen pinjam, tapi mana ada nyali untuk bilang ke dia.
 
Hari ini berakhir dengan luar biasa. Aku hanya menganggap dia itu sosok yang hebat. Hm, mungkin ingatan ini akan terkikis dengan seiring berjalannya waktu. Ah, mungkin saja akan tetap terlekat erat pada otak ini. Siapa yang tahu?
 
. . . . .
 
Pertemuan ke-dua...
Aku lupa dengan sosoknya. Kepikiran pun tidak. Benar-benar lupa sama sekali. Dia yang dulu memesona, ya hanya itu. Sebatas kagum saja. Hehe...
 
Hari ini kami bertemu lagi. Dalam acara training dan lagi-lagi dia unjuk gigi. Ingatanku mundur ke kejadian lalu. Aku menanyakan namanya pada temanku. Dan tersebutlah satu nama, Dan.
"Namnya siapa?"
"Yang mana?"
"Ituloh yang lagi berdiri di depan."
"Oh, ituuuu... Namanya Dan. Kan dulu kita pernah ketemu sama dia. Masa lupa?"
"Hoo.. iya, aku baru ingat. Haha, maklumlah pikunan."
"Dasar!"
 
Aku pun hanya merespon perkataan temanku dengan tawa yang terkesan 'cengengesan'. Mataku pun teralihkan ke dia. Dia yang ada di depan maksudnya. Masih berkarisma dan luar biasa. Sampai saat ini, aku hanya mengagumi dan tidak memikirkan yang lain. Karena ada seseorang yang lebih tinggi posisinya di hati ini. Seseorang yang lebih berkilau dari padanya. Hm ya, waktu itu... Tapi aku pun tak tahu bagaimana nanti.
 
. . . . .
 
Pertemuan ke-tiga...
Aku memasuki sebuah gang dan berbelok ke arah rumah yang di cat berwarna pink. Segera kumatikan mesin motorku, parkir dengan sempurna, dan masuk.
"Assalamu'alaykum!"
"Wa'alaykumussalam..."
Aku celingukan.
"Loh, kok belum ada akhwat yang lain, mbak?"
"Nggak tahu, nih. Kayaknya pada telat, deh."
"Yah... kirain ana udah yang paling telat. Haha... selamet deeeehh..."
Aku terkikik sendiri. Tiba-tiba...
"Hush! Jangan nyaring-nyaring, ukh. Ada ikhwan tuh di dalam."
Mulutku langsung terkatup secara otomatis. Wajahku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh mbak-mbak itu.
'Hoo... ada ikhwannya juga, toh. Siapa saja, sih?' gumamku dalam hati. Mataku mencari seseorang. Aha! Ada si kakak ternyata. Eh, tapi ada dua orang lagi. 'Ah, biar saja lah. Ngapain juga diurusin?' lagi-lagi, gumamku dalam hati.
 
Aku memalingkan wajah dan perhatianku kembali pada mbak yang ada di depanku ini. Aku menghabiskan waktu dengan mengobrol ini itu. Mulai dari topik terkini, sampai grammar Bahasa Inggris. (Apa, deh?)
 
Tak lama, teman kami datang, tapi hanya satu orang. Dan waktu pun terus berlalu. Tanda-tanda mulai bosan menunggu. Kami cipika-cipiki, berjabat tangan dan menanyakan kabar. Lalu, akhwat yang baru datang mengeluarkan suara ke arah ikhwan.
"Akh, kita mulai saja sekarang. Takutnya malah kesianga."
"Oh, yasudah. Akhwatnya masuk saja. Kita mulai sekarang trainning-nya."
"Yuk ukhti, kita masuk."
Aku dan mbak yang pertama datang menganggukkan kepala dan menggiring barang bawaan kami untuk dibawa ke dalam.
 
'Eeeeehhhh....!' Aku heboh sendiri dalam hati. 'Itu kan Dan yang waktu itu pernah ketemu. Eh, iya bukan, sih?' Entah sejak kapan aku jadi suka ngedumel dalam hati. Ada percakapan-percakapan yang sering muncul sendiri.
 
Aku memerhatikan dia. Satu detik, dua detik, tiga detik, .... 'Ah, astagfirulloh... fokus, fokus.'
Dia sedang asik mengutak-atik laptonya dan berdiskusi dengan salah seorang ikhwan. Lalu, dia mengambil kamera digital yang ada di depan ikhwan tersebut, dan mulailah kegiatan jeprat-jepretnya.
 
Dalam hati, 'Gileeee... ini orang narsisnya ngalah-ngalahin aku.' (emot muka datar)
 
"Sini akh, ana fotoin." Aku takjub dengan deretan kata yang keluar dari mulutku. Ada rasa menyesal.  'Duh, lancangnya. Habislah!'
"Nggak usah... Saya pakai ini saja."
Dia pun menggeret meja kecil yang ada di depannya. Yak, self-timer-nya sudah disetel dan 3... 2... 1... 'cekrek'. Blitz yang luar biasa itu menjepret mereka. Tidak cuma sekali, tapi berkali-kali. Muka Dan tampak kecewa.
'Tuh, kan... Pasti fotonya jelek. Nggak mau difotoin, sih,' dumelku lagi.
Aku langsung membekap mulutku sendiri. Padahal mulut ini tidak mengeluarkan kalimat apapun. Tapi aku merasa lancang sudah ngedumel kayak gitu.
 
Dia heboh sendiri tanpa menoleh ke arah akhwat. 'Super... dia orangnya cuek. Yasudahlah, biarkan di berkarya dengan caranya sendiri'.
 
Setelah sesi foto-foto para ikhwan, trainning dimulai. 10 menit berlalu... tiba-tiba Dan mengeluarkan suara.
"Akh, ana ijin, ya. Ada kegiatan yang harus ana datangin sekarang. Teman-teman ana sudah nungguin."
"Oh iya, nggak apa-apa, akh. Silahkan... nanti ana kasih materinya saja."
Mataku memerhatikan mereka. Tapi hanya sampai situ aku mendengarkan dengan seksama. Setelah itu, aku larut dalam bahan-bahan yang diberikan narasumber. Tidak menatap mereka lagi.
 
"Ana pergi dulu. Assalamu'alaykum..."
"Wa'alaykumussalam..." jawab kami serempak. Aku pun juga ikutan serempak menjawab salamnya. Sudah terbiasa menyahut jika ada yang mengucapkan salam. Jadi, walaupun tidak melihat siapa orang yang mengucapkan salam, mulut ini akan secara otomatis menjawabnya.
 
Selepas dia pergi, kami semua asik mendengarkan materi-materi yang dijelaskan oleh pemateri. Semuanya memerhatikan dan secara acak pula, otak ini melupakan kejadian barusan.
 
. . . . .

Pertemuan ke-empat...

Tiktiktiktiktik.... suara itu berderet membumbui malam. Suara keyboard yang sedari tadi kutekan dengan gemas. Yak, aku tengah menyelesaikan tugas-tugasku. Mataku beralih ke layar handphone, menatap sebuah nama yang terpampang pada percakapan teman-teman di facebook. Hem, ada nama yang kukenal. Yap, beberapa orang memang kukenal, tapiiii... ini ada satu nama yang cuku familiar. Aku meng-klik nama akun facebook-nya dan memerhatika secara serius yang ada di profilnya. 'Wah, ini kan Dan', seruku dalam hati. Tangan ini pun langsung memilih tulisan 'add friend'. Dan yasudah, hanya itu yang kulakukan tanpa ada niatan yang lain.

Besok harinya aku membuka akun FB-ku lewat handphone lagi. Dan ada sebuah pesan masuk. Dheg... dari Dan.
"Assalamu'alaykum... Salam kenal, kawan.. :)"

Aku menjawabnya dan dari sinilah semua berawal. Kami melanjutkan obrolan kami berhari-hari, sampai tibalah hari itu. Aku menawarkannya untuk datang ke rumah saat Lebaran nanti. Entah, aku hanya berpikir, 'Apa salahnya mengajak teman-teman untuk datang ke rumah?' Ya, seandainya aku tak menggubrisnya, seandainya aku tak ramah dengannya, seandainya aku tak mempersilahkan dia untuk masuk di hidupku, mungkin... ah!

Pling...
"Aku sudah di gang, nih."
Sms dari Dan, toh. Aku segera membalasnya dan mengambil kunci motorku.
"Oke, tunggu di situ."
Kunyalakan motor merahku, bruumm... siap menjemputnya.