Cinta terpendam... sekelumit kisah akan aku hadirkan melalui tulisan-tulisan nakal yang tersalurkan melalui jemari-jemari ini. Dengan debaran hati yang terus bergemuruh, aku coba keluarkan apa yang kurasa. Padahal, belum ada yang mengetahui perasaan ini yang sebenarnya. Bersama tulisan yang menyatu dengan cinta yang perlahan mulai muncul, bismillah... kisah ini pun aku mulai.
. . . . .
Awal kisah bersamanya. Pertemuan singkat, malahan terlalu singkat. Pertemanan pun masih bisa dihitung dengan jari lamanya. Kami bertemu berkali-kali, tapi tak pernah bertegur sapa. Dia yang tiba-tiba datang, saat ini malah mager di hati. Haha, inilah yang dinamakan takdir. Mungkin, tapi yasudahlah. Nikmati saja dan biarkan mengalir. Layaknya hujan yang tak pernah berhenti di kala mendung terus memayungi hari. #tsah
. . . . .
Pertemuan pertama...
Perdebatan semakin sengit. Antara kubu ibu-ibu dan bapak-bapak. Sang moderator hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Topik pembahasannya sangat berbobot, tapi kami semua membuat suasana dan sudut pandanga dari permasalahan ini hanya berdaasrkan transportasi, uang belanja yang akan semakin menipis, uang jajan suami bakalan berkurang, stok makanan di rumah tidak melimpah, dan lain-lain. Haha... oh iya, kami berdebat tentang kenaikan harga BBM, dampak yang dihasilkan, dan solusinya. Tiba-tiba sebuah suara yang mengalihkan mata kami semua menyuarakan pendapat luar biasannya. Mata kami menatapnya, mulut yang tadinya mengoceh ini-itu, tiba-tiba tertutup secara otomatis. Dia bersinar, kata-katanya menyihir kami untuk terus menyimak tiap kata yang dihasilkannya. Dia kharismatik dan penuh dengan pengetahuan yang luas. Ya, karena dia pembiacaraan kami jadi lebih berbobot.
"Kita bisa menilai kenaikkan BBM dari berbagai sudut pandang. Ketika inflasi, pemerintah tentu saja memiliki kebijakan sendiri untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan banyak hal. Tidak hanya menguntungkan bagi pihak luar, tapi pemerintah juga harus mengendalikan kemudinya agar para ibu-ibu dan bapak-bapak tidak dibuat pusing olehnya."
Kurang lebih kata-kata yang keluar seperti itu. Ada raut bangga. Di balik kacamatanya, binaran mata yang terpancar itu terlihat jelas. Dia klasik. Dengan wajah oval dan kacamata itu sudah cukup sempurna untuk menjadi seseorang yang berbeda. Eh, aku nulis apa barusan? Ah!
Nah, sekarang dia lagi orasi. Kita dipimpin olehnya. "Semakin unik saja orang ini," pikirku. Orangnya benar-benar unik. Apa saja diucapkan, nyanyi-nyanyi tidak jelas, dan kami cuma tertawa, sebenarnya sih, aku saja yang paling banyak tertawa. Duh, jadi malu, haha... Namanya siapa, ya? Lupa, eh. Gara-gara keasikkan tertawa, jadinya semua ingatan kayak meluap.
"Ho, namanya Dan. Hebat... hebat... dia nyabet gelar peserta yang terbaik," lagi-lagi aku ngedumel sendiri. Barusan, peserta terbaiknya disuruh maju. Dan, namanya dipanggil. Dapat buku yang tebal, tuh. Rasanya pengen pinjam, tapi mana ada nyali untuk bilang ke dia.
Hari ini berakhir dengan luar biasa. Aku hanya menganggap dia itu sosok yang hebat. Hm, mungkin ingatan ini akan terkikis dengan seiring berjalannya waktu. Ah, mungkin saja akan tetap terlekat erat pada otak ini. Siapa yang tahu?
. . . . .
Pertemuan ke-dua...
Aku lupa dengan sosoknya. Kepikiran pun tidak. Benar-benar lupa sama sekali. Dia yang dulu memesona, ya hanya itu. Sebatas kagum saja. Hehe...
Hari ini kami bertemu lagi. Dalam acara training dan lagi-lagi dia unjuk gigi. Ingatanku mundur ke kejadian lalu. Aku menanyakan namanya pada temanku. Dan tersebutlah satu nama, Dan.
"Namnya siapa?"
"Yang mana?"
"Ituloh yang lagi berdiri di depan."
"Oh, ituuuu... Namanya Dan. Kan dulu kita pernah ketemu sama dia. Masa lupa?"
"Hoo.. iya, aku baru ingat. Haha, maklumlah pikunan."
"Dasar!"
Aku pun hanya merespon perkataan temanku dengan tawa yang terkesan 'cengengesan'. Mataku pun teralihkan ke dia. Dia yang ada di depan maksudnya. Masih berkarisma dan luar biasa. Sampai saat ini, aku hanya mengagumi dan tidak memikirkan yang lain. Karena ada seseorang yang lebih tinggi posisinya di hati ini. Seseorang yang lebih berkilau dari padanya. Hm ya, waktu itu... Tapi aku pun tak tahu bagaimana nanti.
. . . . .
Pertemuan ke-tiga...
Aku memasuki sebuah gang dan berbelok ke arah rumah yang di cat berwarna pink. Segera kumatikan mesin motorku, parkir dengan sempurna, dan masuk.
"Assalamu'alaykum!"
"Wa'alaykumussalam..."
Aku celingukan.
"Loh, kok belum ada akhwat yang lain, mbak?"
"Nggak tahu, nih. Kayaknya pada telat, deh."
"Yah... kirain ana udah yang paling telat. Haha... selamet deeeehh..."
Aku terkikik sendiri. Tiba-tiba...
"Hush! Jangan nyaring-nyaring, ukh. Ada ikhwan tuh di dalam."
Mulutku langsung terkatup secara otomatis. Wajahku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh mbak-mbak itu.
'Hoo... ada ikhwannya juga, toh. Siapa saja, sih?' gumamku dalam hati. Mataku mencari seseorang. Aha! Ada si kakak ternyata. Eh, tapi ada dua orang lagi. 'Ah, biar saja lah. Ngapain juga diurusin?' lagi-lagi, gumamku dalam hati.
Aku memalingkan wajah dan perhatianku kembali pada mbak yang ada di depanku ini. Aku menghabiskan waktu dengan mengobrol ini itu. Mulai dari topik terkini, sampai grammar Bahasa Inggris. (Apa, deh?)
Tak lama, teman kami datang, tapi hanya satu orang. Dan waktu pun terus berlalu. Tanda-tanda mulai bosan menunggu. Kami cipika-cipiki, berjabat tangan dan menanyakan kabar. Lalu, akhwat yang baru datang mengeluarkan suara ke arah ikhwan.
"Akh, kita mulai saja sekarang. Takutnya malah kesianga."
"Oh, yasudah. Akhwatnya masuk saja. Kita mulai sekarang trainning-nya."
"Yuk ukhti, kita masuk."
Aku dan mbak yang pertama datang menganggukkan kepala dan menggiring barang bawaan kami untuk dibawa ke dalam.
'Eeeeehhhh....!' Aku heboh sendiri dalam hati. 'Itu kan Dan yang waktu itu pernah ketemu. Eh, iya bukan, sih?' Entah sejak kapan aku jadi suka ngedumel dalam hati. Ada percakapan-percakapan yang sering muncul sendiri.
Aku memerhatikan dia. Satu detik, dua detik, tiga detik, .... 'Ah, astagfirulloh... fokus, fokus.'
Dia sedang asik mengutak-atik laptonya dan berdiskusi dengan salah seorang ikhwan. Lalu, dia mengambil kamera digital yang ada di depan ikhwan tersebut, dan mulailah kegiatan jeprat-jepretnya.
Dalam hati, 'Gileeee... ini orang narsisnya ngalah-ngalahin aku.' (emot muka datar)
"Sini akh, ana fotoin." Aku takjub dengan deretan kata yang keluar dari mulutku. Ada rasa menyesal. 'Duh, lancangnya. Habislah!'
"Nggak usah... Saya pakai ini saja."
Dia pun menggeret meja kecil yang ada di depannya. Yak, self-timer-nya sudah disetel dan 3... 2... 1... 'cekrek'. Blitz yang luar biasa itu menjepret mereka. Tidak cuma sekali, tapi berkali-kali. Muka Dan tampak kecewa.
'Tuh, kan... Pasti fotonya jelek. Nggak mau difotoin, sih,' dumelku lagi.
Aku langsung membekap mulutku sendiri. Padahal mulut ini tidak mengeluarkan kalimat apapun. Tapi aku merasa lancang sudah ngedumel kayak gitu.
Dia heboh sendiri tanpa menoleh ke arah akhwat. 'Super... dia orangnya cuek. Yasudahlah, biarkan di berkarya dengan caranya sendiri'.
Setelah sesi foto-foto para ikhwan, trainning dimulai. 10 menit berlalu... tiba-tiba Dan mengeluarkan suara.
"Akh, ana ijin, ya. Ada kegiatan yang harus ana datangin sekarang. Teman-teman ana sudah nungguin."
"Oh iya, nggak apa-apa, akh. Silahkan... nanti ana kasih materinya saja."
Mataku memerhatikan mereka. Tapi hanya sampai situ aku mendengarkan dengan seksama. Setelah itu, aku larut dalam bahan-bahan yang diberikan narasumber. Tidak menatap mereka lagi.
"Ana pergi dulu. Assalamu'alaykum..."
"Wa'alaykumussalam..." jawab kami serempak. Aku pun juga ikutan serempak menjawab salamnya. Sudah terbiasa menyahut jika ada yang mengucapkan salam. Jadi, walaupun tidak melihat siapa orang yang mengucapkan salam, mulut ini akan secara otomatis menjawabnya.
Selepas dia pergi, kami semua asik mendengarkan materi-materi yang dijelaskan oleh pemateri. Semuanya memerhatikan dan secara acak pula, otak ini melupakan kejadian barusan.
. . . . .
Pertemuan ke-empat...
Tiktiktiktiktik.... suara itu berderet membumbui malam. Suara keyboard yang sedari tadi kutekan dengan gemas. Yak, aku tengah menyelesaikan tugas-tugasku. Mataku beralih ke layar handphone, menatap sebuah nama yang terpampang pada percakapan teman-teman di facebook. Hem, ada nama yang kukenal. Yap, beberapa orang memang kukenal, tapiiii... ini ada satu nama yang cuku familiar. Aku meng-klik nama akun facebook-nya dan memerhatika secara serius yang ada di profilnya. 'Wah, ini kan Dan', seruku dalam hati. Tangan ini pun langsung memilih tulisan 'add friend'. Dan yasudah, hanya itu yang kulakukan tanpa ada niatan yang lain.
Besok harinya aku membuka akun FB-ku lewat handphone lagi. Dan ada sebuah pesan masuk. Dheg... dari Dan.
"Assalamu'alaykum... Salam kenal, kawan.. :)"
Aku menjawabnya dan dari sinilah semua berawal. Kami melanjutkan obrolan kami berhari-hari, sampai tibalah hari itu. Aku menawarkannya untuk datang ke rumah saat Lebaran nanti. Entah, aku hanya berpikir, 'Apa salahnya mengajak teman-teman untuk datang ke rumah?' Ya, seandainya aku tak menggubrisnya, seandainya aku tak ramah dengannya, seandainya aku tak mempersilahkan dia untuk masuk di hidupku, mungkin... ah!
Pling...
"Aku sudah di gang, nih."
Sms dari Dan, toh. Aku segera membalasnya dan mengambil kunci motorku.
"Oke, tunggu di situ."
Kunyalakan motor merahku, bruumm... siap menjemputnya.