Bismillah...
Langit tengah lelah menahan tiap bulirnya
Memendam kesakitan
Menyembunyikan muram
Dan sekuat tenaganya menghalau mendungnya
Hujan yang perlahan turun...
Menyentuh jemari ini dengan perlahan
Tiap bulirnya menyerap dalam jiwa
Antara bahagia dan kesedihan
Tak seperti biasa...
Hujan yang selalu menemani hari,
Menghadirkan ketenangan dan kegembiraan
Bukan kemurungan yang senada dengan mendung
Bukan rintikan yang senada dengan bulir-bulirnya
Aku dan hujan memang sama...
Terkadang lelah menahan mendung
Terkadang lelah mencerahkan hari
Dengan senyum hangat mentari
Dengan kemilau cahaya senja
Dan sepoi angin yang menemani
Sampai kapan langit dapat menampung mendungnya?
Ketika hatinya penuh dan ingin meledak,
Apa yang dilakukannya?
Ya! Dia akan mengeluarkan semuanya
Semua! Bukan beberapa...
Yang sekarang aku lakukan adalah kebalikannya
Aku akan tetap menampung
Mengumpulkan rasa
Yang aku sendiri tak dapat menggambarkannya
Menunjukkannya pun aku tak bisa
Senyuman ini lebih mendominasi
Tetap cerah, walaupun dalamnya mendung
Hujan yang mewarnai hari...
Terima kasih atas pengertiannya
Menemani hati yang tak terlukis lukanya
Menggambarkan rintihan yang senada dengan bunyimu
Aku tak kan selemah dirimu
Aku tak kan tumpah layaknya airmu
Dan aku akan tetap begini
Dengan senyum merekah secerah mentari
Yang terkadang menyilaukan
Yang terkadang dirindukan...
Setelah rintikmu hilang...
Setelah rintikmu hilang...
Terima kasih...
Darimu diri ini belajar...
dan terus belajar...
Hingga nanti yang terpendam ini akan tumpah
Tapi tidak di depanmu,
melainkan di hadapan Pencipta-ku...
Yang menciptakan suka dan pilu...
Yang menumbuhkan lalu melayukan...
Ah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar