Bismillah...
Kalau kata Alloh, "Janganlah kamu mendekati zina!"
Kalau kata murobi, "Anti sudah tau hukumnya, kan? Keputusan ada di tangan anti. Sama dia atau bukan sama dia, yang namanya jodoh nggak kemana."
Kalau kata Ibu, "Ya, kalau jodoh ya nggak kemana, ndok."
Kalau kata Mba Dea, "Belajar buat menjaga lagi, ukh. Peringatan Alloh sudah jelas. Jodoh pasti bertemu."
Kalau kata Dian, "Ehem! Tes... tes... satu... dua... tiga... Bismillah... Aku nggak mau membatasi diri dengan lingkungan. Ada batasan tapi tidak betul-betul terpisahkan. Dan satu hal, aku sudah bosan terjerumus dalam masalah yang sama. VMJ itu masalah sepele, tapiiii... dampaknya luar biasa! Apapun yang sudah terjadi, aku harus bangkit! Tidak ada yang namanya lelah untuk terus bangkit. Soal perasaan.. emm, sudahlah. Alloh telah mengaturnya. Mau menyesal? Tidak! Aku tidak menyesal. Malahan bersyukur :) Dan hal yang lain... Hati ini akan ditata ulang. Rombak habis-habisan malah. Judulnya sudah bukan 'Cinta Terpendam' lagi, tapi ya itulah... RAHASIA! Sekarang ini cuma bisa menikmati yang ada. Dan satu hal lagi, ah! Kebanyakan! Intinya aku tidak lemah, langkah ini akan kukembalikan pada Alloh, niat ini akan kuluruskan, dan iman ini akan terus meningkat."
Bukan masalah 'mau dibawa kemana hati ini'. Tapi sebenarnya semua sudah diatur. Tinggal bagaimana diri ini mengkondisikannya dan mematuhi apa yang sudah diatur. Duh, jadi bingung ini jari mau mengetik apalagi. Semuanya seperti mengawang. Ini saja mengetik tanpa mikir dulu. Langsuk tiktiktiktik... dan taraaaaa.. tulisannya langsung ter-post. Jadi kayak ajang curhat. Tapi, yasudahlah. Dan dari keempat pendapat di atas, kata-kata dari Alloh-lah yang paling menohok di hati. Mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya? Astagfirulloh~
Biarlah tanjakan itu menjadi saksi
Bahwa dulu kita pernah terpaut
Antara rasa dan dakwah
Juga sejuta rasa lain yang ikut membumbui
Biarlah langkah ini memilih mundur
Bukan untuk mengulangi
Namun untuk menghindar dan berpaling
Maaf, wajah ini pun sudah tak layak kau tatap
Apalagi kau kagumi
Tawa renyah atau apapun itu,
Mungkin hanya menjadi ingatan yang tersimpan
Maaf, aku lancang!
Tanpa sadar malah melukai
Menggoreskan sesuatu pada tempat yang tak semestinya
Ini bukan puisi!
Hanya bumbu manis penutup dua paragraf
Mengakhiri perjuangan
Tapi malah memulai tiap do'a
Dalam sujud di sepertiga malam...
Mungkin kamu tak merasa
Dan, biarlah...
Didekatkan atau dijauhkan,
Alloh-lah sutradaranya
Mau bagaimana lagi?
Hanya dalam do'a
Aku panjatkan harap dan impian
Aku tuangkan penyesalan
Aku pinta perpisahan...
Inilah lini hidup
Hari ini suka, mungkin besok tidak
Hari ini suka, mungkin besok tidak
Hari ini aku mendapatkan
Mungkin besok malah kehilangan
Ah, jadi ingat dengan satu prosa
Begini bunyinya...
"Belajarlah dari Elang. Dimana dia akan kembali kepada Betinanya."
Begitu kira-kira yang masih kuingat
Sosok yang mungkin akan pergi
Dan mungkin kelak akan kembali
Membawa berita bahagia atau duka
Bahagia untukku, dan duka bagi yang lain?
Atau bahagia untuk yang lain, dan duka untukku?
Atau bahagia untuk yang lain, dan duka untukku?
Wallahu'alam bishshowab'..
R. A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar