Tak kuasa kumenahan letih dan sedih. Aku memaksa, tapi hanya setetes saja yang ada. Patah hati, putus asa.
Malam itu, perawat ruangan adek datang ke kamar. Minta ASI untuk adek. Aku belum kuat jalan, efek jahitan yang lumayan dan kepala sempoyongan (Hb-ku rendah banget pasca melahirkan, sampai trasfusi 2 kantong darah). Aku coba untuk memompa ASI. Hasilnya? Nihil. Suami langsung panik, bergegas ke toko bayi beli perlengkapan untuk namping ASI. Pinjam pompa elektrik. Saat sampai, aku coba, hasilnya? Cuma sebercak saja yang keluar dari puting. Sisanya, periiih banget, aku nggak kuat pakai pompa asi. Coba lagi alternatif lain, sama sekali nggak ada setetes pun ASI yang keluar? Gimana, nih? Adek butuh ASI, tapi aku nggak menghasilkan ASI. Akhirnya suami pasrah, nenangin aku, lalu dia ke ruang bayi, memberi info ke perawat kalau aku belum bisa mengeluarkan ASI.
Jam 10 malam, aku menguatkan diri untuk jalan ke ruang bayi. Nyeri-nyeri sedap, tapi pasti bisa. Sampai di sana, adek lagi nangis, minta ASI. Aku coba menyusui, dipandu bidan yang telaten. Aku nyaman dengan keadaan adek di pelukanku. Semoga ASI-ku keluar. Semoga adek kenyang. Semoga nggak ada apa-apa setelah ini. Perasaan saat nyusuin ini nggak bisa diutarakan. Bahagiaaa banget. Nggak nyangka ya jadi ibu. Sempurna.
Malam itu kututup dengan perasaan lega dan bahagia. Aku ibu yang beruntung. Masih diberi kesempatan untuk menyusui. Menimang dan menikmati wajah cantiknya. Saranghae...
*-*-*-*-*-*-*-*-*
Aduh, mellow banget ya pembukaannya. Terus, kelanjutannya gimana? Yaps, hari berikutnya adek harus disinar, tambah patah hati mamak. ASI dioptimalkan untuk dipompa tetap nggak keluar. Aku cuma bisa nangis dan merasa nggak bisa jadi ibu yang sempurna. Sampai akhirnya, memutuskan untuk curhat ke teman.
Aku disarankan oleh perawat untuk cari donor ASI atau opsi terburuknya ya ke sufor. Susah payah mencari pendonor. Drama yang berkelanjutan banget. Ditambah syarat dan banyak hal yang harus diperhatikan untuk menetapkan ibu sepersusuan untuk adek.
Bisa dibilang ibu sepersusuan anakku adalah sahabat dekat di jaman kuliah. Qodarullôh dia ada di rumah sakit dan dengan sedikit memelas plus paksaan, dia jadi pendonor. Hehehe, bakat premannya keluar. Tapi tenang pemirsa, kami sudah sepakat tentan konsekuensi serta hal-hal lain yang dipertimbangkan tentang masalah ini. Alhamdulillaah, satu masalah selesai. Aku pikir gitu. Nyatanya? Nggak, guys.
Tiap 3-4 jam harus setoran ASI. Nah, ini nih yang nggak kami perhitungkan. Kelabakan? Iya bangeeeet. Harus nge-lobby temanku lagi untuk sediain ASI. Beruntung banget beliau bersedia, tapi dengan catatan, aku juga tetap berusaha untuk menghasilkan ASI. Di situ, aku patah semangat. Nggak yakin sama diri sendiri. Hampir gila? Mungkin. Titik terendah dalam hidupku.
Hari itu, aku yang kepayahan, menyaksikan juga kegigihan suamiku untuk bangun per 2 jam menjemput & mengantarkan ASI ke RS. Rasa cinta dan kasih begitu saja menyeruak untuknya. 🥺


