Kudapati dua orang laki-laki tengah duduk di atas motor biru. Menunggu seseorang rupanya. Aku tersenyum kepada mereka. Mereka pun tersenyum padaku. Kuanggukkan kepalaku.
"Dan, ya? Ayok, langsung saja."
Tanpa basa-basi lagi, aku memutar motorku dan mendahului mereka menuju rumahku. Kulirik merek melalui kaca spionku. Laju motornya sangat lambat, apa gara-gara rute ke rumahku yang terlalu ekstrim, ya?
Di depan rumah...
Dengan gagahnya aku memarkirkan motorku dan diikuri oleh Dan di posisi parkir yang lain. Sampai detik itu aku masih belum berbicara apapun kepada dia dan temannya. Dengan mengumpulkan keberanian diri yang digumpal-gumpal jadi satu, akhirnya aku berbicara.
"Ayo, masuk."
Jeddeeeng... cuma itu saja? Iya, itu dulu buat permulaannya. Deg-degan, meeen...
Mereka membalas epilogku dengan anggukan kepala, mesam-mesem, dan saling dorong. Oke, itu sudah biasa terjadi di kota-kota besar. (Nahlo?)
Di ruang tamu...
Mereka duduk. Aku masuk ke ruang keluarga untuk meletakkan kunci motorku, lalu ke ruang tamu lagi. Mereka menatapku. Aku tersenyum (lagi). Kubulatkan tekad lagi untuk memulai percakapan.
"Maaf ya, tadi lama."
"Eh, iya nggak apa-apa. Oh iya kenalin, ini Rahn," katanya sambil mengangguk ke arah temannya. Senyum jenaka.
"Salam kenal. Saya Dira," jawabku dengan senyuman (lagi?).
"Jadi, tadi survei-nya berapa kali?" tanyaku.
"Tiga kali, Dir. Sekali yang sebelum sholat, kedua.. tadi sebelum nelpon kamu, dan ketiga.. pas sudah sampai di atas, kaminya balik lagi ke bawah."
Aku tertawa. "Waah, tinggal dikit lagi, loh. Ujung-ujungnya saya jemput juga, kan? Pengen repot banget, nih.."
"Hehe, habisnya kami nggak enak kalau harus menyusahkan. Jadinya ya, usaha dulu. Walaupun ujung-ujungnya tetap menyusahkan, sih. Hehehe..."
Aku tersenyum (lagi-lagi?). Suasana sudah mulai mencair. Rasa deg-degan dan khawatir bakalan gagap mendadak lenyap. Obrolan-obrolan pun mulai beruntunan keluar dari masing-masing kami. Tak ada rasa canggung lagi. Kami mengobrolkan apa saja. Mulai dari kampus, teman-teman di kampus, rencana beberapa tahun ke depan, tempat tinggal, sampai akhirnya ibuku keluar dan mengajak mereka mengobrol.
Tentang mimpi yang tergantung, lalu perlahan menyapa dengan senyum nyata. Satu per satu jadi nyata. Inilah perjalananku, sebagai ibu dan segala macam mimpi yang terus ingin digapai. Babak baru—Ibuk Dian.
Entri Populer
-
aku tau semua akan seperti ini ketika dua hati terpisahkan masa tapi itu aka terjadi bukan sekarang susahkah menunda takdir ? jika ada...
-
Bismillah... Hari ini aku alami fase yang luar biasa. Awal pertemuan denganmu setahun yang lalu. Awalnya aku loh terpaksa banget. Nggak ta...
-
Bismillaah.. Perlahan menghilang, Kelam awan bertabur kabut, Menelungkupi tiap rindu menggantung, Kilat syahdu memecah lentera hati, B...
-
Sumber gambar: "Google" Ciyeeeeee... gimana ya, rasanya menikah? Saling adu jotos tapi pakai gaya yang klasik dan romantis....
-
Bismillaah... "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar k...
-
Bismillaah... Kelak hari itu akan datang. Hari kebangkitan yang dinantikan oleh sebagian orang. Mereka yang tau dan sadar akan kebesaran-...
-
Bismillaah.... Kutuliskan lagi benang-benang rindu di tengah gemuruh guntur dan guyuran hujan menyentuh hati.. Apa kabar kau di sana? Ya...
-
Bismillaahirrohmaanirrohiim.. Aku kembali.. dalam bingkai dakwah. Memulai hal yang terhenti. Perjuangkan dia yang terlupakan. Meluruska...
-
Satu lagi kupersembahkan untukmu.. Aku tak berharap kamu mengerti, tapi aku harap kamu merasakan dengan lembut rasa yang mengalir... ...
-
(Sourced: google) Langkahku terhenti di sini, Terdiam.. Sesekali kupandangi sekelilingku.. Adakah sosok yang kukenal? Kuh...
~WELCOME~
hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar