Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Selasa, 26 November 2013

Mau Dipendam Sampai Kapan? #2

Kudapati dua orang laki-laki tengah duduk di atas motor biru. Menunggu seseorang rupanya. Aku tersenyum kepada mereka. Mereka pun tersenyum padaku. Kuanggukkan kepalaku.
"Dan, ya? Ayok, langsung saja."
Tanpa basa-basi lagi, aku memutar motorku dan mendahului mereka menuju rumahku. Kulirik merek melalui kaca spionku. Laju motornya sangat lambat, apa gara-gara rute ke rumahku yang terlalu ekstrim, ya?

Di depan rumah...
Dengan gagahnya aku memarkirkan motorku dan diikuri oleh Dan di posisi parkir yang lain. Sampai detik itu aku masih belum berbicara apapun kepada dia dan temannya. Dengan mengumpulkan keberanian diri yang digumpal-gumpal jadi satu, akhirnya aku berbicara.
"Ayo, masuk."
Jeddeeeng... cuma itu saja? Iya, itu dulu buat permulaannya. Deg-degan, meeen...
Mereka membalas epilogku dengan anggukan kepala, mesam-mesem, dan saling dorong. Oke, itu sudah biasa terjadi di kota-kota besar. (Nahlo?)

Di ruang tamu...
Mereka duduk. Aku masuk ke ruang keluarga untuk meletakkan kunci motorku, lalu ke ruang tamu lagi. Mereka menatapku. Aku tersenyum (lagi). Kubulatkan tekad lagi untuk memulai percakapan.
"Maaf ya, tadi lama."
"Eh, iya nggak apa-apa. Oh iya kenalin, ini Rahn," katanya sambil mengangguk ke arah temannya. Senyum jenaka.
"Salam kenal. Saya Dira," jawabku dengan senyuman (lagi?).
"Jadi, tadi survei-nya berapa kali?" tanyaku.
"Tiga kali, Dir. Sekali yang sebelum sholat, kedua.. tadi sebelum nelpon kamu, dan ketiga.. pas sudah sampai di atas, kaminya balik lagi ke bawah."
Aku tertawa. "Waah, tinggal dikit lagi, loh. Ujung-ujungnya saya jemput juga, kan? Pengen repot banget, nih.."
"Hehe, habisnya kami nggak enak kalau harus menyusahkan. Jadinya ya, usaha dulu. Walaupun ujung-ujungnya tetap menyusahkan, sih. Hehehe..."
Aku tersenyum (lagi-lagi?). Suasana sudah mulai mencair. Rasa deg-degan dan khawatir bakalan gagap mendadak lenyap. Obrolan-obrolan pun mulai beruntunan keluar dari masing-masing kami. Tak ada rasa canggung lagi. Kami mengobrolkan apa saja. Mulai dari kampus, teman-teman di kampus, rencana beberapa tahun ke depan, tempat tinggal, sampai akhirnya ibuku keluar dan mengajak mereka mengobrol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar