Bersama hujan,
Pernah melukiskan kisah
Saat gemuruh halilintar tengah memecah langit,
Kau yang diam di gelapnya malam
Kau yang tak ditemani seorang pun untuk berbagi senyap
Kau terhanyut dalam kisahku
Segelas teh panas kuberi,
Kubagikan kehangatan untuk melawan dinginnya malam
Malam yang lembab
Dipenuhi air di seluruh langit
Dan aku yang berada pada kursi yang berbeda
Aku menggambarkan apa?
Ya, antara kamu dan rintik hujan
Bersinergi sama..
Ah~
Hujan yang dirindukan..
datanglah lagi...
Tentang mimpi yang tergantung, lalu perlahan menyapa dengan senyum nyata. Satu per satu jadi nyata. Inilah perjalananku, sebagai ibu dan segala macam mimpi yang terus ingin digapai. Babak baru—Ibuk Dian.
Entri Populer
-
aku tau semua akan seperti ini ketika dua hati terpisahkan masa tapi itu aka terjadi bukan sekarang susahkah menunda takdir ? jika ada...
-
Bismillah... Hari ini aku alami fase yang luar biasa. Awal pertemuan denganmu setahun yang lalu. Awalnya aku loh terpaksa banget. Nggak ta...
-
Bismillaah.. Perlahan menghilang, Kelam awan bertabur kabut, Menelungkupi tiap rindu menggantung, Kilat syahdu memecah lentera hati, B...
-
Sumber gambar: "Google" Ciyeeeeee... gimana ya, rasanya menikah? Saling adu jotos tapi pakai gaya yang klasik dan romantis....
-
Bismillaah... "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar k...
-
Bismillaah... Kelak hari itu akan datang. Hari kebangkitan yang dinantikan oleh sebagian orang. Mereka yang tau dan sadar akan kebesaran-...
-
Bismillaah.... Kutuliskan lagi benang-benang rindu di tengah gemuruh guntur dan guyuran hujan menyentuh hati.. Apa kabar kau di sana? Ya...
-
Bismillaahirrohmaanirrohiim.. Aku kembali.. dalam bingkai dakwah. Memulai hal yang terhenti. Perjuangkan dia yang terlupakan. Meluruska...
-
Satu lagi kupersembahkan untukmu.. Aku tak berharap kamu mengerti, tapi aku harap kamu merasakan dengan lembut rasa yang mengalir... ...
-
(Sourced: google) Langkahku terhenti di sini, Terdiam.. Sesekali kupandangi sekelilingku.. Adakah sosok yang kukenal? Kuh...
~WELCOME~
hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~
Selasa, 29 Oktober 2013
Rabu, 09 Oktober 2013
Titik-Titik Kisah #yosh
Bismillah...
Hari ke-9 di bulan Oktober. Apa kabar cinta? Masihkah tergantung dengan manisnya di hati masing-masing? Maihkan menunggu dalam diam dan doa? Atau menyerah dan meninggalkan perasaan yang perlahan tersadarkan oleh takdir yang berkata lain. Apa yang kau rasakan hari ini? Waktu berlalu begitu cepat bukan? Begitu saja meninggalkan kenangan dan berjalan maju menuju masa depan. Ah, seoptimis apa aku untuk menjamin masa depanku tanpa kenangan yang sempat diharap lebih itu? Sudahlah... aku baik-baik saja, kok.
Sudah deh, berpuitis-puitisnya. Kembali ke manusia normal yang nggak terlalu memikirkan EYD, penulisan yang baik, tanda baca yang diletakkan dengan tepat, bahh... apapun itu deh, pokoknya mau ditinggalkan sejenak.
Hem, ini nih ilmu baru yang barusan aku dapat.
Ruslan Abdul Gani dan Soekarno, "Kerbau menyusu anak kerbau."
Apa coba maksudnya? Ini istilah yang baru saja disampaikan sama Pak Dosen. Awal ceritanya sih gara-gara kau yang menjelaskan soal proses perancangan program pelatihan. Dan tau nggak dosenku bilang apa? HEBAT!
Maha Besar Alloh yang memberikan kelebihan dan anugerahnya yang tiada hentinya untuk seseorang yang dulu sempat melalaikan perintah dan ninggalin semuanya. Nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Eh, kembali ke arti istilah di atas. Artinya... yang tua mengambil pelajaran atau ilmu dari yang muda. Jadi, mungkin sih, pak dosen ngambil ilmu yang tadi aku sampaikan. Mungkin loh, ya.. Nggak mau GEER, bah :'(
Sudah... sudah... hatiku sudah membaik, kawan. Soal patah hati? Haha, siapa yang patah hati wehhh...? Nggak ngerasa, tuh. *buang muka*
Loh, kenapa jadi ngomongin hati lagi? Emmm... kita sudahi saja hari ini. Ini cuma breaking news saja, kok. Informasi penting untuk yang jarang mendapatkan info langsung dari diri yang terlalu lugu ini. *halah*
Hari ke-9 di bulan Oktober. Apa kabar cinta? Masihkah tergantung dengan manisnya di hati masing-masing? Maihkan menunggu dalam diam dan doa? Atau menyerah dan meninggalkan perasaan yang perlahan tersadarkan oleh takdir yang berkata lain. Apa yang kau rasakan hari ini? Waktu berlalu begitu cepat bukan? Begitu saja meninggalkan kenangan dan berjalan maju menuju masa depan. Ah, seoptimis apa aku untuk menjamin masa depanku tanpa kenangan yang sempat diharap lebih itu? Sudahlah... aku baik-baik saja, kok.
Sudah deh, berpuitis-puitisnya. Kembali ke manusia normal yang nggak terlalu memikirkan EYD, penulisan yang baik, tanda baca yang diletakkan dengan tepat, bahh... apapun itu deh, pokoknya mau ditinggalkan sejenak.
Hem, ini nih ilmu baru yang barusan aku dapat.
Ruslan Abdul Gani dan Soekarno, "Kerbau menyusu anak kerbau."
Apa coba maksudnya? Ini istilah yang baru saja disampaikan sama Pak Dosen. Awal ceritanya sih gara-gara kau yang menjelaskan soal proses perancangan program pelatihan. Dan tau nggak dosenku bilang apa? HEBAT!
Maha Besar Alloh yang memberikan kelebihan dan anugerahnya yang tiada hentinya untuk seseorang yang dulu sempat melalaikan perintah dan ninggalin semuanya. Nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Eh, kembali ke arti istilah di atas. Artinya... yang tua mengambil pelajaran atau ilmu dari yang muda. Jadi, mungkin sih, pak dosen ngambil ilmu yang tadi aku sampaikan. Mungkin loh, ya.. Nggak mau GEER, bah :'(
Sudah... sudah... hatiku sudah membaik, kawan. Soal patah hati? Haha, siapa yang patah hati wehhh...? Nggak ngerasa, tuh. *buang muka*
Loh, kenapa jadi ngomongin hati lagi? Emmm... kita sudahi saja hari ini. Ini cuma breaking news saja, kok. Informasi penting untuk yang jarang mendapatkan info langsung dari diri yang terlalu lugu ini. *halah*
Terus bersinar!
tak peduli senja tengah membelakangiku!
Terus buat jejak!
Karena kelak jejak itu yang akan mengikuti ragaku!
Semangat heyaaaaa~
#yosh !
~diani's~
Minggu, 06 Oktober 2013
#yosh !
Bismillah...
Kalau kata Alloh, "Janganlah kamu mendekati zina!"
Kalau kata murobi, "Anti sudah tau hukumnya, kan? Keputusan ada di tangan anti. Sama dia atau bukan sama dia, yang namanya jodoh nggak kemana."
Kalau kata Ibu, "Ya, kalau jodoh ya nggak kemana, ndok."
Kalau kata Mba Dea, "Belajar buat menjaga lagi, ukh. Peringatan Alloh sudah jelas. Jodoh pasti bertemu."
Kalau kata Dian, "Ehem! Tes... tes... satu... dua... tiga... Bismillah... Aku nggak mau membatasi diri dengan lingkungan. Ada batasan tapi tidak betul-betul terpisahkan. Dan satu hal, aku sudah bosan terjerumus dalam masalah yang sama. VMJ itu masalah sepele, tapiiii... dampaknya luar biasa! Apapun yang sudah terjadi, aku harus bangkit! Tidak ada yang namanya lelah untuk terus bangkit. Soal perasaan.. emm, sudahlah. Alloh telah mengaturnya. Mau menyesal? Tidak! Aku tidak menyesal. Malahan bersyukur :) Dan hal yang lain... Hati ini akan ditata ulang. Rombak habis-habisan malah. Judulnya sudah bukan 'Cinta Terpendam' lagi, tapi ya itulah... RAHASIA! Sekarang ini cuma bisa menikmati yang ada. Dan satu hal lagi, ah! Kebanyakan! Intinya aku tidak lemah, langkah ini akan kukembalikan pada Alloh, niat ini akan kuluruskan, dan iman ini akan terus meningkat."
Bukan masalah 'mau dibawa kemana hati ini'. Tapi sebenarnya semua sudah diatur. Tinggal bagaimana diri ini mengkondisikannya dan mematuhi apa yang sudah diatur. Duh, jadi bingung ini jari mau mengetik apalagi. Semuanya seperti mengawang. Ini saja mengetik tanpa mikir dulu. Langsuk tiktiktiktik... dan taraaaaa.. tulisannya langsung ter-post. Jadi kayak ajang curhat. Tapi, yasudahlah. Dan dari keempat pendapat di atas, kata-kata dari Alloh-lah yang paling menohok di hati. Mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya? Astagfirulloh~
Biarlah tanjakan itu menjadi saksi
Bahwa dulu kita pernah terpaut
Antara rasa dan dakwah
Juga sejuta rasa lain yang ikut membumbui
Biarlah langkah ini memilih mundur
Bukan untuk mengulangi
Namun untuk menghindar dan berpaling
Maaf, wajah ini pun sudah tak layak kau tatap
Apalagi kau kagumi
Tawa renyah atau apapun itu,
Mungkin hanya menjadi ingatan yang tersimpan
Maaf, aku lancang!
Tanpa sadar malah melukai
Menggoreskan sesuatu pada tempat yang tak semestinya
Ini bukan puisi!
Hanya bumbu manis penutup dua paragraf
Mengakhiri perjuangan
Tapi malah memulai tiap do'a
Dalam sujud di sepertiga malam...
Mungkin kamu tak merasa
Dan, biarlah...
Didekatkan atau dijauhkan,
Alloh-lah sutradaranya
Mau bagaimana lagi?
Hanya dalam do'a
Aku panjatkan harap dan impian
Aku tuangkan penyesalan
Aku pinta perpisahan...
Inilah lini hidup
Hari ini suka, mungkin besok tidak
Hari ini suka, mungkin besok tidak
Hari ini aku mendapatkan
Mungkin besok malah kehilangan
Ah, jadi ingat dengan satu prosa
Begini bunyinya...
"Belajarlah dari Elang. Dimana dia akan kembali kepada Betinanya."
Begitu kira-kira yang masih kuingat
Sosok yang mungkin akan pergi
Dan mungkin kelak akan kembali
Membawa berita bahagia atau duka
Bahagia untukku, dan duka bagi yang lain?
Atau bahagia untuk yang lain, dan duka untukku?
Atau bahagia untuk yang lain, dan duka untukku?
Wallahu'alam bishshowab'..
R. A.
Sabtu, 05 Oktober 2013
Hujan yang menyadarkanku...
Bismillah...
Langit tengah lelah menahan tiap bulirnya
Memendam kesakitan
Menyembunyikan muram
Dan sekuat tenaganya menghalau mendungnya
Hujan yang perlahan turun...
Menyentuh jemari ini dengan perlahan
Tiap bulirnya menyerap dalam jiwa
Antara bahagia dan kesedihan
Tak seperti biasa...
Hujan yang selalu menemani hari,
Menghadirkan ketenangan dan kegembiraan
Bukan kemurungan yang senada dengan mendung
Bukan rintikan yang senada dengan bulir-bulirnya
Aku dan hujan memang sama...
Terkadang lelah menahan mendung
Terkadang lelah mencerahkan hari
Dengan senyum hangat mentari
Dengan kemilau cahaya senja
Dan sepoi angin yang menemani
Sampai kapan langit dapat menampung mendungnya?
Ketika hatinya penuh dan ingin meledak,
Apa yang dilakukannya?
Ya! Dia akan mengeluarkan semuanya
Semua! Bukan beberapa...
Yang sekarang aku lakukan adalah kebalikannya
Aku akan tetap menampung
Mengumpulkan rasa
Yang aku sendiri tak dapat menggambarkannya
Menunjukkannya pun aku tak bisa
Senyuman ini lebih mendominasi
Tetap cerah, walaupun dalamnya mendung
Hujan yang mewarnai hari...
Terima kasih atas pengertiannya
Menemani hati yang tak terlukis lukanya
Menggambarkan rintihan yang senada dengan bunyimu
Aku tak kan selemah dirimu
Aku tak kan tumpah layaknya airmu
Dan aku akan tetap begini
Dengan senyum merekah secerah mentari
Yang terkadang menyilaukan
Yang terkadang dirindukan...
Setelah rintikmu hilang...
Setelah rintikmu hilang...
Terima kasih...
Darimu diri ini belajar...
dan terus belajar...
Hingga nanti yang terpendam ini akan tumpah
Tapi tidak di depanmu,
melainkan di hadapan Pencipta-ku...
Yang menciptakan suka dan pilu...
Yang menumbuhkan lalu melayukan...
Ah!
Rabu, 02 Oktober 2013
Denting Hati - Oktober
Bismillah...
Aku kalut. Entah musti berbuat apa. Aku merasa diriku ini jahat. Mengambil alih kebahagiaan yang lain dan merasa senang atas itu. Padahal aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan dan tak pernah mendapatkan apa yang aku harapkan dalam tiap do'a. Ah, akunya saja yang ke-GEER-an mungkin. Dia belum pernah bilang secara serius. Dan aku harap, tak ada apapun di dalam pertalian ini. Ah! Makin ngelantur. Kenapa mesti mengharapkan yang tidak pasti? Ini nih, yang malahan membebani pikiran. Hanya bisa menangis dalam do'a. Merasa berdosa dan malu pada Alloh. Sesak. Mau kepada siapa lagi aku mengadu? Karena Alloh is the only one who know me so well :')Untuk senja yang selalu menemani hati dan hariTerima kasih atas apapun yang telah diberikanAkupun tak berani menuntut banyakHanya berharap diam-diam dalam doaHai, senja yang selalu menyejukkan hati...Tak sadarkah kau bahwa ada seseoarng yang tengah mengharapkanmu?Bukan aku!Tapi dia yang mungkin merasakan getaran yang samaDan kamu tau?
Saat ini kepalaku penuh dengan kamu dan diaRasanya menghimpitAku tak pernah suka dengan situasi iniDimana aku harus bijak,Dan kamu tau?Aku tak pernah mampu untuk bijak...
Kamu melihatku karena apa?
Semoga tak ada kata 'karena' dalam ulasanmu
Semoga tak ada kata 'karena' dalam ulasanmu
Aku harap-harap cemas
Antara hati dan pengorbanan
Antara kamu dan dia
Antara teman dan masa depan
Ah!
Kamu tahu?
Aku nyaris menyerah dan melepaskanmu
Aku harus bagaimana?
Ah, aku lupa...
Kamu pun tak tahu tentang apa yang aku rasa
Aku memilih diam
Bingung harus memulainya
Bingung dengan apa hakku untuk itu
Dan bingung dengan KITA
Aku memang manusia baru di hidupmu
Tak tahu masa lalumu dengan baik
Tak tahu siapa saja yang pernah singgah di hatimu
Dan akupun lelah untuk memintamu bercerita
Maaf, Aku lelah...
Langganan:
Komentar (Atom)
