Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Kamis, 24 Juli 2014

Pencari Kebenaran #7

Sumber gambar: "Google"

Ciyeeeeee... gimana ya, rasanya menikah? Saling adu jotos tapi pakai gaya yang klasik dan romantis. Nahlo? Siapa sih yang nggak pengen nikah? Ayo, coba tangannya diacungkan!

. . . . . . .

Bila lelahmu terbayar dengan pahala..
Bila penantianmu terbayar dengan pahala..
Bila peluh juangmu terbayar dengan pahala..
Bila separuh dien yang kau tegakkan terbayar dengan pahala..
Lantas, apa yang kau khawatirkan?
Berlelah-lelah sekarang,
Bersenang-senang di surga kemudian..
Bersabar sekarang,
Bersanding di pelaminan kemudian..
InsyaaAlloh..

. . . . . . .

Sumber gambar: "Google"

Teruntuk para jomblo-ers yang sampai detik ini masih menjaga hati, pandangan, ucapan, dan raganya dari yang tak mempunyai hak atas diri ini...

"Kau mungkin merasa bosan dan kepayahan menopang diri di ujung duri seorang diri. Ada rasa ingin kembali mencicipi indahnya 'dicintai'. Ada rindu yang bahkan untuk mengungkapkannya saja, puluhan ribu bulir sebiji jagung sudah mengucur dari dahi. Lebih konyolnya lagi, ketika bertemu dengan sang tautan hati, buru-buru diri disibukkan, bahkan tak jarang kawan di sebelah sampai terpingkal sendiri. Kau lebih banyak menyendiri. Bukan karna dikucilkan, tapi itulah pribadi mandiri yang kau usahakan ada agar tak melulu menyusahkan orang di sana-sini. Berpayung kecewa pun, terkadang sudah menjadi makanan pokok bagimu ketika kau tak dapatkan apa yang kau harapkan. Tak ubahnya kau terus bangkit. Tak peduli dengan nyinyiran yang begitu pedas di telinga juga hati. Kau berjalan maju, terus maju, tak hiraukan semua celotehan hingga kau temukan setitik cahaya harapmu. Ada pula yang awalnya tak berniat menjadi baik, ketika takdir mempertemukannya dengan yang alim, hidayah melebur dalam jasad juga ruhnya. Tekad bulat merubah diri pun disegerakan. Demi menjaga apa yang seharusnya kau jaga, kau rela melepaskan masa gemerlap penuh cinta bertaburan, membahagiakan syahwat, menyeret diri dalam kubangan dosa terberat."

"Kau tahu? Semua itu barulah prosesnya saja yang ditampakkan di jalanan yang setiap hari engkau lalui. Perlahan-lahan menguji kesabaranmu dalam menanti dia yang sering kau lirik. Jika kau sadar, beribu istigfar kan terucap mengelakkan rasa yang terus mengetuk. Kau tak pantas disalahkan. Karena ini proses, ya lagi-lagi proses. Tak terbayangkan rasanya, jika satu langkah lagi mendekati dia yang disiapkan, ternyata kau menyerah dan menanggalkan semua. Ah, habislah sudah semua yang kau punya. Yang ada hanya kekecewaan tak mendasar. Sakit atas kesalahan sendiri. Apa kau percaya dengan janji-Nya? Ada kepastian di sana, tapi.. semua itu disiapakan hanya untuk mereka yang bersabar dan setia bertahan."

"Coba kau bayangkan.. menundukkan pandangan, mengatur ritme detak jantung, ada harap yang mencuat, pikiran tak karuan, langkah selalu dipercepat, seolah-olah diri siap untuk dibenamkan, semua itu terjadi ketika dia sang dambaan hati melintas di hadapan. Apa dia merasa? Tidak! Apa dia tahu perjuanganmu dan ketersiksaanmu? Jelas Tidak! Jadi, untuk apa kau terus pasrah tersiksa di lembah ketidakpastian dan kesemuan khayalanmu sendiri? Bangkitlah~ Fitrah dan fitnah itu bedanya sangatlah tipis. Bila rasa itu tetap kau rawat, maka fitnahlah yang kan kau temukan di akhir episodenya. Walau tak dapat dipungkiri, semua yang kau rasakan itu adalah fitrah terindah yang Dia anugerahkan untuk semua makhluk-Nya. But, sekali-kali tidak! Tak ada alasan tuk benarkan fitrah yang keliru alurnya. Tak ada jalan pintas tuk membenarkan fitrah yang berujung pada fintah. Untuk yang ini, lebih baik kau menarik diri. Pantaskan dan lepaskan!"

. . . . . . . .

Aku nggak lagi ngomporin kalian buat membunuh perasaan yang ada itu loh, yaa.. Tapi, aku cuma pengen berbagi ilmu, bahwa kecewa itu nggak enak. Sakitnya tuh di sini. Dan nggak ada garansinya. Kecuali, setelah semua itu berlalu, kita lantas sadar dan kembali menjadi hamba-Nya yang setia. Nah, kalau setelah itu kita malah menjauh sejauh-jauhnya dari Dia? Naudzubillaah..~

. . . . . . . .



Balikpapan, 24 Juli 2014
00.34 wita
'DI'

Senin, 21 Juli 2014

Teleskop Mimpi #3

Dear Dira,

Darinya aku belajar.. tentang dunia yang begitu pekat untuk aku jalani. Semua semu seakan menarik hati untuk berjalan mundur mengitari mimpi dan khayalan liarku sendiri. Aku sadar, banyak kisah yang kuukir lalu kusia-siakan begitu saja. Tak ada waktu kuluangkan untuk masa-masa realitasku. Apa yang kuperbuat, seolah-olah menghabiskan semua tenaga yang kumiliki. Tentangmu yang kubuat secara acak, mulai dari cinta yang kuperjuangkan sendiri, sampai bahagia yang kurangkai, namun masih tak kuketahui bagaimana alur dan endingnya.

Kau terlalu banyak membantuku. Menuangkan tiap rasa yang tak pernah mampu terucap. Mengungkapkan bahasa yang seakan-akan membeku karena rasa yang terlalu lama kuolah dan kupendam sendiri. Dari sini aku sadar, ini semua semu.. sebagian orang akan menganggapku tak serius menjalani hidup -- masih stuck pada satu titik perjuangan tanpa langkah untuk meniggalkan. Aku bagaikan hidup di dua sisi yang tak beraturan.

Tentang hidup yang tak juga membaik. Lagi-lagi aku sadar, aku bukan sebaik-baik makhluk yang diciptakan. Aku bukan sebaik-baik wanita yang disiapkan. Tapi, aku berangkat dari sini, bahwa perjuangan untuk menjadi sebaik-baiknya makhluk dan wanita yang tercipta itu butuh perjuangan. Mengorbankan apa yang dipunya, sampai melepaskan apa yang digenggam.

Bukan soal cinta yang ingin kubagi denganmu, Dir. Mataku terbuka.. setelah menonton perahu kertas part 1 &2, aku menilai segala macam bentuk cinta yang tertuang di sana dengan versiku sendiri. Hidup tak sekedar mengejar cinta ya,  Dir. Ternyata, di belakang itu ada banyak hal yang harus diperhatikan. Entah, akan banyak orang yang menganggap film itu tak layak. Ya, aku setuju bila semua adegan yang ada di situ hanya dinilai dari sudut nafsu. Tapi, bagaimana jika diputar sedikit saja sudut pandang yang melenceng itu. Ada ketulusan di sana.. ketulusan menjaga hati dan rasa yang tertutup rapih.

Ada satu hal yang kudapat dari sana.. bahwa "yang namanya hati, walau bertahun-tahun tak terungkapkan, tak ditampakkan, tak diutarakan, kelak jika saatnya telah tepat, semua rasa itu akan menguap dengan sendirinya. Tak meninggalkan setitik jejak pun di dataran hatinya. Artinya, semua rasa itu tersampaikan dengan sempurna. Hemm.."

Sudah berapa lama Dir, kamu kugunakan dalam setiap cerita yang kubuat? Sudah berapa banyak tokoh yang kutautkan denganmu di setiap cerita yang kuhasilkan? Terlalu banyak, ya? Sudah berapa tahun ya, Dir? Masa-masa SMP yang sengaja kulahirkan tokoh dirimu itu, rasanya sudah saatnya kau pensiun. Kita harus berhenti bermimpi, Dir. Banyak hal yang realistis kita lewati begitu saja. Kita terlalu bahagia dengan perasaan yang kita ciptakan sendiri. Terlalu banyak angan yang kita gantung tapi tak ada satu pun kepastian yang kita dapat. Haha, kita terlalu polos dan tolol.

Maaf, padahal aku yang menciptakanmu. Tapi, aku juga yang harus mematikan karakter luar biasamu itu. Maaf.. kelak, namamu akan menghiasi tiap kisahku lagi dalam lembaran tulisan yang dihasilkan dari kisah nyataku sendiri. Bersama yang telah ditakdirkan. Yang hatinya terjaga rapih, yang di dalam do'a-do'anya ada namaku disebut, yang semuanya telah diaturkan untukku, yang tak perlu lagi aku berkhayal tentang itu -- melainkan semua tinggal kutuangkan langsung karena semua sudah kualami dan kumiliki. Duh, lagi-lagi aku berkhayal, Dir. Hm, apa salahnya mengharapkan sosok sholeh dalam perangainya? Ah!

Dir, aku baru sadar.. kenapa setiap cerita yang kuciptakan itu tak ada satupun yang terselesaikan? Karena semua cuma ilusi, mimpi kosong yang seakan-akan, aku mendahului takdir-Nya. Aku selalu membuatmu bahagia, tapi.. apa aku juga rasakan bahagiamu? Nggak, Dir! Aku bahkan belum pernah merasakan itu semua. Kalaupun sudah, aku seperti menampar diri dengan tulisan-tulisan yang sudah tertata itu. Aku lelah.. ada banyak hal yang harus kita selesaikan di depan sana. Aku pun harus kembali ke dunia nyataku. Berhenti berangan-angan, temui kenyataan.

Sampai jumpa ya, Dir. Akan ada banyak orang yang merindukan sosokmu di balik novel yang belum kelar dan nggak rampung-rampung itu. Love, Rain, Hurt,.. suatu hari nanti bakalan mejeng di estalase toko buku ternama dengan alur, setting, tokoh, kisah, dan epilog serta prolog yang akan kurombak habis-habisan. Tapi nanti ya, Dir. Saat semuanya sudah menyatu.

Maaf.. untuk kisah fiksi tentangmu, harus kuhentikan sampai di sini. Kita akan bertemu di kisah true story saja. Hehe.. Hiks T.T


Balikpapan, 21 Juli 2014
02.08 wita
Biarkan Dira pergi..
'DI'

Minggu, 20 Juli 2014

Temukan Aku #23

Bismillaah....

Kutuliskan lagi benang-benang rindu di tengah gemuruh guntur dan guyuran hujan menyentuh hati..
Apa kabar kau di sana?
Yang dulu sempat memerah-mudakan langit kelam itu?
Bagaimana hatimu di sana?
Apakah terbawa pergi dengan seiringnya hujan berlalu, atau tetap membekas seperti kumpulan rintik hujan yang tertampung penuh pada drum-drum kosong?

Pernah ada kisah membara,
Pernah ada tangis merelakan
Pernah ada tawa riang bercengkrama dengan malam,
Pernah ada sedih menemuimu di penghujung kisah...

Bagiku tak mengapa...
Toh, air yang mengalir mengikuti alirannya itu..
Ternyata tak kan seutuhnya sampai pada satu muara...
Kenapa bisa?
Karena aku temukan sebuah kenyataan..
Bahwa aliran itu harus dilawan,
Tak boleh searah, melainkan berlawanan arah...
Tak kan sampai air yang mengalir itu,
Bila tak temui persimpangan lain di tengah perjuangannya...
Dan di sini aku menemuinya..
Sebuah kenyataan..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya'

Tahu kah kau apa artinya itu?
Yang dulu tak lagi sama dengan yang sekarang...
Yang menggebu, kini berganti dengan detak yang lain..
Perih-letih, telah berganti dengan santun-penerimaan...

Kita terlahir bukan untuk mendahului takdir,
Melainkan mengikuti arah takdir memacu kencangnya langkah dan degup semangat ini..
Bila dulu indah, harusnya hari ini pun lebih indah..
Tanpa bayangan merah muda,
Tanpa jejak rasa 'kurang dari tiga'..

'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya',
Mengajarkanku untuk pertahankan kekuatan pada pangkal akarku..
Aku bukan dia,
Dan dia pun bukan aku...

'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya',
Mengajarkanku tentang perjuangan memahat dengan tulus pada tiap batang-batang kering yang pasrah kuukirkan kisah baru...
Aku apa adanya begini,
Bukan dia yang menuding, lantas menjauhiku..

Sudah berapa banyak tulisan tercipta untuk sang senja yang terlalu jauh tergantung di ujung langit sana?
Banyak!
Apakah aku bosan?
Tidak!
Apakah aku lelah?
Tidak!
Jadi apa?
Aku hanya sadar..
Kata-kata 'Semua akan indah pada waktunya, layaknya air yang kan temukan muaranya' itu tak pernah ada di lembaran takdirku..
Sebab aku bukan air yang mengalir...
Aku hanyalah air yang terjatuh dari langit,
Yang setelah itu kan terbitkan warna-warni suasana hatiku,
Yang setelah itu harus berpisah dengan yang lain..
Hanya itu!
Dan aku tak butuh aliran..
Aku hanya akan terus jatuh..
Jatuh pada satu hati yang siap tertaut..
Bukan mengalir menemuinya..
Melainkan jatuh untuk ditangkap dan direngkuhnya dalam penantian tak terbatas...
Layaknya Rintik Hujan dan Tanah Basah...

Kita tak lagi sama..
Aku tak lagi berharap..
Kita terpisah..
Aku memilih pergi..
Kita adalah kita..
Aku dengan pilihanku..
Dan kau dengan pilihanmu..



Balikpapan, 20 Juli 2014
23.32 wita
satu bulan menjelang 21..
tak lagi sama..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya'
'DI'

Temukan Aku #22

Bismillaah...

3 tahun yang beberapa bulan lagi akan terhenti. Segala macam perjalanan ditempuh. Menyisakan duka dan bahagia beriringan maupun silih berganti. Ada yang tertinggal, ada pula yang terbawa pergi oleh angin. Menyisakan ruang-ruang bebas yang siap diisi kembali dengan kisah dan perjalanan yang baru. Selamat tinggal masa lalu.. Assalaamu'alaykum masa depan yang dijanjikan sempurna :)

........................................ rindu~

 Sudah dapat apa di tiga tahun yang hampir habis ini?
Hanya mimpi sajakah atau ada cita yang sudah kugenggam dan siap untuk difigurakan?
Aih, layang-layang yang menghempaskan diri dengan pasrahnya di langit sana, dihembuskan perlahan oleh angin pada sela-sela kerangkanya.. apa masih bisa melawan lantas meninggalkan apa yang telah diarungi selama ini?

...................................... bebas~

3 tahun di dunia perkuliahan. 3 tahun berkutat dengan tugas-tugas, ujian, orang yang beraneka ragam, persoalan pelik memancing amarah, organisasi, kesibukan melejit, tuntutan ini-itu, cinta, cita-cita, pengorbanan, perubahan, tertinggal... dan pada akhirnya akan mencapai sebuah penghargaan tertinggi.. wisuda~

Kalau kata mereka aku nyebelin, ya.. seperti itulah saya. Walau sudah berusaha untuk 'menyenangkan' hati orang banyak, tetap aja terselip kata 'nyebelin' di akhirannya. Sebel! Tapi nggak papa.. 3 tahun ini aku belajar banyak. Nggak sekedar datang kuliah, duduk, dengerin atau tiduran, nguap, pulang, sampai rumah tidur.. begitu seterusnya sampai lulus. Hoam~ that's a bored! Saranku, kuliah itu silahkan dijadikan ajang 'survival'. Dimana ilmu dan pengalaman itu bisa didapatkan dimana-mana. Dari yang gratis sampai bayar. Dari yang ditempuh dengan jalan kaki, sampai yang ditempuh dengan motor sampai jarak berkilo-kilo meter.

Aku tak kan ceritakan banyak hal tentang apa saja yang kudapat di 3 tahunku. Tapi, silahkan kau menilai dari diriku yang bisa kau lihat dengan nyata saat ini. Ingat, saat ini, bukan yang dulu.
Selalu bersyukur.. di balik pengorbanan selalu ada buah stroberi manis tanpa rasa asam di ujung kebun tuaian sendiri. Haha!

Dadagh..!
3 tahun yang berkesan luar biasa.
Macam-macam teman, dosen, kampus, organisasi, makanan, minuman, tempat nongkrong, nama jalan, jalan tikus, hati yang tertinggal, makalah, event, proposal, tugas akhir...
Kampus belantara.. kapan bisa mampir ke sana lagi?
Kampus bertingkat.. emm, 3 tahun sudah cukup, deh. Jangan ditambah, yaaa..

Eh, pernah ngerasain jadi ketua panitia? Aha! Aku juga sudah pernah.. tapi, ingin rasanya memberikan sambutan dengan atas nama 'sambutan ketua panitia'..
Semoga~