Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Senin, 30 September 2013

Mau Dipendam Sampai Kapan?

Cinta terpendam... sekelumit kisah akan aku hadirkan melalui tulisan-tulisan nakal yang tersalurkan melalui jemari-jemari ini. Dengan debaran hati yang terus bergemuruh, aku coba keluarkan apa yang kurasa. Padahal, belum ada yang mengetahui perasaan ini yang sebenarnya. Bersama tulisan yang menyatu dengan cinta yang perlahan mulai muncul, bismillah... kisah ini pun aku mulai.
. . . . .


Awal kisah bersamanya.  Pertemuan singkat, malahan terlalu singkat. Pertemanan pun masih bisa dihitung dengan jari lamanya. Kami bertemu berkali-kali, tapi tak pernah bertegur sapa. Dia yang tiba-tiba datang, saat ini malah mager di hati. Haha, inilah yang dinamakan takdir. Mungkin, tapi yasudahlah. Nikmati saja dan biarkan mengalir. Layaknya hujan yang tak pernah berhenti di kala mendung terus memayungi hari. #tsah

. . . . . 
 
Pertemuan pertama...
Perdebatan semakin sengit. Antara kubu ibu-ibu dan bapak-bapak. Sang moderator hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Topik pembahasannya sangat berbobot, tapi kami semua membuat suasana dan sudut pandanga dari permasalahan ini hanya berdaasrkan transportasi, uang belanja yang akan semakin menipis, uang jajan suami bakalan berkurang, stok makanan di rumah tidak melimpah, dan lain-lain. Haha... oh iya, kami berdebat tentang kenaikan harga BBM, dampak yang dihasilkan, dan solusinya. Tiba-tiba sebuah suara yang mengalihkan mata kami semua menyuarakan pendapat luar biasannya. Mata kami menatapnya, mulut yang tadinya mengoceh ini-itu, tiba-tiba tertutup secara otomatis. Dia bersinar, kata-katanya menyihir kami untuk terus menyimak tiap kata yang dihasilkannya. Dia kharismatik dan penuh dengan pengetahuan yang luas. Ya, karena dia pembiacaraan kami jadi lebih berbobot.
 
"Kita bisa menilai kenaikkan BBM dari berbagai sudut pandang. Ketika inflasi, pemerintah tentu saja memiliki kebijakan sendiri untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan banyak hal. Tidak hanya menguntungkan bagi pihak luar, tapi pemerintah juga harus mengendalikan kemudinya  agar para ibu-ibu dan bapak-bapak tidak dibuat pusing olehnya."
 
Kurang lebih kata-kata yang keluar seperti itu.  Ada raut bangga. Di balik kacamatanya, binaran mata yang terpancar itu terlihat jelas. Dia klasik. Dengan wajah oval dan kacamata itu sudah cukup sempurna untuk menjadi seseorang yang berbeda. Eh, aku nulis apa barusan? Ah!
 
Nah, sekarang dia lagi orasi. Kita dipimpin olehnya. "Semakin unik saja orang ini," pikirku. Orangnya benar-benar unik. Apa saja diucapkan, nyanyi-nyanyi tidak jelas, dan kami cuma tertawa, sebenarnya sih, aku saja yang paling banyak tertawa. Duh, jadi malu, haha... Namanya siapa, ya? Lupa, eh. Gara-gara keasikkan tertawa, jadinya semua ingatan kayak meluap.
 
"Ho, namanya Dan. Hebat... hebat... dia nyabet gelar peserta yang terbaik," lagi-lagi aku ngedumel sendiri. Barusan, peserta terbaiknya disuruh maju. Dan, namanya dipanggil. Dapat buku yang tebal, tuh. Rasanya pengen pinjam, tapi mana ada nyali untuk bilang ke dia.
 
Hari ini berakhir dengan luar biasa. Aku hanya menganggap dia itu sosok yang hebat. Hm, mungkin ingatan ini akan terkikis dengan seiring berjalannya waktu. Ah, mungkin saja akan tetap terlekat erat pada otak ini. Siapa yang tahu?
 
. . . . .
 
Pertemuan ke-dua...
Aku lupa dengan sosoknya. Kepikiran pun tidak. Benar-benar lupa sama sekali. Dia yang dulu memesona, ya hanya itu. Sebatas kagum saja. Hehe...
 
Hari ini kami bertemu lagi. Dalam acara training dan lagi-lagi dia unjuk gigi. Ingatanku mundur ke kejadian lalu. Aku menanyakan namanya pada temanku. Dan tersebutlah satu nama, Dan.
"Namnya siapa?"
"Yang mana?"
"Ituloh yang lagi berdiri di depan."
"Oh, ituuuu... Namanya Dan. Kan dulu kita pernah ketemu sama dia. Masa lupa?"
"Hoo.. iya, aku baru ingat. Haha, maklumlah pikunan."
"Dasar!"
 
Aku pun hanya merespon perkataan temanku dengan tawa yang terkesan 'cengengesan'. Mataku pun teralihkan ke dia. Dia yang ada di depan maksudnya. Masih berkarisma dan luar biasa. Sampai saat ini, aku hanya mengagumi dan tidak memikirkan yang lain. Karena ada seseorang yang lebih tinggi posisinya di hati ini. Seseorang yang lebih berkilau dari padanya. Hm ya, waktu itu... Tapi aku pun tak tahu bagaimana nanti.
 
. . . . .
 
Pertemuan ke-tiga...
Aku memasuki sebuah gang dan berbelok ke arah rumah yang di cat berwarna pink. Segera kumatikan mesin motorku, parkir dengan sempurna, dan masuk.
"Assalamu'alaykum!"
"Wa'alaykumussalam..."
Aku celingukan.
"Loh, kok belum ada akhwat yang lain, mbak?"
"Nggak tahu, nih. Kayaknya pada telat, deh."
"Yah... kirain ana udah yang paling telat. Haha... selamet deeeehh..."
Aku terkikik sendiri. Tiba-tiba...
"Hush! Jangan nyaring-nyaring, ukh. Ada ikhwan tuh di dalam."
Mulutku langsung terkatup secara otomatis. Wajahku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh mbak-mbak itu.
'Hoo... ada ikhwannya juga, toh. Siapa saja, sih?' gumamku dalam hati. Mataku mencari seseorang. Aha! Ada si kakak ternyata. Eh, tapi ada dua orang lagi. 'Ah, biar saja lah. Ngapain juga diurusin?' lagi-lagi, gumamku dalam hati.
 
Aku memalingkan wajah dan perhatianku kembali pada mbak yang ada di depanku ini. Aku menghabiskan waktu dengan mengobrol ini itu. Mulai dari topik terkini, sampai grammar Bahasa Inggris. (Apa, deh?)
 
Tak lama, teman kami datang, tapi hanya satu orang. Dan waktu pun terus berlalu. Tanda-tanda mulai bosan menunggu. Kami cipika-cipiki, berjabat tangan dan menanyakan kabar. Lalu, akhwat yang baru datang mengeluarkan suara ke arah ikhwan.
"Akh, kita mulai saja sekarang. Takutnya malah kesianga."
"Oh, yasudah. Akhwatnya masuk saja. Kita mulai sekarang trainning-nya."
"Yuk ukhti, kita masuk."
Aku dan mbak yang pertama datang menganggukkan kepala dan menggiring barang bawaan kami untuk dibawa ke dalam.
 
'Eeeeehhhh....!' Aku heboh sendiri dalam hati. 'Itu kan Dan yang waktu itu pernah ketemu. Eh, iya bukan, sih?' Entah sejak kapan aku jadi suka ngedumel dalam hati. Ada percakapan-percakapan yang sering muncul sendiri.
 
Aku memerhatikan dia. Satu detik, dua detik, tiga detik, .... 'Ah, astagfirulloh... fokus, fokus.'
Dia sedang asik mengutak-atik laptonya dan berdiskusi dengan salah seorang ikhwan. Lalu, dia mengambil kamera digital yang ada di depan ikhwan tersebut, dan mulailah kegiatan jeprat-jepretnya.
 
Dalam hati, 'Gileeee... ini orang narsisnya ngalah-ngalahin aku.' (emot muka datar)
 
"Sini akh, ana fotoin." Aku takjub dengan deretan kata yang keluar dari mulutku. Ada rasa menyesal.  'Duh, lancangnya. Habislah!'
"Nggak usah... Saya pakai ini saja."
Dia pun menggeret meja kecil yang ada di depannya. Yak, self-timer-nya sudah disetel dan 3... 2... 1... 'cekrek'. Blitz yang luar biasa itu menjepret mereka. Tidak cuma sekali, tapi berkali-kali. Muka Dan tampak kecewa.
'Tuh, kan... Pasti fotonya jelek. Nggak mau difotoin, sih,' dumelku lagi.
Aku langsung membekap mulutku sendiri. Padahal mulut ini tidak mengeluarkan kalimat apapun. Tapi aku merasa lancang sudah ngedumel kayak gitu.
 
Dia heboh sendiri tanpa menoleh ke arah akhwat. 'Super... dia orangnya cuek. Yasudahlah, biarkan di berkarya dengan caranya sendiri'.
 
Setelah sesi foto-foto para ikhwan, trainning dimulai. 10 menit berlalu... tiba-tiba Dan mengeluarkan suara.
"Akh, ana ijin, ya. Ada kegiatan yang harus ana datangin sekarang. Teman-teman ana sudah nungguin."
"Oh iya, nggak apa-apa, akh. Silahkan... nanti ana kasih materinya saja."
Mataku memerhatikan mereka. Tapi hanya sampai situ aku mendengarkan dengan seksama. Setelah itu, aku larut dalam bahan-bahan yang diberikan narasumber. Tidak menatap mereka lagi.
 
"Ana pergi dulu. Assalamu'alaykum..."
"Wa'alaykumussalam..." jawab kami serempak. Aku pun juga ikutan serempak menjawab salamnya. Sudah terbiasa menyahut jika ada yang mengucapkan salam. Jadi, walaupun tidak melihat siapa orang yang mengucapkan salam, mulut ini akan secara otomatis menjawabnya.
 
Selepas dia pergi, kami semua asik mendengarkan materi-materi yang dijelaskan oleh pemateri. Semuanya memerhatikan dan secara acak pula, otak ini melupakan kejadian barusan.
 
. . . . .

Pertemuan ke-empat...

Tiktiktiktiktik.... suara itu berderet membumbui malam. Suara keyboard yang sedari tadi kutekan dengan gemas. Yak, aku tengah menyelesaikan tugas-tugasku. Mataku beralih ke layar handphone, menatap sebuah nama yang terpampang pada percakapan teman-teman di facebook. Hem, ada nama yang kukenal. Yap, beberapa orang memang kukenal, tapiiii... ini ada satu nama yang cuku familiar. Aku meng-klik nama akun facebook-nya dan memerhatika secara serius yang ada di profilnya. 'Wah, ini kan Dan', seruku dalam hati. Tangan ini pun langsung memilih tulisan 'add friend'. Dan yasudah, hanya itu yang kulakukan tanpa ada niatan yang lain.

Besok harinya aku membuka akun FB-ku lewat handphone lagi. Dan ada sebuah pesan masuk. Dheg... dari Dan.
"Assalamu'alaykum... Salam kenal, kawan.. :)"

Aku menjawabnya dan dari sinilah semua berawal. Kami melanjutkan obrolan kami berhari-hari, sampai tibalah hari itu. Aku menawarkannya untuk datang ke rumah saat Lebaran nanti. Entah, aku hanya berpikir, 'Apa salahnya mengajak teman-teman untuk datang ke rumah?' Ya, seandainya aku tak menggubrisnya, seandainya aku tak ramah dengannya, seandainya aku tak mempersilahkan dia untuk masuk di hidupku, mungkin... ah!

Pling...
"Aku sudah di gang, nih."
Sms dari Dan, toh. Aku segera membalasnya dan mengambil kunci motorku.
"Oke, tunggu di situ."
Kunyalakan motor merahku, bruumm... siap menjemputnya.
 



Kamis, 26 September 2013

Daftar Hidayah (Insya Alloh) :)

Bismillah...
 
Pelajaran yang di dapat hari ini:
1. Tidak menyia-nyiakan kesempatan
2. Ikhlas dan sabar dalam menyelesaikan sesuatu
3. Tetap menjalankan amanah walaupun berat
4. Tidak perlu menujukan kesalahan pada orang lain
5. Ketika yang lain tidak bisa menyelesaikan masalah bersama, selesaikanlah sendiri!
6. Pertemanan itu didasari dari perbedaan dan pemahaman yang mendetail
7. Ta'aruf itu bukan sekedar ajang cari jodoh, tapi langkah awal untuk menyempurnakan dien
8. Tepat waktu dan konsisten
9. Berhenti telat, atau seumur hidup akan menyesal
10. Berbicaralah yang sopan, santun, dan penuh tata krama
11. Panas dan dingin itu nikmat yang harus disyukuri selama di dunia, karena akhirat nanti tak akan pernah terbayangkan panasnya neraka, bukan dinginnya
12. Quality time dengan Alloh itu saat SHOLAT
 
 
Semoga besok bisa lebih baik...
#yosh
 
Wassalam...

Selasa, 24 September 2013

Ayo, bangkit! :)

Bismillaah..

 
Pernah merasa ditinggalkan dan dicampakkan?
Bagaimana keadaanmu waktu itu?
Sakit? Kecewa? Patah hati? Atau dunia serasa berhenti?
Bukan masalah berapa kali kau dikecewakan oleh cinta.
Poin terpenting adalah...
Seberapa besar usahamu untuk bangkit dan menyelesaikan urusan hatimu yang tak kunjung selesai dan berujung itu.
Percayakah, bahwa Alloh akan datangkan seseorang yang pantas, yang memang seharusnya bersanding denganmu?
Kapankah Alloh mempertemukan?
Tak perlu menanyakannya 'kapan'...
Selesaikan dan perbaiki dulu hatimu yang telah ternodai oleh cinta duniawi itu dan segera gosok hingga bersih dan tak bersisa bercak-bercaknya.
Tak masalah jika hari ini kamu tengah mempersiapkan dirimu untuk menjemput Sang Jodoh yang katanya telah dipersiapkan hanya untukmu.
Tapi ingat, apakah hatimu sudah benar-benar bersih?
 
Akupun pernah merasakan sakit yang luar biasa atas cinta sementara itu.
Pernah suatu hari aku harus melepaskan seseorang yag sudah lama di hidup dan hati ini.
Tapi, sesuatu yang tidak terikat secara sah memang harus diakhiri, bukan?
Itu satu dari sekian banyak kisah.
Ada juga aku yang diuji dengan cobaan terberat (lagi).
Disaat kamu berharap dan menggantungkan namanya di setiap sholatmu, dan ternyata bukan dia yang akan mengisi hari-harimu, dan juga bukan aku yang mengisi hari-harinya, aku hanya bisa menerima segalanya dengan penuh harap dan kelapangan dada.
Jika kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?
Marah pada Alloh dan meninggalkan-Nya?
TIDAK!!
Percayalah, itu tidak ada gunanya.
Aku malah semakin mendekat pada-Nya dan pasrah atas apa yang DIA tujukan padaku.
Memang ada kekecewaan, tapi ingat,

"Sebaik-baik rencana manusia... masih lebih indah rencana Alloh Subhanahu wa ta'alaa..."

Tak ada rasa marah ataupun sesal.
Aku biarkan semua mengalir dan tak kubiarkan diri ini terjebak dalam luka yang sama.
Perbaikan diri pun semakin ku gencarkan.
Tak peduli apa kata 'mereka', aku terus melangkahkan kaki ini demi kebaikan diri.
 
 
Bicara soal jodoh, tak akan pernah ada habisnya.
Alloh selalu pertemukan kita dengan orang-orang baru yang dengan kerelaan hatinya mengisi hari-hari kita.
Hati yang awalnya kelabu, mendadak cerah seperti senja yang menyeruakkan jingganya hingga merambat ke seluruh penjuru langit.
Dan satu hal, berdoalah atas dasar kebaikan dan niat untuk memperoleh rahmat-Nya.
Sesuatu yang dimulai dengan kepamrihan, maka berakhir pilu dan mengecewakan hati.
Tak perlu menggantungkan harap kepada seseorang.
Walaupun hati menginginkannya, tapi biarlah itu hanya terlantun dalam doa.
Tak perlu terekspos apalagi ada embel-embel di dalamnya.
Biarlah Alloh yang mengatur segalanya, agar berakhir SANGAT INDAH bahkan TERLALU INDAH hingga bidadari-bidadari langit pun cemburu.
Dan awali itu atas dasar kecintaan kami (kita) hanya kepada-Nya.
 
Dia-lah sang pemilik langit. Mengatur segala hal. Dari kelahiran, kematian, jodoh, rizky, bahkan musibah-musibah yang kita alami.
Alloh Yang Maha Luas Pemberiannya, tak akan pernah membiarkan hambanya terseok sendiri menjalani hari yang pilu, tanpa uluran tangan-Nya, tanpa kehangatan dekapan hidayah-Nya.
Jangan sungkan untuk berdoa. Jangan malu untuk meminta. Dan jangan pernah berhenti untuk berharap.
 
 
Semoga ini menjadi pelajaran kita semua.
Sebab cinta yang besifat keduniawian tidak akan pernah menghantarkan kita ke dalam lautan kebahagiaan akhirat...
 
Wallohu'alam bishshowab~
 
 
~Jingga dan Senja~
Sang Inspirasi
Menggantikan Pelangi
Melengkapi langit
 
Bukan menggurui,
tapi hanya memberi tanpa berharap lebih...
 
 
thanks to Alloh
my future husband (who is?)
my family
my mom..
my past
and my life :)
 

Minggu, 22 September 2013

Sekelumit hati - Menunggu

Satu lagi kupersembahkan untukmu..

Aku tak berharap kamu mengerti, tapi aku harap kamu merasakan dengan lembut rasa yang mengalir...

 
 
Aku akan belajar menunggu
Sampai kau datang sendiri
Menyadari keberadaanku
Juga hatiku
Yang terkadang bimbang
Yang terkadang mantap
Dan terkadang merasa tak pantas
 
Aku akan belajar menunggu
Sampai masa memanggil
Menakdirkan kembali
Harapan yang pernah kupanjatkan lewat doa
Dan sebuah nama yang kusebutkan
Dengan wajah tertunduk
Dan rasa malu tertumpuk
 
Aku akan belajar menunggu
Sampai Alloh menampakkan takdir
Memaparkan teman hidup nanti
Yang saat ini sedang kunanti
 
Aku akan berhenti menunggu
Jika kau memang menjauh
Antara takdir dan harap tak saling tarik-menarik
Alloh tunjukkan yang lain
Dan kita berbahagia dengan 'yang lain'
 
Dan aku akan semakin lelah menunggu
Hingga Alloh tak segera menampik
Antara bayang dan namamu dalam doaku
Tak menyegerakan titik bahagia
Tak menghilangkan raga diantara bayang
 
 
R. A.
Sekelumit hati...
Jangan tanya mengapa :')
 


Semangat Baru, PUSDIMA, Aku, Kamu, dan Semua

Bismillah...

Hari ini aku alami fase yang luar biasa. Awal pertemuan denganmu setahun yang lalu. Awalnya aku loh terpaksa banget. Nggak tau apa-apa tentangmu, apalagi tugas-tugas yang tiba-tiba diamanahi kepadaku. Yah, apa peduliku denganmu? Aku yang awalnya pun terpaksa, mau nggak mau ngikutin alur yang ada.

Aku disuruh masuk menjadi pengurus. Tiba-tiba dilantik dan taraaaa.. jadilah pengurus harian yang sumpah, di dalam hati aku cuma bisa ngomong, "Aku musti ngerjain apa?" Dan kamu tau? Dengan berat aku jalani hari-hariku sebagai pengurus. Setengah hati memang. Tapi ya itu, mau nggak mau harus dikerjain. Tiba-tiba disuruh ikut liqo' (red: ta'lim). Waduh, di sini nih aku nggak bisa menghindar dari hidayah Alloh. Aku yang dulu super bebal, tiba-tiba harus berkecimpung dengan teman-teman yang sholeh dan imannya jauh lebih tinggi daripada aku. Aku musti gimana? "Yasudahlah, ikuti alur yang ada..."

Hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun. perubahanku semakin nyata. Banyak hal positif yang berhasil menghinggap di hati dan otakku. Melekat hebat. Sampai-sampai perubahan itu ditertawakan orang banyak. bayangkan... aku dulu penampilannya nggak jauh-jauh dari jeans (botol), kaos oblong (ketat), sepatu kets, dan jilbab super pendek. Dan hari itu, dengan niat full karena Alloh, aku ubah jeans ketatku dengan rok berkibar. Mereka (red: teman-teman) belum memperhatikan. Karena, aku termasuk cewek yang feminim. Masih suka pakai rok kalau ke kampus. Tapi ya itu, jilbab dan kaosnya belum berubah.

Sampai akhirnya aku putuskan untuk memperpanjang jilbabku. Waow, mulai tuh komentar-komentar berhamburan. Jilbab paris yang tipis itu, aku dobel. Bayangin aja gimana ribetnya pakai dua lapis jilbab sekaligus. Tapi yah, aku coba untuk menikmati. Terus bertahan pada pendirian. Sampai akhirnya aku kalut dan kembali lagi ke jilbab pendekku. Aku kalah telak! Nggak kuat dengan perkataan mereka. Dan kembalilah si 'wanita berbaju minim'.

Dan percayakah kau? Alloh itu Maha Pemberi. Alloh turunkan hidayah-Nya dengan cara yang tak pernah aku duga sebelumnya. Karena melihat mereka (red: teman-teman liqo') yang sangat anggun menggunakan jilbab panjang nan lebar, serta baju yang super longgar, dan aku pun untuk kedua kalinya memantapkan diri untuk memperbaiki diri. Dengan membaca 'Bismillah...' aku ambil semua celana jeans(botol)-ku dan memberikannya pada ibu.

"Bu, jeans-nya dibuang saja. Aku sudah nggak mau pakain jeans lagi. Mulai hari ini, tidak akan ada yang namanya jeans."

Ibuku melongo. antara percaya dan tidak. Haha, tragis banget yak ibuku sampai melongo gitu. Ya gimana lagi, dulu waktu ibu marah gara-gara aku yang hobi beli jeans (botol), aku cuek bebek aja gitu pakai itu setiap hari. Bahkan sampai sempet diumpetin tuh jeans-nya. Tapi ini, aku memberikannya begitu saja tanpa ada embel-embel. Dari sinilah langkah hijrahku dimulai. Sekali lagi, dengan 'Bismillah...' kumantapkan hatiku dan segera menanggalkan kekafiranku.

Lagi-lagi, aku tersadarkan dengan keberadaanku seharusnya. Aku baru mengerti tugasku di dalam kepengurusan harian. Aku mulai terbiasa pakai jilbab dengan jargon, "Berapa lapis? Ratusaaaan..." Biarlah! Aku pun mulai terbiasa dengan tawa hina mereka. Dan aku mulai terbiasa PDKT dengan Alloh yang mengatur ini semua. Tak masalah dengan pandangan mereka. Yang jelas, aku lakukan ini Lillahita'alaa.. tanpa ada paksaan dan tujuan lain yang mengharapkan balasan dari yang lain pula. Kali ini, merekalah yang kalah TELAK!

Alloh yang Maha Baik. Apa yang terjadi pada perubahanku ini? Siapa yang memfasilitasi atau menjadi perantaramu agar aku menjadi baik? Ya, PUSDIMA. Aku bersyukur dipertemukan denganmu. Bertemu dengan armada-armadamu yang luar biasa, hingga aku mengerti posisiku di dalam kepengurusan.


Hai PUSDIMA, aku berkenalan lagi denganmu untuk kedua kalinya. Di tahun yang berbeda, kau masih memberikan aku kesempatan untuk beristiqomah dan meneruskan karya serta perubahan besar untuk dakwah ini. Awalya memang setengah hati, tapi sekarang... aku bekerja dengan hati yang digerakkan oleh Alloh. Yang ada hanya keikhlasan dan ketulusan.

Bismillah...
Ini tahun terakhirku yang kupersembahkan untuk perbaikanmu. Kutuangkan ideku, waktuku, dan tenagaku, semata-mata karena tekad kuatku untuk terus berkarya bersamamu.

 

"Bekerja dengan hati... Bekerja karena Illahi..."



Cinta tak butuh pengorbanan
Karena cinta merupakan ketulusan
Seperti itulah rasaku
Mengalir bersamamu
Dan menikmati tiap waktu yang kuhabiskan karenamu
Kutuangkan apapun yang kupunya
Walaupun ada sesal,
Dulu aku tak begitu serius dan ada pamrih..
Tapi hari ini,
Aku akan menjadi pelayanmu
Menyerukan kebaikan
Bermanfaat bagi siapapun
Bersinar dikala yang lain menghitam
Menanjak dikala yang lain lelah menggapai
Berwarna ketika yang lain muali usang
Tak akan ada lelah
Ketika keputusanku menuju padamu
Sia-sia tak akan ada
Karena ridho Alloh menyertai
Setiap langkah ini,
Setiap karya yang terpampang,
Itulah bukti..
Yang kelak akan terpampang
Menjadi jejak dan kisah kekal
Akan sebuah proses dan perjuangan
Antara aku, kau, dan kita...
 
 
 
Bersama PUSDIMA merangkai mimpi, tegakkan Islam, tebarkan kebaikan.
Dakwah bukan sekedar menebar kebaikan, tapi seberapa besar pengaruhmu dan seberapa kuat pengaruhmu terikat dalam temali saraf-saraf dan sel-sel otak mereka.
 
 
Jangan pernah lelah...
Alloh bersama kita...
Dan akan mengangkat kesusahan menjadi sebuah karya kemenangan...
 
 

ALLOHU AKBAR!!

 
with love~
Dian Ika S., PUSDIMA STIE MADANI Balikpapan..

Berkarya, Berdakwah, Berinovasi, Lanjutkan!



Jumat, 20 September 2013

~Lenyap~

Apa sih, yang aku lakukan selama ini? Aku cuma berharap pada awan yang perlahan mulai lemah kugenggam. Dia perlahan hilang. Pergi begitu saja dan datang begitu saja. Kamu tau? Bahkan untuk mengungkapkan rasa rinduku saja aku tak mampu. Hanya mendengar suara yang sesingkat itu saja sudah membuatku bergetar hebat. Aku ini dianggap apa? Aku ini kenapa? Aku ini siapa? :(

Senja yang berlalu..
Hari ini aku ingin berharap
Menggantungkan cinta pada langit
Yang menopang warnamu
Yang menyelimutimu

Sinar jingga yang perlahan pergi..
Aku harap kau takkan kembali
Apalagi untuk mengembalikan bayangmu
Sungguh, aku tak ingin
Terlalu cantik parasmu untuk kumiliki
Terlalu lelah tangan ini
Untuk meraup warnamu

Sudah..
Senja pun tak kan selamanya senja
Akan datang sang malam
Akan terbit sang Surya di ujung langit
Dan akan hilang kebahagiaan senja

Sudahlah...
Mau menggenggam sampai kapan?
Ketika hari menjadi saksi

Saat cinta terpaut
Ketika rintik hujan menghapus
Dan saat itu pula bayangmu sirna


R. A.
~thanks for everything
20 Sept 2013

...catatan hati sang Perindu Senja...

Senin, 16 September 2013



Aku jatuh cinta...
Dengan jingga yang menghapus resah
Dengan langit yang berbaur denganmu
Dengan aura yag terpendar

~Jingga~