Ayah, Ibu, dan keempat anaknya...
"Sini nak, Ayah mau menceritakan tentang perjuangan air melawan takdir."
Keempat anaknya meringsuk mendekati Ayahnya dengan wajah berseri-seri. Si bungsu menggelayuti Ibunya, memohon agar ikut bergabung bersama mereka. Mereka pun berhasil mengerumuni Ayahnya yang sedari tadi menanti mereka dengan wajah sumringah yang tak pernah padam.
"Ayo Ayah, mulai saja ceritanya," rengek si Sulung dengan wajah penuh penasaran.
"Tunggu Ayah, Dinda belum pakai jilbab, nih," dengan setengah berlari, si Putri Nomer Dua kembali masuk ke dalam rumah, mengenakan jilbab, dan mendekati Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya yang telah berkumpul di teras rumah.
"Haha, iya Ayah tungguin kok, Dinda. Kanda yang sabar, ya. Tunggu Dinda dulu," ucap sang Ayah sembari mengelus lembut kepala si Sulung.
"Ayo, Ayah. Dinda sudah siap!"
Sang Ibu pun ikut duduk di sebelah sang Ayah sambil memangku si Bungsu.
"Nah, karena sudah lengkap semua, Ayah mulai ceritanya. Begini..."
Keempat anaknya memerhatikan Sang Ayah dengan wajah penuh keseriusan. Mereka selalu begitu ketika sang Ayah hendak menceritakan sebuah kisah kepada mereka. Tak akan melewatkan satu kata pun yang disampaikan.
"Ehem! Di sebuah taman yang dipenuhi tumbuhan-tumbuhan rindang nan menawan, terdapat empat buan pancuran sedang yang mengelilingi sebuah pancuran yang saaaaaangat besar. Dari masing-masing pancuran ini, mereka akan hasilkan pancaran air yang berbeda-beda panjangnya serta tempat mereka menjatuhkan airnya."
"Kenapa bisa beda-beda, Yah?" tanya si Putra Nomer Tiga.
"Karena setiap pancuran memiliki tugasnya masing-masing," jelas sang Ayah.
"Hah? Tugas apaan, Yah? Bukannya mereka dibuat dengan bentuk dan ukuran yang sama?" protes si Sulung.
"Haha, benar, sayang. Tapi, bukankan lebih indah jika yang bentuknya serupa itu diberi tugas yang berbeda-beda agar saling melengkapi?" jawabnya.
Si Sulung mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda setuju dengan jawaban sang Ayah.
"Ayah lanjutkan, ya. Si pancuran yang besar itu, tidak setiap saat dinyalakan. Tapi, sekali dinyalakan, pancaran airnya akan mencuat ke atas, banyak sekali jumlah airnya, dan setiap mata yang memandangnya pasti akan bahagia dan mendatanginya. Berbeda dengan keempat pancuran sedang yang mengelilinginya. Mereka sering dinyalakan, walaupun si pancuran besar dalam keadaan mati. Jumlah airnya tak terlalu banyak, tapi banyak orang-orang yang duduk di dekatnya untuk merasakan percikan air yang dihasilkannya. Dan air yang mereka keluarkan pun ikut berbahagia. Bayangkan nak, setiap air yang keluar dari tiap-tiap pancuran itu, mereka di terbangkan ke udara, mencuat ke atas, lalu dijatuhkan ke bawah. Entah mengenai lantai taman, wajah seseorang yang sedang tertawa sumringah, atau mengenai sang pancuran itu sendiri. Air-air itu tak pernah mengeluh. Selalu berbahagia."
"Jadi, apa hubungannya Yah, tugas masing-masing pancuran sama air itu?" tanya si Sulung lagi. Si Putri Nomer Dua terlihat menyikut kakaknya dengan wajah gemas karena si kakak memotong cerita Ayahnya.
Sang Ayah tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya, "Jadi, hubungan antara tugas tiap pancuran yang berbeda dan air-air itu adalah... tiap pancuran punya ukuran dan jumlah air yang dihasilkan dalam jumlah yang berbeda-beda. Dan setiap air yang dihasilkan pancuran itu, si pancuran mempunyai tugas untuk membidik siapa saja yang terkena airnya agar merasa bahagia. Tak peduli itu manusia, hewan, atau tumbuhan. Begitu pun dengan air, karena dia diamanahi oleh pancuran untuk membahagiakan siapa saja yang dikenainya, maka air tak boleh mengeluh, apalagi milih-milih untuk dijatuhkan dimana. Dia harus ikhlas, karena dimanapun ia dijatuhkan, siapa yang sangka, airnya itu bisa menimbulkan senyuman sumringah di wajah seseorang?"
Ayah meneguk segelas air dan melanjutkan lagi," Takdir air yang dijatuhkan terus-menerus tanpa merasakan sakit, harus dilawannya dengan keinginannya yang menggebu untuk memilih dijatuhkan di tempat yang ia inginkan. Tapi, lagi-lagi air mengalah. Takdir sudah dipilihkan. Buat apa dia melawan? Jadilah air selalu mengikuti kemana pun arah pancuran itu mengarahkan jatuhnya. Selalu begitu setiap hari. Ceritanya sampai di sini dulu ya, Sayang. Mau maghrib. Kita harus siap-siap sholat berjama'ah."
"Yaaaaahh... kita kan mau dengerin ceritanya sampai selesai, Yah," gerutu Si Sulung dan Si Bungsu serempak.
"Haha, kelanjutannya akan kalian dapatkan setelah kalian dewasa nanti ya, anak-anakku. Kelak kalian akan mengerti maksud dari cerita yang Ayah sampaikan ini. Kalau hari ini kalian dengarkan dengan baik-baik, esok saat kalian sudah tumbuh menjadi orang-orang yang taat dan hebat, kalian akan pahami maksudnya dan akan bertambah kehebatan kalian jika maksud cerita ini kalian amalkan," jawab sang Ayah sambil merangkul keempat anaknya beserta istrinya dengan lembut dan penuh cinta.
. . Tamat . .
Terima kasih untuk kisah yang pernah tersampaikan darimu..
Di tengah kegamangan waktu itu, akhirnya aku mengerti banyak hal,
dan belajar banyak hal..
Satu lagi sebuah karya tercipta dari seseorang yang merubah egoku..
Terima kasih.. Jazakalloohu khoiroh~
Balikpapan, 14 Januari 2014
00.37 wita