Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Sabtu, 15 November 2014

Hijrah #2

Dan sayang, langkahku masih di sini. Di bumi nan luas yang tawarkan gemerlap tawa semu. Aku masih di sini, Sayang. Menunggu pagi dengan tangan menengadah dan tangis yang memecah langit. Aku masih di sini. Dengan semangatku yang terkadang naik-turun. Masih menunggu.. menunggu Dia tepati janji-Nya. Ya, aku masih di sini, Sayang. Setia bersamamu, arungi mimpi-mimpi baru kita. Ya, aku masih setia--hijrah..


~***



"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan darang kepada (Alloh) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba." T. Q. S. Maryam 19: 93

Di kala tak ada lagi tempat untuk mengadu, seketika semua menjauh, tak ada kawan yang menghibur, seolah-olah bumi dan langit menghimpitku--aku sendiri--menyesali hidup yang kusia-siakan, berbangga pada dosa, lalu aku tersadar. Dengan rasa malu bercampur butuh, aku mengambil wudhu, mencoba peruntungan, gelaran sajadah memanjang, aku hanyut...


 Sourced: Google



Lelah payah memelihara iman. Terkadang naik, terkadang turun. Belum lagi orang-orang di sekeliling yang terkadang mengharuskan diri untuk mencaci. Lega rasanya, tapi setelah itu ada sesal. "Kenapa diri tak jua bersabar?"
Lain lagi ketika berusaha berbuat baik, berubah untuk perbaiki akhlaq, menjauh sejenak dari kebohongan janji "akan menjadikan baik" itu, diri masih saja dianggap salah. Yaaaah.. inilah nasib bagi seseorang yang BARU di dunia yang baik ini--jalur para hamba Alloh.
Ada kalanya 'istiqomah' itu begitu berat untuk kupikul, menikam ketika kupeluk, dan menusuk-nusuk ketika kuperkuat genggaman padanya. Tapi, kalau aku tak istiqomah, bukankah semua akan sia-sia?
Kesempatan untuk bertemu dengan-Nya bagaimana?
Ah!


~***



Dan kawan, HIJRAH itu begitu mudahnya. Ketika hidayah telah merasuk, maka seketika diri yang dipenuhi najis itu akan tersucikan dengan sendirinya. Tapi, ISTOMAH-lah yang terberat dalam fase selanjutnya. Dimana aku pun menemui halangan dan rintangan di setiap lini juangku. Adaaaa saja yang membuat hati kembali menjadi batu. Dan bagiku, inilah proses ternyaman yang diberikan-Nya. Mau mendemo? Tidak perlu! Nikmati saja! Selagi masih dapat sholat, selagi masih bisa bersujud di hadapan-Nya, selagi bisa berkeluh-kesah dengan-Nya, tak akan ada kata letih untuk mengarungi segalanya.


~***



Robb, izinkan aku untuk kembali pada-Mu dalam keadaan iman yang utuh, tak kurang sedikit pun sebab manusia yang selalu recoki hati dan mnegusik hawa nafsu. Tetapkanlah hatiku pada agama-Mu yang lurus, sebab aku telah cukup mencicipi panasnya maksiat. Sudah, cukup. Aku ingin kembali pada-Mu, seutuhnyaaa...



DI
15 November 2014
13.05 wita
Langit runtuh! Hujan!

Selasa, 09 September 2014

Hijrah #1


(Sourced: google)


Langkahku terhenti di sini,
Terdiam..
Sesekali kupandangi sekelilingku..
Adakah sosok yang kukenal?
Kuhela kembali nafas yang mulai tersengal..
Namun, yang kurasa.. udara semakin tercekat di tenggorokan..
Tak ada kesegaran di sini..
Aku butuh udara!
Aku butuh air!
Tapi, tak ada di sini..

Kemana aku harus berlari?
Kemana aku harus berpindah?


~*


Ini kisah, tentang perjalanan terberat dan terpanjang buatku. Dimana aku harus memulainya dari NOL. Mencari kebenaran diantara kenistaan. Saat diri mantap berpindah dari sisi kegelapan menuju cahaya kemilaunya, ribuan duri tajam mengiringi langkah terseokku. Aku yang lemah ini.. mencari seorang diri.. tempat ternyaman untuk dihuni.. kawan terbaik untuk melengkapi.. dan arah terbaik untuk menggiringku temui-Nya.. Alloh..

~*

(prolog)

Kamis, 24 Juli 2014

Pencari Kebenaran #7

Sumber gambar: "Google"

Ciyeeeeee... gimana ya, rasanya menikah? Saling adu jotos tapi pakai gaya yang klasik dan romantis. Nahlo? Siapa sih yang nggak pengen nikah? Ayo, coba tangannya diacungkan!

. . . . . . .

Bila lelahmu terbayar dengan pahala..
Bila penantianmu terbayar dengan pahala..
Bila peluh juangmu terbayar dengan pahala..
Bila separuh dien yang kau tegakkan terbayar dengan pahala..
Lantas, apa yang kau khawatirkan?
Berlelah-lelah sekarang,
Bersenang-senang di surga kemudian..
Bersabar sekarang,
Bersanding di pelaminan kemudian..
InsyaaAlloh..

. . . . . . .

Sumber gambar: "Google"

Teruntuk para jomblo-ers yang sampai detik ini masih menjaga hati, pandangan, ucapan, dan raganya dari yang tak mempunyai hak atas diri ini...

"Kau mungkin merasa bosan dan kepayahan menopang diri di ujung duri seorang diri. Ada rasa ingin kembali mencicipi indahnya 'dicintai'. Ada rindu yang bahkan untuk mengungkapkannya saja, puluhan ribu bulir sebiji jagung sudah mengucur dari dahi. Lebih konyolnya lagi, ketika bertemu dengan sang tautan hati, buru-buru diri disibukkan, bahkan tak jarang kawan di sebelah sampai terpingkal sendiri. Kau lebih banyak menyendiri. Bukan karna dikucilkan, tapi itulah pribadi mandiri yang kau usahakan ada agar tak melulu menyusahkan orang di sana-sini. Berpayung kecewa pun, terkadang sudah menjadi makanan pokok bagimu ketika kau tak dapatkan apa yang kau harapkan. Tak ubahnya kau terus bangkit. Tak peduli dengan nyinyiran yang begitu pedas di telinga juga hati. Kau berjalan maju, terus maju, tak hiraukan semua celotehan hingga kau temukan setitik cahaya harapmu. Ada pula yang awalnya tak berniat menjadi baik, ketika takdir mempertemukannya dengan yang alim, hidayah melebur dalam jasad juga ruhnya. Tekad bulat merubah diri pun disegerakan. Demi menjaga apa yang seharusnya kau jaga, kau rela melepaskan masa gemerlap penuh cinta bertaburan, membahagiakan syahwat, menyeret diri dalam kubangan dosa terberat."

"Kau tahu? Semua itu barulah prosesnya saja yang ditampakkan di jalanan yang setiap hari engkau lalui. Perlahan-lahan menguji kesabaranmu dalam menanti dia yang sering kau lirik. Jika kau sadar, beribu istigfar kan terucap mengelakkan rasa yang terus mengetuk. Kau tak pantas disalahkan. Karena ini proses, ya lagi-lagi proses. Tak terbayangkan rasanya, jika satu langkah lagi mendekati dia yang disiapkan, ternyata kau menyerah dan menanggalkan semua. Ah, habislah sudah semua yang kau punya. Yang ada hanya kekecewaan tak mendasar. Sakit atas kesalahan sendiri. Apa kau percaya dengan janji-Nya? Ada kepastian di sana, tapi.. semua itu disiapakan hanya untuk mereka yang bersabar dan setia bertahan."

"Coba kau bayangkan.. menundukkan pandangan, mengatur ritme detak jantung, ada harap yang mencuat, pikiran tak karuan, langkah selalu dipercepat, seolah-olah diri siap untuk dibenamkan, semua itu terjadi ketika dia sang dambaan hati melintas di hadapan. Apa dia merasa? Tidak! Apa dia tahu perjuanganmu dan ketersiksaanmu? Jelas Tidak! Jadi, untuk apa kau terus pasrah tersiksa di lembah ketidakpastian dan kesemuan khayalanmu sendiri? Bangkitlah~ Fitrah dan fitnah itu bedanya sangatlah tipis. Bila rasa itu tetap kau rawat, maka fitnahlah yang kan kau temukan di akhir episodenya. Walau tak dapat dipungkiri, semua yang kau rasakan itu adalah fitrah terindah yang Dia anugerahkan untuk semua makhluk-Nya. But, sekali-kali tidak! Tak ada alasan tuk benarkan fitrah yang keliru alurnya. Tak ada jalan pintas tuk membenarkan fitrah yang berujung pada fintah. Untuk yang ini, lebih baik kau menarik diri. Pantaskan dan lepaskan!"

. . . . . . . .

Aku nggak lagi ngomporin kalian buat membunuh perasaan yang ada itu loh, yaa.. Tapi, aku cuma pengen berbagi ilmu, bahwa kecewa itu nggak enak. Sakitnya tuh di sini. Dan nggak ada garansinya. Kecuali, setelah semua itu berlalu, kita lantas sadar dan kembali menjadi hamba-Nya yang setia. Nah, kalau setelah itu kita malah menjauh sejauh-jauhnya dari Dia? Naudzubillaah..~

. . . . . . . .



Balikpapan, 24 Juli 2014
00.34 wita
'DI'

Senin, 21 Juli 2014

Teleskop Mimpi #3

Dear Dira,

Darinya aku belajar.. tentang dunia yang begitu pekat untuk aku jalani. Semua semu seakan menarik hati untuk berjalan mundur mengitari mimpi dan khayalan liarku sendiri. Aku sadar, banyak kisah yang kuukir lalu kusia-siakan begitu saja. Tak ada waktu kuluangkan untuk masa-masa realitasku. Apa yang kuperbuat, seolah-olah menghabiskan semua tenaga yang kumiliki. Tentangmu yang kubuat secara acak, mulai dari cinta yang kuperjuangkan sendiri, sampai bahagia yang kurangkai, namun masih tak kuketahui bagaimana alur dan endingnya.

Kau terlalu banyak membantuku. Menuangkan tiap rasa yang tak pernah mampu terucap. Mengungkapkan bahasa yang seakan-akan membeku karena rasa yang terlalu lama kuolah dan kupendam sendiri. Dari sini aku sadar, ini semua semu.. sebagian orang akan menganggapku tak serius menjalani hidup -- masih stuck pada satu titik perjuangan tanpa langkah untuk meniggalkan. Aku bagaikan hidup di dua sisi yang tak beraturan.

Tentang hidup yang tak juga membaik. Lagi-lagi aku sadar, aku bukan sebaik-baik makhluk yang diciptakan. Aku bukan sebaik-baik wanita yang disiapkan. Tapi, aku berangkat dari sini, bahwa perjuangan untuk menjadi sebaik-baiknya makhluk dan wanita yang tercipta itu butuh perjuangan. Mengorbankan apa yang dipunya, sampai melepaskan apa yang digenggam.

Bukan soal cinta yang ingin kubagi denganmu, Dir. Mataku terbuka.. setelah menonton perahu kertas part 1 &2, aku menilai segala macam bentuk cinta yang tertuang di sana dengan versiku sendiri. Hidup tak sekedar mengejar cinta ya,  Dir. Ternyata, di belakang itu ada banyak hal yang harus diperhatikan. Entah, akan banyak orang yang menganggap film itu tak layak. Ya, aku setuju bila semua adegan yang ada di situ hanya dinilai dari sudut nafsu. Tapi, bagaimana jika diputar sedikit saja sudut pandang yang melenceng itu. Ada ketulusan di sana.. ketulusan menjaga hati dan rasa yang tertutup rapih.

Ada satu hal yang kudapat dari sana.. bahwa "yang namanya hati, walau bertahun-tahun tak terungkapkan, tak ditampakkan, tak diutarakan, kelak jika saatnya telah tepat, semua rasa itu akan menguap dengan sendirinya. Tak meninggalkan setitik jejak pun di dataran hatinya. Artinya, semua rasa itu tersampaikan dengan sempurna. Hemm.."

Sudah berapa lama Dir, kamu kugunakan dalam setiap cerita yang kubuat? Sudah berapa banyak tokoh yang kutautkan denganmu di setiap cerita yang kuhasilkan? Terlalu banyak, ya? Sudah berapa tahun ya, Dir? Masa-masa SMP yang sengaja kulahirkan tokoh dirimu itu, rasanya sudah saatnya kau pensiun. Kita harus berhenti bermimpi, Dir. Banyak hal yang realistis kita lewati begitu saja. Kita terlalu bahagia dengan perasaan yang kita ciptakan sendiri. Terlalu banyak angan yang kita gantung tapi tak ada satu pun kepastian yang kita dapat. Haha, kita terlalu polos dan tolol.

Maaf, padahal aku yang menciptakanmu. Tapi, aku juga yang harus mematikan karakter luar biasamu itu. Maaf.. kelak, namamu akan menghiasi tiap kisahku lagi dalam lembaran tulisan yang dihasilkan dari kisah nyataku sendiri. Bersama yang telah ditakdirkan. Yang hatinya terjaga rapih, yang di dalam do'a-do'anya ada namaku disebut, yang semuanya telah diaturkan untukku, yang tak perlu lagi aku berkhayal tentang itu -- melainkan semua tinggal kutuangkan langsung karena semua sudah kualami dan kumiliki. Duh, lagi-lagi aku berkhayal, Dir. Hm, apa salahnya mengharapkan sosok sholeh dalam perangainya? Ah!

Dir, aku baru sadar.. kenapa setiap cerita yang kuciptakan itu tak ada satupun yang terselesaikan? Karena semua cuma ilusi, mimpi kosong yang seakan-akan, aku mendahului takdir-Nya. Aku selalu membuatmu bahagia, tapi.. apa aku juga rasakan bahagiamu? Nggak, Dir! Aku bahkan belum pernah merasakan itu semua. Kalaupun sudah, aku seperti menampar diri dengan tulisan-tulisan yang sudah tertata itu. Aku lelah.. ada banyak hal yang harus kita selesaikan di depan sana. Aku pun harus kembali ke dunia nyataku. Berhenti berangan-angan, temui kenyataan.

Sampai jumpa ya, Dir. Akan ada banyak orang yang merindukan sosokmu di balik novel yang belum kelar dan nggak rampung-rampung itu. Love, Rain, Hurt,.. suatu hari nanti bakalan mejeng di estalase toko buku ternama dengan alur, setting, tokoh, kisah, dan epilog serta prolog yang akan kurombak habis-habisan. Tapi nanti ya, Dir. Saat semuanya sudah menyatu.

Maaf.. untuk kisah fiksi tentangmu, harus kuhentikan sampai di sini. Kita akan bertemu di kisah true story saja. Hehe.. Hiks T.T


Balikpapan, 21 Juli 2014
02.08 wita
Biarkan Dira pergi..
'DI'

Minggu, 20 Juli 2014

Temukan Aku #23

Bismillaah....

Kutuliskan lagi benang-benang rindu di tengah gemuruh guntur dan guyuran hujan menyentuh hati..
Apa kabar kau di sana?
Yang dulu sempat memerah-mudakan langit kelam itu?
Bagaimana hatimu di sana?
Apakah terbawa pergi dengan seiringnya hujan berlalu, atau tetap membekas seperti kumpulan rintik hujan yang tertampung penuh pada drum-drum kosong?

Pernah ada kisah membara,
Pernah ada tangis merelakan
Pernah ada tawa riang bercengkrama dengan malam,
Pernah ada sedih menemuimu di penghujung kisah...

Bagiku tak mengapa...
Toh, air yang mengalir mengikuti alirannya itu..
Ternyata tak kan seutuhnya sampai pada satu muara...
Kenapa bisa?
Karena aku temukan sebuah kenyataan..
Bahwa aliran itu harus dilawan,
Tak boleh searah, melainkan berlawanan arah...
Tak kan sampai air yang mengalir itu,
Bila tak temui persimpangan lain di tengah perjuangannya...
Dan di sini aku menemuinya..
Sebuah kenyataan..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya'

Tahu kah kau apa artinya itu?
Yang dulu tak lagi sama dengan yang sekarang...
Yang menggebu, kini berganti dengan detak yang lain..
Perih-letih, telah berganti dengan santun-penerimaan...

Kita terlahir bukan untuk mendahului takdir,
Melainkan mengikuti arah takdir memacu kencangnya langkah dan degup semangat ini..
Bila dulu indah, harusnya hari ini pun lebih indah..
Tanpa bayangan merah muda,
Tanpa jejak rasa 'kurang dari tiga'..

'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya',
Mengajarkanku untuk pertahankan kekuatan pada pangkal akarku..
Aku bukan dia,
Dan dia pun bukan aku...

'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya',
Mengajarkanku tentang perjuangan memahat dengan tulus pada tiap batang-batang kering yang pasrah kuukirkan kisah baru...
Aku apa adanya begini,
Bukan dia yang menuding, lantas menjauhiku..

Sudah berapa banyak tulisan tercipta untuk sang senja yang terlalu jauh tergantung di ujung langit sana?
Banyak!
Apakah aku bosan?
Tidak!
Apakah aku lelah?
Tidak!
Jadi apa?
Aku hanya sadar..
Kata-kata 'Semua akan indah pada waktunya, layaknya air yang kan temukan muaranya' itu tak pernah ada di lembaran takdirku..
Sebab aku bukan air yang mengalir...
Aku hanyalah air yang terjatuh dari langit,
Yang setelah itu kan terbitkan warna-warni suasana hatiku,
Yang setelah itu harus berpisah dengan yang lain..
Hanya itu!
Dan aku tak butuh aliran..
Aku hanya akan terus jatuh..
Jatuh pada satu hati yang siap tertaut..
Bukan mengalir menemuinya..
Melainkan jatuh untuk ditangkap dan direngkuhnya dalam penantian tak terbatas...
Layaknya Rintik Hujan dan Tanah Basah...

Kita tak lagi sama..
Aku tak lagi berharap..
Kita terpisah..
Aku memilih pergi..
Kita adalah kita..
Aku dengan pilihanku..
Dan kau dengan pilihanmu..



Balikpapan, 20 Juli 2014
23.32 wita
satu bulan menjelang 21..
tak lagi sama..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya'
'DI'

Temukan Aku #22

Bismillaah...

3 tahun yang beberapa bulan lagi akan terhenti. Segala macam perjalanan ditempuh. Menyisakan duka dan bahagia beriringan maupun silih berganti. Ada yang tertinggal, ada pula yang terbawa pergi oleh angin. Menyisakan ruang-ruang bebas yang siap diisi kembali dengan kisah dan perjalanan yang baru. Selamat tinggal masa lalu.. Assalaamu'alaykum masa depan yang dijanjikan sempurna :)

........................................ rindu~

 Sudah dapat apa di tiga tahun yang hampir habis ini?
Hanya mimpi sajakah atau ada cita yang sudah kugenggam dan siap untuk difigurakan?
Aih, layang-layang yang menghempaskan diri dengan pasrahnya di langit sana, dihembuskan perlahan oleh angin pada sela-sela kerangkanya.. apa masih bisa melawan lantas meninggalkan apa yang telah diarungi selama ini?

...................................... bebas~

3 tahun di dunia perkuliahan. 3 tahun berkutat dengan tugas-tugas, ujian, orang yang beraneka ragam, persoalan pelik memancing amarah, organisasi, kesibukan melejit, tuntutan ini-itu, cinta, cita-cita, pengorbanan, perubahan, tertinggal... dan pada akhirnya akan mencapai sebuah penghargaan tertinggi.. wisuda~

Kalau kata mereka aku nyebelin, ya.. seperti itulah saya. Walau sudah berusaha untuk 'menyenangkan' hati orang banyak, tetap aja terselip kata 'nyebelin' di akhirannya. Sebel! Tapi nggak papa.. 3 tahun ini aku belajar banyak. Nggak sekedar datang kuliah, duduk, dengerin atau tiduran, nguap, pulang, sampai rumah tidur.. begitu seterusnya sampai lulus. Hoam~ that's a bored! Saranku, kuliah itu silahkan dijadikan ajang 'survival'. Dimana ilmu dan pengalaman itu bisa didapatkan dimana-mana. Dari yang gratis sampai bayar. Dari yang ditempuh dengan jalan kaki, sampai yang ditempuh dengan motor sampai jarak berkilo-kilo meter.

Aku tak kan ceritakan banyak hal tentang apa saja yang kudapat di 3 tahunku. Tapi, silahkan kau menilai dari diriku yang bisa kau lihat dengan nyata saat ini. Ingat, saat ini, bukan yang dulu.
Selalu bersyukur.. di balik pengorbanan selalu ada buah stroberi manis tanpa rasa asam di ujung kebun tuaian sendiri. Haha!

Dadagh..!
3 tahun yang berkesan luar biasa.
Macam-macam teman, dosen, kampus, organisasi, makanan, minuman, tempat nongkrong, nama jalan, jalan tikus, hati yang tertinggal, makalah, event, proposal, tugas akhir...
Kampus belantara.. kapan bisa mampir ke sana lagi?
Kampus bertingkat.. emm, 3 tahun sudah cukup, deh. Jangan ditambah, yaaa..

Eh, pernah ngerasain jadi ketua panitia? Aha! Aku juga sudah pernah.. tapi, ingin rasanya memberikan sambutan dengan atas nama 'sambutan ketua panitia'..
Semoga~

Rabu, 30 April 2014

Pencari Kebenaran #6

Bismillaah...

Tiada satu nikmat pun yang diturunkan selain dari-Nya...
Apa pun bentuknya...
Baik senang, maupun sedih...
Selalu bersyukur...

Keep calm and always say 'Alhamdulillaah'...

 . . . . . . . . always need Alloh~

"Alloh pasti akan menolong orang yang ingin menikah agar dirinya terjaga atau terhindar dari dosa." [H.R. Tirmidzi: 1655]

Segerakan atau akan ada yang menggelayuti hati terlalu jauh!

Ini hanya sebait teks yang dikirimkan oleh seorang kawan yang selalu menginspirasi hari-hari dengan ayat-ayat-Nya dan hadist. Menampar jauh ke dalam hati, membangunkan iman yang tengah terpuruk, dan melambungkan semangat yang sempat terpapah.

Kenapa harus soal nikah lagi, sih? Mumet banget, lah!
Maaf, ini hanya penyemangat buat mereka yang masih menanti. Penyelaras langkah di tengah perbaikan. Dan inilah bonus yang dijanjikan-Nya. Kebahagiaan dan pelengkap! Bukan sekedar omong kosong.

"Jangan kau pikir setelah menikah kau tak harus siapkan perbaikan lagi. Malah di sanalah kau bangun lebih banyak perbaikan dan tameng. Godaan dan ujian akan terus menghantui. Sedang nafsu? Jangan kau sangka semua akan mati setelah kau menikah. Tapi, di sanalah titik perjuangan terindahmu. Dimana semua harus kau bagi. Susah dan senang harus siap kau pikul berdua. Tidak sendiri lagi. Tidak dengan pundak seorang diri lagi. Melainkan, berdua. Dan jelas, berdua akan terasa lebih ringan bila dibandingkan dengan seorang diri."

Plakk! Ini adalah pesan dari seorang kawan yang akan segera menikah. Semoga Alloh mempermudah langkah dan niat muliamu itu. kawan. Aamiin...

Lalu, apa peduliku tentang menikah?
Tak ada! Hanya senang saja ketika membahas hal-hal yang ekstrim kayak gini. Kesannya menantang takdir. Jiaaahh... Ampuuunn... ini cuma opini penulis, kok.

That's the point! Kalau ane sudah getol banget ngebahas masalah ini, pasti dipikirnya ngebet. Padahal, dari pembicaraan-pembicaraan ringan itu, ane bisa belajar banyak hal. Baik dari yang sudah berpengalaman atau yang masih amatiran. Hehehe... Asal tau aje, sekarang itu nggak banyak loh anak seumuran ane yang siap nikah. EH, gue juga belum siap, sih. Tapi kan seenggaknya, kita kudu nyiapin mulai dari sekarang. Jadi kesannya nggak kagetan gitu. :D

Halah! Sok menggurui banget, deh. Intinya aja, lah.

"Maka segerakanlah kebaikan itu."

Mau nunggu apa lagi?  Sono, CV plus proposalnya segera diurus dan diluncurkan ke tempat yang dituju. Heheh! *pisss*

. . . . . . . . . . . . . . . always Alloh~


Balikpapan, 30 April 2014
10.31 wita
Di penghujung bulan...
Akhir dari magang...
Nyuri waktu buat #ODOK..
#yosh !

||Diani's||

my pink~

Senin, 28 April 2014

Teleskop Mimpi #2

Sini! Aku punya kisah yang mau aku bagi. Kamu mau mendengarkan? Ah, bagaimana kalau kau siapkan susu-kopi hangat dan sepotong roti bakar untuk temani kita? Temani sebaris kisah yang telah terangkum bersama rintik-rintik hujan, hawa dingin, juga awan kelabu...
Yak, siap-siap, ya? Satu... dua... tiga...


. . . . . . . . . . . . . . . . . . ada kita?


Mungkin nanti akan ada sekelumit hati yang tengah tersipu malu...
Saling menatap dan memerhatikan satu sama lain..
Tangan tergenggam dan tawa terselip..
Kita bercengkrama..
Di bawah pekatnya malam dan ribuan kerlipan bintang temaram..
Ada kisah yang kita bagi..
Mungkin di sela dingin pun ada hangat yang menyeruak..
Sepotong roti bertabur stroberi..
Semanis rasa dan lembut teksturnya..
Terlahap rapi hingga menyatu melebur..
Ya, dalam lantunan indah dua sejoli menautkan visi-misi..
 

Atau..
Bersama manisnya sepotong roti yang tiap potongnya di aliri hangatnya kopi susu..
Kita beradu pandang lagi..
Tertawa..
Dan larut kembali, menampikkan galau yang dulu pernah hadir..
Mengiyakan takdir yang saat ini memilih kita..
Sepasang kisah klasik terbungkus cantik nan rapi..
Kado spesial kita..
Malam yang lagi-lagi jadi saksi..
Atas rasa yang dulu menggantung..
Dan kini tertaut dalam ikatan se-iya se-kata..
Ya, apa kata-NYA?
Kita menyatu untuk tuntaskan dingin..
Melebur ciptakan kehangatan..
Ya, kitalah sepotong roti hangat yang manis..
Dan kita juga secangkir kopi susu yang tercampur sempurna menghangatkan satu sama lain..
Mencengkram dingin..
Berdua..


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Balikpapan, 28 April 2014
Ada kita (lagi)?
Di penghujung hari..
Akhirnya kita lengkapi dien..
Barakallohu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair..

||Diani's||

Kamis, 20 Maret 2014

Teleskop Mimpi #1

Bismillaah..

Perlahan menghilang,
Kelam awan bertabur kabut,
Menelungkupi tiap rindu menggantung,
Kilat syahdu memecah lentera hati,
Berharap semua pecah,
Berganti pelangi warna-warni,
Bersambut rindu Illahi...

Kata siapa langit yang mendung itu akan selamanya  mendung? Jika kau tunggu langit yang kelam pekat itu, dengan kesabaran full, kau kan temukan indahnya manik-manik langit yang akan bergelantungan sesudahnya. Ya, hujan setelah langit muram. Partikel-partikel kecil yang ramai bermunculan, hidupkan yang mati, suburkan yang tandus, bahagiakan yang tersudut pilu, menentramkan yang didera kemelut hati. Coba kau tengok langit yang terkadang kau caci maki itu. Ada kebahagiaan yang tersebar luas di sana. Masihkah timbul caci maki? Atau ada perasaan haru menyelimutimu? Semua itu adalah hukum relevansi sudut pandang. Semua orang punya pendapat masing-masing. Baik tentang hikmah hujan, maupun bencana di baliknya.

Melewati hari yang dipiasi hujan yang memanjang di suatu hari, teruslah kau pandangi langit. Tengoklah ke sudut langit sana. Apa yang kau dapati? Sebuah pelangi warna-warni menggantung manis melengkung bak memeluk langit yang kepayahan merintih, menangis. Kenapa? Hujan itu kuat, kan? Tak seharusnya di secengeng itu. Lagi-lagi, kembali ke relevansi sudut pandang.

Caci maki yang tercetus, berubah menjadi kekaguman luar biasa. Walau sekarang, aku tak pernah jumpai kilauan pelangi di ujung langit sana. Jujur saja, ada rindu ketika menantinya datang, namun nyatanya, pelangi tak pernah muncul. Hujan berkali-kali, namun pelangi tak sekali pun muncul. Ini bukan tentang teori 'asal-muasal terjadinya hujan', melainkan bagaimana kita menyikapi kejadian alam dengan bijak. Tak lagi memaki, tak lagi menyesali.

---------------------------hujan?

Apa gunanya hujan?
Kau akan mengerti arti kebahagiaan mengguyur hati ketika kemelut menimpa diri. Kemelut itu apa? Dimana atom positif bertemu dengan atom positif. Tak bertemu dan menyatu, melainkan pertentangan. Adanya perlawanan dahsyat.. dan akhirnya menyebabkan diri 'galau' a.k.a ber'kemelut'. Sesudah kesusahan, ada kemudahan. Inilah poin pertama apa gunanya hujan?.. Kau tak kan dapati hujan sebelum kau lewati mendung panjang menjalari langit. Tak mungkin hujan turun tanpa ada awan-awan berkumpul yang saling mengikatkan tiap molekulnya, lalu pada akhirnya.. tertumpahlah semua. Apa yang kau rasakan ketika mendung menyelimuti langit? Ada rasa was-was? Berpikir yang tidak-tidak? Jengkel? Marah? Gundah? Gulana? Oke, semua itu hanya proses, kawan. Sama seperti hidup ini. Kau akan lalui semua rasa itu. Tapi, ketika hujan mengguyur hati, apa yang kau rasakan? Kesejukan? Bau lembab? Gemericik merdu? Genangan dimana-mana? Banjir? Ups! Untuk yang terakhir, itu juga termasuk di dalam proses yang aku sebut dengan kebahagiaan. Mendung menderu, masih ditambahi dengan hujan menyebalkan, tak juga surutkan kemelut hatimu. Lalu, apa yang dapat obati semuanya?

Pelangi lebih penting daripada hujan, iyakah?
Jangan salahkan langit bila dia tak memberikanmu lebih. Siapa suruh menggantungkan harap pada makhluk ciptaan-Nya? Oke, fokus. Mendung dan hujan sudah kau lewati. Masalah masih terus memnbanjiri. Lalu, apa lagi yang bisa menyenangi hati? Bagaimana kalau aku tawarkan pelangi? Tak sukakah kau dengan warna-warni ajaib yang terotomatisasi saling melengkapii dan tergradiasi sempurna di langit? Tak ada cacat, melainkan kecantikan yang maha sempurna. Bila sesuatu yang cantik, imut-imut, warna-warni, penuh dengan keilmiahan, sains tersebar, ditambah ke-limited edition-annya, juga tak menarik hatimu untuk bangkit, kau harus ke psikiater! Temui Alloh!

Jadi, apa hubunganny hujan dan pelangi?
Hubungannya adalah.. merekalah penghubung antara duka dan sukamu. Perumpamaan sempurna tuk lukiskan teleskop masa depanmu. Jika hari ini kau bersedih, merasa kehilangan, dan kehilangan arah tuk tentukan arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu *EH!, percayalah kawan, esok semua akan berkilau bersama air yang dipiasi cahaya mentari atau bulan temaram yang mengintip di balik awan. Semua akan indah pada waktunya. Bersabarlah! Kegundahan dan rasa lelah menangisi semua yang terjadi itu akan disambut dengan warna-warni indah kado dari-Nya. Kau yang bersedih, pasti akan bahagia. Kau yang kehilangan, pasti akan bertemu dengan yang lain. Kau yang tersesat, pasti akan ditunjukkan jalan yang benar. Just believe!

--------------------------pelangi~

Bingung dengan tulisan ini? Ini hanya sebuah perumpamaan hati yang sudah kukombinasikan dengan perpaduan manis antara mendung, hujan, dan pelangi. Jika kau menangkap maksudnya dengan maksud yang berbeda dari makna sebenarnya, kita kembali lagi pada 'hukum relevansi sudut pandang'.

Untuk cita yang tergantung,
Cinta yang tak bersambut,
Harap yang memudar,
Semangat yang kembali lahir,
Kemilau yang pudarkan resah,
Ada mereka...
Ya, ada mereka...
Pasukan luar biasa..
Kombinasi alam...
Mendung...
Hujan...
Pelangi...



Diani's
Balikpapan, 20 Maret 2014
21.22 wita

Sabtu, 08 Maret 2014

Temukan Aku #21


Saat kutemukan diriku yang dalam keadaan lemah nyaris tertanam oleh ranah keputusasaan..
Hanya satu yang kuingat..
Innalloha ma'anaa..

Adakah senyum menemani hari ini?
"Iya, ada!"
Adakah semangat menggebu yang terkepal di udara seperti hari kemarin?
"Hm, ada kok!"
Bagaimana dengan volume kehadiran ide cemerlangmu untuk tiap lembaran amanah yang tertelungkup? Masihkah berisi penuh?
"Hm, saya rasa sudah berkurang.."
Gerka gesit dan lincah langkahmu, apakah masih setulus raga yang dialari darah?
"Argh! Sudah mulai melemah ritmenya.." :'(

Ada apa, Dian? Masihkah kurang segala fasilitas penggerak yang diberikan-Nya?
"Nggak kurang, kok. Malah berlebih.."
Terus, apa yang kau risaukan?
"Kelelahan yang mulai menghinggap. Kepayahan yang mulai menggamit pundakku. Kebosanan yang merenggut semangat berdegupku. Ah~"
Kenapa tak kau adukan pada-Nya?
"Mencari-Nya saja aku kepayahan. Hiks.. semuanya serba kritis. Hanya ingin menangis. Tertelungkup miris. Ada harap dan mimpi yang tertepis. Lelah mengikis. Sesak menggilis. Aku bisa apa?"
Adukan! Coba dulu! Lihatlah seberapa inginnya Dia melihatmu memohon sambil menitikan air mata. Tidakkah kau rindukan masa-masa mengharukan itu? Dia yang membelai ragu dan dukamu hingga lenyaplah semua, apa tak kau inginkan itu lagi?
"Aih, iyaaa.. Ada Alloh.. Selalu ada Alloh.. terima kasih hati.."

--------------------------------------------


Balikpapan, 08 Maret 2014
23.33 wita
mengiris tegar..
Aku rapopo~

Kamis, 06 Maret 2014

Ironi Jingganya Senja #1

Jingga yang masih nampak menjalari langit kegelapan..
Perlahan menghilang di balik kepekatan..
Samar-samar kuintip tiap garis panjangmu..
Menyisakan sesak dari perjalanan tadi sore..

Ada apa jingga?
Kau selalu jadi saksi atas sesakku..
Kau terlalu tahu akan dukaku..
Dan selalu kau yang menemani kala hati tengah ditusuk..

Bagaimana jingga?
Adakah cahayamu mampu menahan malam?
Sedang malam mulai menggerogoti temarammu..
Jingga.. langit tak dapat menampungmu..
Kemana lagi kau akan berlari?
Dimana lagi kau akan naungi senjamu?

Ah...

Balikpapan, 06 Maret 2014
13.36 wita

Senin, 03 Maret 2014

Temukan Aku #20

Bismillaah...

Berawal dari hobi mencoret di media manapun.. Rasa cinta terhadap bentuk-bentuk tulisan.. Selalu iri terhadap hasil karya orang lain. Dan selalu merasa, "Kalau mereka bisa, kenapa aku nggak?".. Berawal dari itu.. Kutuangkan segala emosiku dalam satu lembar kertas. Semakin sering, semakin menumpuk, menjadi berlembar-lembar kertas, dan pada akhirnya menjadi satu buku dengan karya orisinil tulisan tanganku. Kau biasa menyebutnya apa? Yap, Buku Diary. Entah, sejak kapan itu semua muncul. Mulai dari bahasa alay, sampai akhirnya normal lagi. Mulai dari cinta monyet jaman SD, sampai masa-masa SMA kelabu yang penuh warna dan cerita.

Awal karir di dunia kepenulisan (pernah berkarir, ya? 0.o), karya-karya yang kubuat, aku jual ke teman-teman yang waktu itu minta tolong dibuatin karangan. Inget banget, deh.. masa-masa ujian praktek yang serba ruwet, mereka yang senang praktis, dan aku yang senang sama duit, terjadilah transaksi itu. Mereka dapat nilai, aku dapat duit. Ehehe..

Sebelum itu, aku pernah membuat satu cerpen sampai TAMAT. Ya, masa-masa SMP. Masih berkutat di cinta monyet yang masa itu lagi demen-demennya bikin tulisan berdasarkan rasa suka ke satu orang. Aih, malu.. udah, gitu aja untuk yang masa SMP :')


Dunia tulis-menulis, ketik-mengetik, sempat aku tinggalkan. Vakum beberapa tahun dan bakat itu mulai meluntur. Tapi, semuanya kembali muncul lagi di permukaan. Karena seseorang lagi, akhirnya aku mulai menulis. Menuangkan kembali isi kepalaku, dengan satu tokoh yang menginspirasi, kugunakan kata-kata yang sering kujumpai dalam setiap buku yang kubaca, kubiarkan semua mengalir, sesuai hati, sesuai pikiranku. Awalnya gemas.. karena ujung-ujungnya, cerita-cerita yang sudah tertuangkan dengan tulus itu, sampai sekarang belum dituntaskan semuanya. Tapi, aku senang menulis. Walaupun sekarang sudah ada laptop dan aku nggak perlu berpegel-pegel ria buat nulis di atas kertas lagi, aku tetap suka menulis. Satu cerita, bersambung ke cerita yang lain, dengan tokoh yang sama, dan Alhamdulillaah.. cerita nyata dengan tokoh yang sama itu sudah kubukukan. Eh, but so sorry.. It's not for sale :)


Mimpi buat jadi penulis terkenal? Hem, pengeenn bangeeeet! Intinya gini. Dari kata-katanya Bang Tere Liye, "biasakan menulis setiap pagi", aku memulai semuanya dari situ. Yah, cuma sedikit, tapi mudah-mudahan membawa manfaat. Sedikit tapi rutin, itu lebih yahut banget deh. Ala bisa karena biasa~

Semua orang di dunia ini adalah 'penulis'. Kok bisa? Ya, karena sedari kecil, kita sudah diajari dan dibiasakan untuk menulis. Suka atau tidak, kita sudah familiar dengan ilmu itu. Bedanya, orang-orang yang bisa menerbitkan buku seperti Teteh Asma Nadia, Bang Tere Liye, Ust. Felix Siauw, mereka mengasah kemampuan mereka yang sudah ada itu dengan terus belajar, berlatih, berguru, dan mengambil ilmu-ilmu dari manapun untuk dituangkan dalam karya-karya mereka. Hasilnya? Luar biasa! Beda banget sama hasil karyaku yang masih amatiran ini. Pertanyaannya, Sampai kapan label amatiran itu bersanding di jidatku? Nggak perlu nanti. Kalau perlu sekarang.. labet amatiran itu harus lenyap. Ihiiiirr~ optimis banget! Iya dong, harus!

So, selamat menulis! Tuangkan semua yang ada di kepala. Biarkan isi yang semerawut itu terus mengalir. Banyak membaca. Lebih baik mengulang dan menengok lagi tulisan-tulisan yang ada. Buat karya terus! Ganbatte!

-------------------------------------------------------------- 


Balikpapan, 03 Maret 2013
09.17 wita

Minggu, 02 Maret 2014

Pencari Kebenaran #4

Bismillaah...

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang berpikir."
[Terjemahan Q.S. Ar-Ruum 30:21]

Familiar dengan surah ini? Hm, coba deh lihat di balik undangan-undangan walimahan (pernikahan). Nggak nemu? Yasudah, buruan deh buat undangan walimahan sendiri, ehehe.. Buruan nikaaaaahh~ *ngomporin*
Eh, kali ini kita ngebahas soal NIKAH. Apa?? Iya, Nikah.. Sudah ah, nggak usah heboh gitu :D Aku loh biasa ajeeee~

Cieee, ada yang ngebet nikah, ya? Yee, tiap orang juga PASTI ngebet nikah, lah. Siapa yang nggak mau nikah? Hayooo, ngaku? Atau ada yang nggak mau nikah? Wah, bahaya nih. Kalau keinginan buat 'nggak' nikah itu ada, bahaya banget, deh. Harus dipertanyakan nih kejantanan dan keperempuanannya. *piss*

Jadi, kenapa harus NIKAH?
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."
[Terjemahan Q.S. An-Nuur 24:32]

Sudah dicermati dan diresapikah makna dari ayat di atas? Alloh tak akan membuatmu susah dengan menikah. Alloh mewajibkan kita untuk menikah. Bila ada kemauan untuk itu, maka menikahlah. Mau menunggu apa? Menunggu sampai mapan? Rejeki itu sudah diatur. Bagaimanapun posisimu, Alloh sudah atur itu jauh-jauh hari. Lah, kalau nunda nikahnya gara-gara perbaikan diri? Naaaahh.. itu lain lagi ceritanya. Ada keinginan yang kuat dalam dirinya untuk menikah, namun dia merasa dirinya belum mampu untuk menjadi seorang pemimpin dalam rumahnya nanti. Dia takut kalau dirinya tidak bisa mencontohkan akhlak Islam yang baik untuk anak-anak dan istrinya kelak. Akan diberikan apa anak-anaknya nanti? Hiks.. sedih, yaa. Pengen banget nikah, tapi dirinya masih belum mampu secara keimanan, BUKAN materi saja. Tengok lagi hadist berikut ini:

"Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya."
[HR. Al-Bukhori dan Muslim]

Apalagi ini maksudnya? Permisi~ ini penjelasan untuk mereka yang pengeeenn banget menikah tetapi belum mampu untuk itu. Jika belum mampu, maka berpuasalah! Nah, mudah banget kan? Alloh memudahkan langkahmu yang mulia itu. Nggak sulit. Perbaikilah apa yang harus diperbaiki. Jika sudah mantab, segeralah menikah. Bukan ngopor-ngoporin, sih. Tapi, cuma ngedorong semangat buat nikah ajeee. Yee, sama aja ya? :D Hehehee...

Dikomporin nikah mulu, nih. Gunanya apa sih, NIKAH itu? Kalau nggak ada gunanya, males deh gue nikah.. Oke, oke.. tak kasih bocoran nih gunanya Nikah itu apa. Cekidot!
"Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab setan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya."
[HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas r.a.]

Dari hadist ini, bisa dikemukakan kegunaan dari Nikah. Kalau disebut mah 'hikmah'nya NIKAH, deh. Menikah itu membuat yang sebelumnya non-mahram (bukan suami-istri, keluarga sedarah, dll), menjadi MAHRAM (sah dimata agama dan hukum). Enak yaaa.. kemana-mana berduaaaa terus. Mau ngapain aja PAHALA. Berduaan (khalwat) pun nggak ada setan yang mendampingi untuk menjadikan ke-khalwat-an itu menjadi DOSA. "Lihat nih setan! Gue udah bareng istri sah gue. Mau berduaan juga nggak ngepek lagi!" Tsaaah, sangking keselnya sama si Setan, itu orang sampai ngomong kayak gitu ke Setan pasca nikah telah di tangan. Deuuh, berat bangeeeeett...
"Mbak, maaf... khalwat itu apa, ya?" Oh iya, lupa. Khalwat itu berdua-duaan, bukan mahram lagi, di tempat sepi maupun ramai, dan pelakunya adalah 'lawan jenis' (laki-laki dan perempuan). Sudah jelas? Kalau belum, nyook kita buka forum diskusi di tempat lain :)

============================================= cinta karena Alloh~

Tak perlulah kau letupkan janji untuk cintaiku sepanjang hidupmu,
Terlalu muak hati ini jika yang tertuang hanya janji..
Untuk apa janji, jikalau tangan tak pernah saling bertautan?
Tak terikat dalam hati yang satu..
Tak disatukan dalam selingan jemari tergenggam..
Cukuplah kau sambangi rumahku..
Temui mereka yang dikontrak Alloh tuk jagakan diri ini untukmu..
Mintalah pada mereka..
Khitbah aku..
Dengan bismillaah..
Atas cinta sucimu pada-Nya..
Atas keinginan kita tuk sempurnakan Iman..
Luapan cinta yang diaamiinkan langit..
Tertungkup cinta atas do'a para malaikat..

In syaa Alloh~
Penulis pun inginkan itu.. {}

Balikpapan, 02 Maret 2014
10.35 wita

Kampus bertingkat,
Mimpiku di sini,
Cintaku tergantung di sini,
Semua bermula di sini,
Perubahanku, Langkahku, Agamaku..
Alloh~

Kamis, 27 Februari 2014

Pencari Kebenaran #3

Bismillaah...


Kelak hari itu akan datang. Hari kebangkitan yang dinantikan oleh sebagian orang. Mereka yang tau dan sadar akan kebesaran-Nya. Mereka yang senantiasa memuliakan-Nya. Ya, hari di mana semua orang lari tunggang-langgang, kepanikan membuncah, bak segerombolan semut yang dituangi air. Mereka berhambur ke segala arah. Hal itu berlaku bagi mereka yang lupa dengan hari akhir, yang tak tahu-menahu  dengan ketetapan-Nya. Lagi-lagi.. dunia tak berharga lagi ketika hari itu datang...

"Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya."
[Terjemahan Q.S. Al Mu'minuun 23:101]

Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Akankah ada yang terselamatkan, layaknya kisah yang di-film-kan dalam film 2012? Tidak! Semua musnah! Sekejap.. dalam hitungan detik.. Hari kehancuran. Jagat Raya luluh lantah.

"Barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
[Terjemahan Q.S. Al-Mu'minuun 23:102]

Ragukah hati ini untuk terus kumpulkan persiapan dini? Sebelum semua terlambat.. dan kita menjadi orang yang merugi? (Naudzubillaah..) Betapa bahagianya mereka yang hari itu dieratkan timbangannya, hadiah yang terkumpulkan selama di dunia telah digenapkan, wajah mereka bercahaya, tak ada kekhawatiran, tak ada kepanikan...

"Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam."
[Terjemahan Q.S. Al-Mu'minuun 23:103]

Terbukti, kan? Janji Alloh untuk mereka yang tak banyak melakukan amala-amalan sholih semasa hidupnya di dunia.. Neraka Jahannam. Silahkan bayangkan, bagaimana bentuknya neraka Jahannam.. Silahkan bernegosiasi dengan hati nurani, apakah diri ini sanggup berlama-lama di sana, bahkan KEKAL di dalamnya? Silahkan membesarkan hati dengan pemikiran 'kami tak mungkin selamanya di sana'. Silahkan.. karena ketika hari itu datang, semua akan terbukti dengan nyata dan perkiraanmu itu akan terjawab.

"Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat."
[Terjemahan Q.S. Al-Mu'minuun 23:104]

Astagfirulloh.. Adakah yang inginkan wajah yang full perawatan ini akan berbentuk seperti itu? Tak usah dibayangkan! Karna mungkin saja, setelah ini akan banyak manusia yang tidak mau pergi merawat wajahnya... Dan bagi yang tertampar dengan ayat ini, dia akan buru-buru menambah perawatan wajahnya, dengan perbanyak sholat, wudhu yang terpancar, aih.. betapa apiknya wajah nan rupawan itu..

"Padahal Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, tetapi mereka benar-benar pendusta."
[Terjemahan Q.S. Al-Mu'minuun 23:105]

Pendusta? Betapa ngerinya julukan itu apabila Alloh-lah yang menjuluki secara langsung dan tepat. Siapa yang ingin dicap sebagai pendusta Alloh? Kita? Mereka? Saya? Kamu? Kalian? In syaa Alloh, tak ada satupun dari kita yang inginkan julukan itu.

------------------------------------------------------
Wahai hati yang tertutup abu Kelud,
Setebal itukah kebencianmu pada kebenaran?
Sesukar itukah langkah kau belokkan ke arah Illahi?
Duhai sang pencermin masa,
Tak ada kata terlambat..
Abu yang setebal itupun,
Bila ditiupkan ruh keimanan.. 
Pasti akan berterbangan
Mengikuti arah angin yang kan kandaskan sisa-sisanya..
Keimana kan suburkan hidupmu,
Mudahkan langkah ke Jannah-Nya,
Beratkan beban pada timbangan kemuliaan..

Apa yang kau tunggu?

Balikpapan, 27 Februari 2013
10.02 wita

Selasa, 25 Februari 2014

Pencari Kebenaran #2

Bismillaah..

"Sebenarnya (hari Kiamat) itu akan tiba kepada mereka secara tiba-tiba, lalu mereka panik; maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) diberi penangguhan (waktu)." 
(Terjemahan Q.S. Al-Anbiyaa' 21:40)

Kalau ditanya, "Dian, sudah siapkah ngadepin hari kiamat?" Jawabanku simpel, "Sudah!" Loh, kenapa saya bisa se-optimis itu? Iya, karena saya yakin bahwa kiamat pasti akan datang, kapanpun dan dimanapun saya berada. Mau menghindar dengan alasan "Yaa Alloh, saya belum siap. Tunda sehari lagi dong kiamatnya".. hei, itu kiamat sist, bukan midnight sale yang bisa ditunda kedatangannya. Eh, pertanyaan laiinya muncul lagi, "Emangnya amalanmu sudah banyak, sampai-sampai sama kiamat kayaknya udah ready banget?" Hem, gini sist.. amalanmu mau banyak atau nggak, menurut saya, yang namanya kiamat itu harus di-ready-in. Datangnya tiba-tiba, loh. Inget, tiba-tiba... perlu saya bold, underline, dan diberi efek italic kah kata-kata 'tiba-tiba'nya? Hehe..

Terus.. si penanya sepertinya belum puas tuh sama jawaban alakadarnya dari saya. Dia nanya lagi deh, "Hem, gini deh, yan.. kamu optimis sama kiamat, terus nggak yakin juga amalannya sudah banyak, kiamatnya juga datang tiba-tiba gitu, kite musti nyiapin apa dong? Masih bingung, nih." (sambil garuk-garuk kepala) Yasudah, gini.. di Al-qur'an pan sudah diterangkan soal hari kiamat, tanda-tandanya apa saja, terus.. buat kita yang masih bingung kudu nyiapin diri buat kiamat-nya gimana, wah.. berarti al-qur'annya cuma jadi pajangan aja, tuh. Oke.. oke.. saya tidak sedang nge-judge. Tapi, kalau itu ngenyindir hati-hati sista semua, saya mohon maaf, deh. Eh, tapi ada bagusnya juga, tuh. Berarti hatinya masih bergetar kalau ngerasa kesindir. *piss*

Kembali ke topik penyiapan diri menghadapi hari kiamat. Kita lihat deh, bencana di mana-mana, umat muslim mulai dibantai-in, sesama muslim saling bentrok, belum lagi maksiat yang merajalela, dimana-mana banyak pasangan non-mahram berduaan, see? dari situ kita bisa ngambil pelajaran. Alloh tengah menguji 'kepekaan' kita terhadap tanda-tanda yang Dia berikan. Kalau kita udah tau tanda-tanda hari kiamat itu, otomatis.. kita pasti jadi rajin sholat, shaum (puasa)nya digenjot, tilawah qur'annya nggak putus, sholat sunnah, zakat, sedekah, infaq, semuanyaaa kita lakuin. Supaya apa? Supaya nanti pas hari kiamat, kita nggak termasuk orang-orang yang terkaget-kaget alias latah gitu loh. Hehe..

Masih bingung? Sama saya juga bingung. Ya, mohon dimaafin ajadeh kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Ilmunya masih cetek soalnya. Tapi, pantang bagi saya untuk 'tidak' menyampaikan kebenaran. Walau ilmu sedikit, kebenaran dan kebaikan itu musti disampaikan. Satu ayat pun nggak masalah.

So, kesimpulannya.. bagaimana pun keadaan imanmu, mau lemah atau kuat, kita HARUS menyiapkan semuanya buat menyambut hari kiamat nanti. Jangan cuma hari Valentine aja yang disiapin (padahal Islam nggak ngajarin itu, tuh). Ayo, berlomba-lomba buat ngumpulin persiapan ke sana. Ya, syukur-syukur kalau kita nggak ketemu hari kiamat. Judulnya kita dipanggil duluan sama Alloh. Eits, walaupun dipanggil duluan pun, persiapannya kudu OKE. Dari sekarang, selagi ada sisa waktu, sebelum perang akhir zaman diletupkan, sebelum air mata darah tertumpahkan, sebelum gunung-gunung dipecahkan, sebelum langit dihancurkan, sebelum air laut tumpah, sebelum kita bergelimpangan tak berdaya, KITA HARUS PERSIAPKAN SEGALANYA MULAI DARI SEKARANG! INGAT! MULAI DARI SEKARANG!


Semoga dapat diambil hikmahnya :)


Balikpapan, 25 Februari 2014
13.47 wita 
Kiamat ada di depan matamu~
Waspadalah!
Bersiaplah!

Rabu, 12 Februari 2014

Temukan Aku #19

Bismillaah...

Tak terhitung banyaknya daun berguguran melintasi langit, ditemani angin semilir, dan harap melabuh..
Musim silih berganti mengiringi hati yang tak menentu.. Aku masih berdiri, raga bergetar, dan hati tak tahu berada dimana..
Sudah berapa lama kita begini? Berdiam diantara kerumunan hati yang berdetak kencang, gemuruhnya memecahkan pilu hati, dan aliran darah yang dipompakan seakan-akan meledak-ledak ke seluruh penjuru pembuluh darah.
Hampir satu dekade hati ini dipisahkan..
Berharap semua membaik, kau terbiaskan, rasa menguap atau menyublim bersama perubahan udara dan kadar oksigen yang menyebar luas..
Namun, langit paparkan wajah yang sama..
Mendayu memanggil hati yang telah kutinggalkan di ruang langit yang lain..
Panas.. Rasanya dentuman itu menghantam keras ke dalam ingatan-ingatan yang mulai rapuh untuk dikembalikan lagi..
Ragamu yang utuh di hadapanku, mengoyak habis kekuatan yang selama ini kubangun..
Kau datang untuk apa? Untuk siapa? Kenapa baru sekarang? Kenapa?

~Silahkan kasih judulnya sendiri~


Diani's
Balikpapan, 12 Februari 2014
21.37 wita
My eight..

Senin, 10 Februari 2014

Temukan Aku #18

Bismillaah...

Setelah hari-hari dalam tahun berlalu..
Ingatan mulai memudar..
Sosok itu menghilang..
Harapan lenyap..
Seketika awan pink mengitari senja..
Cantik..
Hembusan cinta dimana-mana..
Aku terlena..
Bolehkah kumiliki dan kubawa pulang?
Duhai kasih yang terhampar di langit?

Balikpapan, 10 Februari 2014
20.01 wita
.. One thousand years~

Rabu, 05 Februari 2014

Temukan Aku #17

Bismillaah...

Berkali-kali ditolak dan terhalau ingin untuk pergi sendiri keluar kota, perlahan-lahan tersamar. Terkadang, mencoba mengerti dengan keadaan ibu itu lebih baik daripada sekedar mengedepankan ego sendiri demi dapatkan kebahagiaan yang belum tahu kadar keabadiannya. Tak apa, hari ini masih belum bisa pergi kemana-mana. Mungkin nanti... entah kapan waktu itu ditentukan.

Mau cari tiket ke Surga, kan?
Ayo, bersabar...
Kecewa itu hal yang lumrah.. tapi, apa gunanya kecewa dengan ketetapan Alloh?
Nikmati segala kelebihan yang kau punya. Baik dalam keluarga, maupun diri.

Apa yang perlu disesali? :)

Jumat, 31 Januari 2014

Temukan Aku #16

Bismillaah...

Apa kabar 1 Februari? Beberapa detik lagi, ya? Sudahkah ada yang meghabiskan waktu denganmu saat ini? Apakah aku masih dinanti? Ah, hari bahagiamu, mana mungkin aku lupa. Semoga berkah~
Mengharapkan diriku yang mengucapkan seperti dirimu yang dulu berbincang denganku berjam-jam saat tanggal 20 itu mulai mendekat? Rasanya ingin berbuat yang sama, tapi.. apa daya.. nyaliku langsung ciut. Berkali-kali alaram di Hp-ku kedip-kedip. Ada inisial yang terpampang di layarnya. Aih, berbulan-bulan yang lalu tanggal yang terblok ini sudah kutandai. Supaya apa? Ya supaya nggak ada yang terlewatkan..

Teruslah ukir kisah dimanapun kaki itu kau pijakkan..
Tak masalah bila akulah yang mulai terhapus..
Tapi, mungkin inilah awalnya..
Ingatanmu tengah diuji dengan bingkisan kecil dariku..
Barokalloh atas umurnya yang bertambah..
20 tahun, 20 tahun..
Selalu ada getaran di sana..
Kau merasakan, kah?

Tuh kaan~ gagal!
Aku menyerah, deh!
Hiks~
 :'(
DI.RA..
31 Januari 2014
23.47 wita
13 menit lagi~

Minggu, 26 Januari 2014

Pencari Kebenaran #1

Bismillaah...

Assalamu'alaykum :)

Berada di tengah orang-orang baru yang menawan dengan jilbab panjang dan cadarnya, MasyaAlloh... ingin rasanya menjadi seperti itu. Teduh memandang mereka yang secara utuh menutupi dirinya. Tenang rasanya ketika berbicara dengan mereka yang selalu sunggingkan senyum ramah dan bersahabat itu. Berbeda dengan mereka yang menatap lain, ah.. maaf.. tak bermaksud membanding-bandingkan, namun kenyataannya memang seperti itu. Aku hannya menilai secara objektif. Entah, kenapa aku mudah sekali diterima oleh mereka? Dan entah, kenapa Alloh lancarkan kaki ini untuk pergi ke sana dan dipersaudarakan lagi dengan mereka, orang-orang baru. Bermodalkan "Akan kucari Engkau di manapun Agamu dijunjung", aku beranikan diri untuk masuk di kawasan asing yang belum pernah kusentuh. Ringan rasanya diri ini menuju ke tempat itu. RIngan rasanya hati ini ketika harus melepas agenda-agenda lainnya demi menyambangi majelis ilmu itu. Dan setelah sampai di sana ratusan ribu syukur terpanjat lagi. Tak ada sesal, melainkan hidayah yang tengah diguyur deras ke dalam relung hati. Aku sadar, aku tertampar... Langkah ini masih belum berhenti untuk pijakkan jejaknya di seluruh majelis ilmu. Hanya untuk tentukan yang haq, yang untuk pastikan aku telah berada di Agama-Nya yang lurus, tak berkelok, dan menggiringku ke arah yang salah (Neraka).

Akan kulakukan sesuatu dari hal-hal yang kecil dan yang bisa kulakukan terlebih dahulu. Janji Alloh itu pasti. Apa yang harus kurisaukan lagi? Teruslah mencari, hingga Alloh tautkan hatiku pada satu titik keimanan yang padu. Walau dir semakin hari semakin baik, tapi kehausan akan kebenaran Agamaku tak akan biar diri ini berhenti di posisi ternyamanku. Aku akan menjelajah lagi. Lakukan 'blusukan' ke tempat-tempat yang Alloh tentukan. Hanya untuk menemukan-Mu, sempurnakan agama-Mu yang ada pada diriku, dan pastikan bahwa kelak aku akan bertemu dengan-Mu. Aku akan terus mencari. Ya, usaha serta do'a.. bukan untuk jodoh lagi, melainkan untuk cinta hakikiku... Allohu Robbi~

Sayapku siap kukepakkan,
Ukurannya telah mantap,
Siap menerjang langit,
Kuat menahan badai,
Mantap tentukan kekuatan kepakannya...

Sayapku telah sempurna,
Tuk temukan jalan kembali,
Setelah patah dan tersesat,
Aku kuatkan lagi posisinya,
Hingga kepakannya mampu membelah langit...

Dan sayapku sudah kukepakkan,
Menuju lajur kebaikkan,
Menemani senja mengukir kisahku,
Menempati tempat terbaikku,
Memulai lagi dengan sepasang sayap baruku...
Ya, sayap yang sempat patah,
Namun kini...
Telah tersambung sempurna...



Balikpapan, 26 Januari 2014
23.09 wita
Al-Hikmah...
temukan jalan kembali...
temukan keluarga baru...
temukan cahaya di kegelapan hati...

My (future) Family #1


Ketika putra nomor tigaku diambil Alloh kembali, beberapa bulan kemudian... Alloh berikan lagi penggantinya. Walau rasa kehilangan itu masih berasa, tapi Alloh tak pernah biarkan diri ini bersedih terlalu lama. Disegerakannya si penawar luka. Ya, putra bungsuku berada di dalam rahimku... tepat sebulan setelah kandanya pergi. Meninggalkan kami, menorehkan pilu yang mendalam...

. . . . .

"Ayah! Fajar, Yah!" teriakku panik.
Suamiku segera berlari ke kamar anakku, Fajar, menemuiku yang sudah memasang wajah panik dan ketakutan. Dia menyentuh lengan Fajar, memeriksa denyut nadinya, dan dipandanginya wajah pucat anak kami yang sekujur tubuhnya mulai dijalari hawa dingin.
"Innaalillahi... Fajar telah pergi, Bu..." katany lirih.
Aku diam. Tak bergerak dan terus memandangi jasad anakku. Tanpa isak tangis, aku mencoba melapangkan dadaku seluas-luasnya. Ya, aku tak menangisi kepergiannya. Karena aku tahu, segala yang hidup akan mati dan kembali menemui pencipta-Nya.
Fajar menderita kelainan jantung. Sifatnya yang periang, terkadang membuatku lupa bahwa dia tengah sakit. Dia tidak bisa banyak beraktivitas. Di usianya yang baru mengunjak 6 tahun, dia sama sekali tidak bisa duduk diam dan terus beraktivitas sesukanya, walaupun telah kuperingatkan berkali-kali. Anakku yang cerdas, begitu cepatnya Dia memanggilmu. Padahal, baru berberapa hari yang lalu kau diperbolehkan untuk pulang, menemani kami lagi. Tapi, hari ini... ah, Alloh tengah berencana lain.
Tiba-tiba sekelilingku berputar. Pandanganku menghitam. Dan aku merasakan diri ini ringan. Entah, apa yang terjadi setelah itu...

. . . . .

Aku mendapati sekelilingku penuh dengan orang-orang. Ketiga anakku tengah menagis tersedu di sampingku. Ah, aku teringatkan sesuatu. Salah satu anakku telah meninggal... dan orang-orang ini mungkin para tetangga yang datang melayat. Kupaksakan diri ini untuk tersenyum dan bangkit dari tempat tidurku. Namun, tubuhku kembali terjatuh. Dengan sigap, suamiku menahan badanku sebelum benar-benar terhempas. Ada dia... anakku masih ada 3 orang.. ada Alloh di balik semuanya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan sangat deras. Tanpa isakan menggugu, aku hanyut dalam pelukan hangat suamiku.
"Ibu... jangan menangis. Masih ada kami. Dinda janji, nggak bakalan bertengkar lagi dengan Kanda dan adik Senja," hibur Dinda yang kudapati wajahnya memerah. Air matanya masih bercucuran. Berkali-kali dihusapnya air mata itu sembari menatap dan terus menggenggam tanganku.
"Iya, sayang. Ibu nggak nangis lagi, kok. Janji! Dinda juga nggak boleh nangis lagi, ya. Sini, sayang..." aku memeluknya, diikuti lagi oleh kedua anakku. Dalam rangkulan hangat sang suami, kami larut dalam kebahagiaan yang bercampur mendung.
"Di, hadapi ini semua dengan tenang, ya. Maaf, aku nggak bisa ngelakuin apa-apa. Sekarang kita keluar dulu, yuk. Nemuin para tetangga dan ngurus pemakaman anak kita. Didi sudah agak mendingan, belum? Kalau belum, biar Ayah saja yang keluar," katanya denagn deretan kata panjang yang menandakan bahwa dia dalam keadaan bingung dan panik.
Anak-anakku mulai melonggarkan pelukannya dan menatap kami dengan wajah berlinangan air mata.
"Aku sudah nggak kenapa-kenapa kok, Bi. Ayok, kita keluar. Ikut Ibu sama Ayah yok, sayang," pintaku dengan tulus kepada anak-anakku.
Mereka mengangguk, lalu mengikuti langkah kami. Para tetangga yang sedari tadi sudah menyiapkan ini itu, menyalami kami. Ikut bersedih dan berbelasungkawa... Langit pun mendung, menemani perjalanan kami yang akan kami mulai tanpa sosok Fajar lagi.

. . . . .

Di pinggir danau yang menjadi tempat favorit kami untuk berlibur, kami menikmati udara sejuk dan sosok baru di tengah-tengah kami. Ya, si bungsu Yusuf, terlahir dengan gagah dan sempurna. Dialah sang penghapus sedih yang dihadiahkan oleh-Nya untuk kami semua. Dan inilah buah dari kesabaran kami. Ah, satu tahun yang lalu... kami semua berusaha tegar, walau saat sholat di sepertiga malam, masih kudapati mata ini menjatuhkan bulir-bulir sucinya, mengenang dan merindukan Fajar. Juga suamiku yang menangis dalam diamnya saat memandangi foto Fajar yang sedang menggenggam jemari sembari tertawa lebar. Ah, kami sudah lalui itu. Saat ini, usia Yusuf sudah 13 bulan. Kami berbahagia atas kehadirannya... namun, cinta kami pada Fajar akan tetap mengalir, begitu pula dengan Yusuf.

. . Tamat . .

Temukan Aku #15

Bismillaah...

Tak henti-hentinya diri ini  mensyukuri atas perjalanan terhebat yang selalu dilalui saat ke sana. Lagi-lagi, rintik hujan menemani di kala kekhawatiran menghantui. Ah, hujan yang memiskan tiap percikannya di wajah. Sendu... pilihan untuk berbasah-basahan harus dihentikan di tengah kondisi badan yang payah dan hidung yang srat-srot mulu. Tapi, syukuri... aku bahagia~

Kampus belantara...
Masih ingat dulu aku pernah posting ini?
"Suatu hari nanti, aku harus melantunkan Ar-Rohmaan di sudut ruang musholla".
And see? Hari ini Alloh lengkapkan lagi inginku. Diberikannya kesempatan untuk terus mensyukuri tiap tetes nikmat yang terpancarkan untukku. Benar-benar berpuluh-puluh ribu barel syukur untuk hari ini :)

Rindu temukan muaranya lagi.. Ya, aku sudah sangat biasa mengendalikan semuanya. Bertemu pun tak lagi timbulkan resah. Cukup mengingat-Nya, hati ini kembali tenang.

Rintik Hujan...
Almamater basah...
Al-Qur'an Pink...
Musholla...
Kampus Belantara...
Isak tangis...
Kisah katak tuli... ah, suara dan cerita yang serupa langsung muncul di kepalaku, tersetel lagi saat Kak Anto menyebutkan kisah itu. Ya, suaramu...
Rindu...

Ah, pemandangannya keren... rasanya ingin berlama-lama di sana. Terus syukuri atas apa yang tertinggal. Mungkin ada yang tertinggal di sana. Hm, rasa haru dan rindu. Tamparan keras membonyokkan hati. Ada luka saat mata ini mengeluarkan titik-titik harunya. Aih, acaranya mantap! Bangga rasanya bisa jadi bagian dari mereka.

Do'a naik ke langit...
Entah, malaikat mungkin tengah mengaamiinkan...
Demi seulas senyum tipis tersungging di wajahnya...
Demi sebuah luapan hati yang masih menggantung...
Ah, tak apa!
Ini awal untuk sosok terhebatku nanti...
Mungkin dia, mungkin juga yang lain...
Siapa yang tahu?


Balikpapan, 26 Januari 2014
00.37 wita
Ada kita lagi di sana,
di sudut ruang penuh do'a,
dan di tengah ruang bertatap senyum samar...

~DI.RA~

Sabtu, 18 Januari 2014

Temukan Aku #14

Bismillaah...

Butiran halus,
Jatuh dari langit,
Alloh jatuhkan nikmat lagi,
Bertemu denganNya,
dengan perantara langit,
sesuatu yang lembut menyentuh tanah terhampar...
Halus, layaknya salju,
Ya, salju di siang bolong,
Bersama Rahmat,
Petunjuk, juga hidayahNya...

Satu lagi, Alloh berikan ketenangan di tengah ombak besar yang terus menghempas hati dan mengombang-ambingkan nahkodanya. Ah, seperti titik-titik hidayah yang dipancari cahaya Illahi...
Rintik yang diberkahi serpihan pancaran mentari..~

Liqo' ditemani bulir-bulir terhalusNya..
Lagi-lagi petunjuk diturunkan secara langsung dari langit..
Menghapus gundah, resah, dan keraguan..
Alloh temani lagi perjalanan terberat ini..
Ah, air yang menawan.. Hujan~

Gazebo... 6 gamis.. 6 syar'i..


Apa kabar? Semoga Alloh limpahkan rahmat dan hidayahNya. Jika hari ini banyak kegagalan yang ditemui, tak apa. Itulah ujian sekaligus bonus untukmu. Tak perlu menyesal. Cukup syukuri, resapi apa yang salah, dan lakukan hal yang lebih baik dari hari ini di keesokan harinya. Karena kawan, hari ini akan segera menjadi masa lalumu. Sambutlah hari esok dengan banyak kemanfaatan dan terisi dengan ilmu yang bermanfaat. Hilangkan 'kesia-siaan' terus mewarnai harimu. Lakukan perubahan! Walau berat dan tertatih, percayalah... keajaiban itu pasti. Sebab, Alloh selalu pancarkan nikmatNya yang terkadang tak kau anggap sebagai pertolongan maupun nikmat yang teramat nikmat. Kau hanya menganggap segalanya itu sebagai 'keajaiban'. Tapi, ingat! Tak ada yang namanya keajaiban. Semua telah diatur. Dan sebaik-baiknya pengatur segala sesuatu adalah Alloh Subhanahu Wa Ta'alaa~

Balikpapan, 18 Januari 2014
22.26 wita

Selasa, 14 Januari 2014

My (future) Family :)

Ayah, Ibu, dan keempat anaknya...

"Sini nak, Ayah mau menceritakan tentang perjuangan air melawan takdir."
Keempat anaknya meringsuk mendekati Ayahnya dengan wajah berseri-seri. Si bungsu menggelayuti Ibunya, memohon agar ikut bergabung bersama mereka. Mereka pun berhasil mengerumuni Ayahnya yang sedari tadi menanti mereka dengan wajah sumringah yang tak pernah padam.
"Ayo Ayah, mulai saja ceritanya," rengek si Sulung dengan wajah penuh penasaran.
"Tunggu Ayah, Dinda belum pakai jilbab, nih," dengan setengah berlari, si Putri Nomer Dua kembali masuk ke dalam rumah, mengenakan jilbab, dan mendekati Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya yang telah berkumpul di teras rumah.
"Haha, iya Ayah tungguin kok, Dinda. Kanda yang sabar, ya. Tunggu Dinda dulu," ucap sang Ayah sembari mengelus lembut kepala si Sulung.
"Ayo, Ayah. Dinda sudah siap!"
Sang Ibu pun ikut duduk di sebelah sang Ayah sambil memangku si Bungsu.
"Nah, karena sudah lengkap semua, Ayah mulai ceritanya. Begini..."
Keempat anaknya memerhatikan Sang Ayah dengan wajah penuh keseriusan. Mereka selalu begitu ketika sang Ayah hendak menceritakan sebuah kisah kepada mereka. Tak akan melewatkan satu kata pun yang disampaikan.
"Ehem! Di sebuah taman yang dipenuhi tumbuhan-tumbuhan rindang nan menawan, terdapat empat buan pancuran sedang yang mengelilingi sebuah pancuran yang saaaaaangat besar. Dari masing-masing pancuran ini, mereka akan hasilkan pancaran air yang berbeda-beda panjangnya serta tempat mereka menjatuhkan airnya."
"Kenapa bisa beda-beda, Yah?" tanya si Putra Nomer Tiga.
"Karena setiap pancuran memiliki tugasnya masing-masing," jelas sang Ayah.
"Hah? Tugas apaan, Yah? Bukannya mereka dibuat dengan bentuk dan ukuran yang sama?" protes si Sulung.
"Haha, benar, sayang. Tapi, bukankan lebih indah jika yang bentuknya serupa itu diberi tugas yang berbeda-beda agar saling melengkapi?" jawabnya.
Si Sulung mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda setuju dengan jawaban sang Ayah.
"Ayah lanjutkan, ya. Si pancuran yang besar itu, tidak setiap saat dinyalakan. Tapi, sekali dinyalakan, pancaran airnya akan mencuat ke atas, banyak sekali jumlah airnya, dan setiap mata yang memandangnya pasti akan bahagia dan mendatanginya. Berbeda dengan keempat pancuran sedang yang mengelilinginya. Mereka sering dinyalakan, walaupun si pancuran besar dalam keadaan mati. Jumlah airnya tak terlalu banyak, tapi banyak orang-orang yang duduk di dekatnya untuk merasakan percikan air yang dihasilkannya. Dan air yang mereka keluarkan pun ikut berbahagia. Bayangkan nak, setiap air yang keluar dari tiap-tiap pancuran itu, mereka di terbangkan ke udara, mencuat ke atas, lalu dijatuhkan ke bawah. Entah mengenai lantai taman, wajah seseorang yang sedang tertawa sumringah, atau mengenai sang pancuran itu sendiri. Air-air itu tak pernah mengeluh. Selalu berbahagia."
"Jadi, apa hubungannya Yah, tugas masing-masing pancuran sama air itu?" tanya si Sulung lagi. Si Putri Nomer Dua terlihat menyikut kakaknya dengan wajah gemas karena si kakak memotong cerita Ayahnya.
Sang Ayah tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya, "Jadi, hubungan antara tugas tiap pancuran yang berbeda dan air-air itu adalah... tiap pancuran punya ukuran dan jumlah air yang dihasilkan dalam jumlah yang berbeda-beda. Dan setiap air yang dihasilkan pancuran itu, si pancuran mempunyai tugas untuk membidik siapa saja yang terkena airnya agar merasa bahagia. Tak peduli itu manusia, hewan, atau tumbuhan. Begitu pun dengan air, karena dia diamanahi oleh pancuran untuk membahagiakan siapa saja yang dikenainya, maka air tak boleh mengeluh, apalagi milih-milih untuk dijatuhkan dimana. Dia harus ikhlas, karena dimanapun ia dijatuhkan, siapa yang sangka, airnya itu bisa menimbulkan senyuman sumringah di wajah seseorang?"
Ayah meneguk segelas air dan melanjutkan lagi," Takdir air yang dijatuhkan terus-menerus tanpa merasakan sakit, harus dilawannya dengan keinginannya yang menggebu untuk memilih dijatuhkan di tempat yang ia inginkan. Tapi, lagi-lagi air mengalah. Takdir sudah dipilihkan. Buat apa dia melawan? Jadilah air selalu mengikuti kemana pun arah pancuran itu mengarahkan jatuhnya. Selalu begitu setiap hari. Ceritanya sampai di sini dulu ya, Sayang. Mau maghrib. Kita harus siap-siap sholat berjama'ah."
"Yaaaaahh... kita kan mau dengerin ceritanya sampai selesai, Yah," gerutu Si Sulung dan Si Bungsu serempak.
"Haha, kelanjutannya akan kalian dapatkan setelah kalian dewasa nanti ya, anak-anakku. Kelak kalian akan mengerti maksud dari cerita yang Ayah sampaikan ini. Kalau hari ini kalian dengarkan dengan baik-baik, esok saat kalian sudah tumbuh menjadi orang-orang yang taat dan hebat, kalian akan pahami maksudnya dan akan bertambah kehebatan kalian jika maksud cerita ini kalian amalkan," jawab sang Ayah sambil merangkul keempat anaknya beserta istrinya dengan lembut dan penuh cinta.

. . Tamat . .



Terima kasih untuk kisah yang pernah tersampaikan darimu..
Di tengah kegamangan waktu itu, akhirnya aku mengerti banyak hal,
dan belajar banyak hal..
Satu lagi sebuah karya tercipta dari seseorang yang merubah egoku..
Terima kasih.. Jazakalloohu khoiroh~
Balikpapan, 14 Januari 2014
00.37 wita

Senin, 13 Januari 2014

Temukan Aku #13

Bismillaah...

Fyuuuhh~ karena ke-eror-an yang nggak tau disebabkan oleh apa, akhirnya blog ini kembali berfungsi lagi. Alhamdulillaah.. :)

Berkali-kali wajah ini berubah mimiknya. Dari sumringah luar biasa, sampai kerutan berlapis-lapis yang kalau digambarin, asli.. gambarannya pasti laku keras di pasaran :D

Hai, apa kabar? Semoga hari-harimu lebih menyenangkan ya daripada aku. Aamiin.. jadi hobi natapin titik hijau di sudut laptop sebelah kanan, nih. Entah, tiba-tiba jadi flashback. Dulu kayaknya pernah ngerasain bengong cuma nungguin si titik hijau bereaksi. Dan muka terasa panas. Yap, aku tertampar! Mau ngulangin rasa sakit yang sama lagi, yan? Nggak, kan? Nah lo~ titik hijau itu ada lagi. Kuat... kuat... ayo!

Aku pernah berjanji untuk berhenti mengharap,
Letakkan sayap mimpi yang sempat mengarungi hari denganmu,
Kelak lelah ini akan terbayar,
Dengan deru mengguncang tanah takdir,
Dan bangkitkan lelapnya kebutaanmu terhadapku...

Hari ini.. aku bukan yang berarti,
Esok pun tak pasti pula posisinya,
Hentikan kepakan sayap yang mulai gagah itu..
Ah! Aku hampir tak bisa..

Yakinku telah tersalur lewat do'a-do'a-ku,
Apa tersampaikan ke relung hatimu?
Entah, lewat hujan, bisikan angin, teriknya jingga,
Atau lekukan tajam senyum yang mengudara di langit sana...
Sirat itu pasti tersampaikan..

Menepis rindu itu sulit. Tapi, percaya, deh. Lebih sulit lagi mengangkat raga ini dari posisi terpuruk yang terjatuh dari puncak kebahagiaanmu. Sakit. Hancur. Parah. Payah. Mau terulang? Sedang di luar sana telah banyak yang berhasil bangkit, menjadi lebih baik, dan terhindar dari godaan hati, apa iya aku masih harus begini-gini, aja? Stuck di satu sosok yang selama ini telah dijauhkan dan nggak tau posisinya ada di mana. Apakah dia masih di bumi yang sama, atau jangan-jangan sudah jadi alien kayak yang barusan di posting sama Bos Tere Liye? Semoga saja kalau jadi alien, dia nggak inget aku. Bisa berabe kalau dia muncul dalam keadaan hidung jadi 6, tangan bercabang, dan suara jadi agak-agak cempreng mendayu plus ada gema-gemanya. Lari tunggang-langgang, deh. Tapi, prinsip hidup bersama walau dengan nasi dan garam, masih kupegang. :')

Agak gimanaaaa gitu, yaaa~ But, it's ok.
Silahkan dibaca bagi yang butuh.  Kalau buat sekedar 'kepo', haduuu.. selamat! Anda mendapatkan hasil dari buruan ke-kepo-an Anda!

Nice regards,
Diani's
Balikpapan, 13 Januari 2014
23.03 wita
Dira akan bertemu lagi? Jangan ngimpi!

Minggu, 05 Januari 2014

Temukan Aku #12

Bismillaah...

Hari Senin besok, aku kudu nyerahin Bab 1 Tugas Akhir ke pembimbing. Dan aku, sampai detik ini masih belum nemuin ilham apapun. Hiks, duh... ini otak agak nggak mau diajak kerjasama nih kalau lagi mepet gini. Lagian, aku iya-iya aja pas ditanyain sama Ibu Dosen Pembimbing. Mau dianggap apa? Tantangan, kah? Iya, iya, bisa jadi... :'( Kata-katanya ini mau dimulai dari mana? Aduuuuhh... nggak boleh ngeluh! Ayo, dian... tetap semangat! Haik! *apasih yaan..*

Hoo iya! Awal bulan di awal tahun... kejutannya luar biasa :) Mulai dari judul yang langsung di acc, sampe magang yang dimuluskan jalannya... nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang dapat kamu dustakan, yan? Banyak-banyak alhamdulillaah, deh. Yuhuuu, bulan depan sudah magang. Hitung-hitung, nggak bisa santai-santai lagi (memangnya kamu pernah santai, yan?). Tugas Akhir dan magang yang semakin nyata di depan mata, ada khawatir plus dag dig dug. Semoga baik-baik aja, semoga lancar, semoga dipermudah, semoga berkah, semoga bermanfaat... Aamiin~

04 Januari 2014
14.45 wita

Ada angin yang berhembus perlahan...
Bersama lantunan Qur'an dan nada-nada mendayu...
Wajah-wajah teduh pengabdi Tuhan,
Perindu Surga,
Pengharap Ridho Illahi...

Di bawah teduhnya saung...
Terik binar mentari menyoroti kami
Para pencari kebenaran,
Bermuhasabah kembali...
Ditemani rintik sesaat yang lantunkan rindunya...

Mana pelangi?
Ah, andai ada di sini...~

``Gazebo Perpusda``

Masih sempet ajanih bocah corat-coret pas lagi liqo'. Namanya kebiasaan... ada yang menarik, langsung deh jadi tulisan. Walaupun cuma upil yang ngegantung *EH! Tapi, tapi... aku belum pernah bikin tulisan tentang upil, kok. Kapan-kapan deh boleh :D eheheh!

Hei, apa kabar?
Buseeeett... nulis udah panjang-panjang gini, baru nanyain kabarnya? Kemane aje, lo?
Nggak apa-apa, yang penting niatnya, kan? *kidip-kidip mata* *kelilipan*

Detik yang menjalar dan pergi, di penghujung sana sedang ada yang menanti. Entah, bagaiman paras rupanya. Yang kutahu, dialah yang disiapkan. Siapa dia? Kita lihat saja nanti. Wong aku aja belum tahu, kok :D
*piiiisss*

Balikpapan, 05 Januari 2014
07.02 wita
Aku masih di sini...
Kamu masih menganggapku, kah?
Menggelayut di taman impian...
Iya, namamu!
#yosh !