Kutuliskan lagi benang-benang rindu di tengah gemuruh guntur dan guyuran hujan menyentuh hati..
Apa kabar kau di sana?
Yang dulu sempat memerah-mudakan langit kelam itu?
Bagaimana hatimu di sana?
Apakah terbawa pergi dengan seiringnya hujan berlalu, atau tetap membekas seperti kumpulan rintik hujan yang tertampung penuh pada drum-drum kosong?
Pernah ada kisah membara,
Pernah ada tangis merelakan
Pernah ada tawa riang bercengkrama dengan malam,
Pernah ada sedih menemuimu di penghujung kisah...
Bagiku tak mengapa...
Toh, air yang mengalir mengikuti alirannya itu..
Ternyata tak kan seutuhnya sampai pada satu muara...
Kenapa bisa?
Karena aku temukan sebuah kenyataan..
Bahwa aliran itu harus dilawan,
Tak boleh searah, melainkan berlawanan arah...
Tak kan sampai air yang mengalir itu,
Bila tak temui persimpangan lain di tengah perjuangannya...
Dan di sini aku menemuinya..
Sebuah kenyataan..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya'
Tahu kah kau apa artinya itu?
Yang dulu tak lagi sama dengan yang sekarang...
Yang menggebu, kini berganti dengan detak yang lain..
Perih-letih, telah berganti dengan santun-penerimaan...
Kita terlahir bukan untuk mendahului takdir,
Melainkan mengikuti arah takdir memacu kencangnya langkah dan degup semangat ini..
Bila dulu indah, harusnya hari ini pun lebih indah..
Tanpa bayangan merah muda,
Tanpa jejak rasa 'kurang dari tiga'..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya',
Mengajarkanku untuk pertahankan kekuatan pada pangkal akarku..
Aku bukan dia,
Dan dia pun bukan aku...
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya',
Mengajarkanku tentang perjuangan memahat dengan tulus pada tiap batang-batang kering yang pasrah kuukirkan kisah baru...
Aku apa adanya begini,
Bukan dia yang menuding, lantas menjauhiku..
Sudah berapa banyak tulisan tercipta untuk sang senja yang terlalu jauh tergantung di ujung langit sana?
Banyak!
Apakah aku bosan?
Tidak!
Apakah aku lelah?
Tidak!
Jadi apa?
Aku hanya sadar..
Kata-kata 'Semua akan indah pada waktunya, layaknya air yang kan temukan muaranya' itu tak pernah ada di lembaran takdirku..
Sebab aku bukan air yang mengalir...
Aku hanyalah air yang terjatuh dari langit,
Yang setelah itu kan terbitkan warna-warni suasana hatiku,
Yang setelah itu harus berpisah dengan yang lain..
Hanya itu!
Dan aku tak butuh aliran..
Aku hanya akan terus jatuh..
Jatuh pada satu hati yang siap tertaut..
Bukan mengalir menemuinya..
Melainkan jatuh untuk ditangkap dan direngkuhnya dalam penantian tak terbatas...
Layaknya Rintik Hujan dan Tanah Basah...
Kita tak lagi sama..
Aku tak lagi berharap..
Kita terpisah..
Aku memilih pergi..
Kita adalah kita..
Aku dengan pilihanku..
Dan kau dengan pilihanmu..
Balikpapan, 20 Juli 2014
23.32 wita
satu bulan menjelang 21..
tak lagi sama..
'Air yang mengalir tak pernah sampai pada muaranya'
'DI'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar