Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Jumat, 31 Januari 2014

Temukan Aku #16

Bismillaah...

Apa kabar 1 Februari? Beberapa detik lagi, ya? Sudahkah ada yang meghabiskan waktu denganmu saat ini? Apakah aku masih dinanti? Ah, hari bahagiamu, mana mungkin aku lupa. Semoga berkah~
Mengharapkan diriku yang mengucapkan seperti dirimu yang dulu berbincang denganku berjam-jam saat tanggal 20 itu mulai mendekat? Rasanya ingin berbuat yang sama, tapi.. apa daya.. nyaliku langsung ciut. Berkali-kali alaram di Hp-ku kedip-kedip. Ada inisial yang terpampang di layarnya. Aih, berbulan-bulan yang lalu tanggal yang terblok ini sudah kutandai. Supaya apa? Ya supaya nggak ada yang terlewatkan..

Teruslah ukir kisah dimanapun kaki itu kau pijakkan..
Tak masalah bila akulah yang mulai terhapus..
Tapi, mungkin inilah awalnya..
Ingatanmu tengah diuji dengan bingkisan kecil dariku..
Barokalloh atas umurnya yang bertambah..
20 tahun, 20 tahun..
Selalu ada getaran di sana..
Kau merasakan, kah?

Tuh kaan~ gagal!
Aku menyerah, deh!
Hiks~
 :'(
DI.RA..
31 Januari 2014
23.47 wita
13 menit lagi~

Minggu, 26 Januari 2014

Pencari Kebenaran #1

Bismillaah...

Assalamu'alaykum :)

Berada di tengah orang-orang baru yang menawan dengan jilbab panjang dan cadarnya, MasyaAlloh... ingin rasanya menjadi seperti itu. Teduh memandang mereka yang secara utuh menutupi dirinya. Tenang rasanya ketika berbicara dengan mereka yang selalu sunggingkan senyum ramah dan bersahabat itu. Berbeda dengan mereka yang menatap lain, ah.. maaf.. tak bermaksud membanding-bandingkan, namun kenyataannya memang seperti itu. Aku hannya menilai secara objektif. Entah, kenapa aku mudah sekali diterima oleh mereka? Dan entah, kenapa Alloh lancarkan kaki ini untuk pergi ke sana dan dipersaudarakan lagi dengan mereka, orang-orang baru. Bermodalkan "Akan kucari Engkau di manapun Agamu dijunjung", aku beranikan diri untuk masuk di kawasan asing yang belum pernah kusentuh. Ringan rasanya diri ini menuju ke tempat itu. RIngan rasanya hati ini ketika harus melepas agenda-agenda lainnya demi menyambangi majelis ilmu itu. Dan setelah sampai di sana ratusan ribu syukur terpanjat lagi. Tak ada sesal, melainkan hidayah yang tengah diguyur deras ke dalam relung hati. Aku sadar, aku tertampar... Langkah ini masih belum berhenti untuk pijakkan jejaknya di seluruh majelis ilmu. Hanya untuk tentukan yang haq, yang untuk pastikan aku telah berada di Agama-Nya yang lurus, tak berkelok, dan menggiringku ke arah yang salah (Neraka).

Akan kulakukan sesuatu dari hal-hal yang kecil dan yang bisa kulakukan terlebih dahulu. Janji Alloh itu pasti. Apa yang harus kurisaukan lagi? Teruslah mencari, hingga Alloh tautkan hatiku pada satu titik keimanan yang padu. Walau dir semakin hari semakin baik, tapi kehausan akan kebenaran Agamaku tak akan biar diri ini berhenti di posisi ternyamanku. Aku akan menjelajah lagi. Lakukan 'blusukan' ke tempat-tempat yang Alloh tentukan. Hanya untuk menemukan-Mu, sempurnakan agama-Mu yang ada pada diriku, dan pastikan bahwa kelak aku akan bertemu dengan-Mu. Aku akan terus mencari. Ya, usaha serta do'a.. bukan untuk jodoh lagi, melainkan untuk cinta hakikiku... Allohu Robbi~

Sayapku siap kukepakkan,
Ukurannya telah mantap,
Siap menerjang langit,
Kuat menahan badai,
Mantap tentukan kekuatan kepakannya...

Sayapku telah sempurna,
Tuk temukan jalan kembali,
Setelah patah dan tersesat,
Aku kuatkan lagi posisinya,
Hingga kepakannya mampu membelah langit...

Dan sayapku sudah kukepakkan,
Menuju lajur kebaikkan,
Menemani senja mengukir kisahku,
Menempati tempat terbaikku,
Memulai lagi dengan sepasang sayap baruku...
Ya, sayap yang sempat patah,
Namun kini...
Telah tersambung sempurna...



Balikpapan, 26 Januari 2014
23.09 wita
Al-Hikmah...
temukan jalan kembali...
temukan keluarga baru...
temukan cahaya di kegelapan hati...

My (future) Family #1


Ketika putra nomor tigaku diambil Alloh kembali, beberapa bulan kemudian... Alloh berikan lagi penggantinya. Walau rasa kehilangan itu masih berasa, tapi Alloh tak pernah biarkan diri ini bersedih terlalu lama. Disegerakannya si penawar luka. Ya, putra bungsuku berada di dalam rahimku... tepat sebulan setelah kandanya pergi. Meninggalkan kami, menorehkan pilu yang mendalam...

. . . . .

"Ayah! Fajar, Yah!" teriakku panik.
Suamiku segera berlari ke kamar anakku, Fajar, menemuiku yang sudah memasang wajah panik dan ketakutan. Dia menyentuh lengan Fajar, memeriksa denyut nadinya, dan dipandanginya wajah pucat anak kami yang sekujur tubuhnya mulai dijalari hawa dingin.
"Innaalillahi... Fajar telah pergi, Bu..." katany lirih.
Aku diam. Tak bergerak dan terus memandangi jasad anakku. Tanpa isak tangis, aku mencoba melapangkan dadaku seluas-luasnya. Ya, aku tak menangisi kepergiannya. Karena aku tahu, segala yang hidup akan mati dan kembali menemui pencipta-Nya.
Fajar menderita kelainan jantung. Sifatnya yang periang, terkadang membuatku lupa bahwa dia tengah sakit. Dia tidak bisa banyak beraktivitas. Di usianya yang baru mengunjak 6 tahun, dia sama sekali tidak bisa duduk diam dan terus beraktivitas sesukanya, walaupun telah kuperingatkan berkali-kali. Anakku yang cerdas, begitu cepatnya Dia memanggilmu. Padahal, baru berberapa hari yang lalu kau diperbolehkan untuk pulang, menemani kami lagi. Tapi, hari ini... ah, Alloh tengah berencana lain.
Tiba-tiba sekelilingku berputar. Pandanganku menghitam. Dan aku merasakan diri ini ringan. Entah, apa yang terjadi setelah itu...

. . . . .

Aku mendapati sekelilingku penuh dengan orang-orang. Ketiga anakku tengah menagis tersedu di sampingku. Ah, aku teringatkan sesuatu. Salah satu anakku telah meninggal... dan orang-orang ini mungkin para tetangga yang datang melayat. Kupaksakan diri ini untuk tersenyum dan bangkit dari tempat tidurku. Namun, tubuhku kembali terjatuh. Dengan sigap, suamiku menahan badanku sebelum benar-benar terhempas. Ada dia... anakku masih ada 3 orang.. ada Alloh di balik semuanya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan sangat deras. Tanpa isakan menggugu, aku hanyut dalam pelukan hangat suamiku.
"Ibu... jangan menangis. Masih ada kami. Dinda janji, nggak bakalan bertengkar lagi dengan Kanda dan adik Senja," hibur Dinda yang kudapati wajahnya memerah. Air matanya masih bercucuran. Berkali-kali dihusapnya air mata itu sembari menatap dan terus menggenggam tanganku.
"Iya, sayang. Ibu nggak nangis lagi, kok. Janji! Dinda juga nggak boleh nangis lagi, ya. Sini, sayang..." aku memeluknya, diikuti lagi oleh kedua anakku. Dalam rangkulan hangat sang suami, kami larut dalam kebahagiaan yang bercampur mendung.
"Di, hadapi ini semua dengan tenang, ya. Maaf, aku nggak bisa ngelakuin apa-apa. Sekarang kita keluar dulu, yuk. Nemuin para tetangga dan ngurus pemakaman anak kita. Didi sudah agak mendingan, belum? Kalau belum, biar Ayah saja yang keluar," katanya denagn deretan kata panjang yang menandakan bahwa dia dalam keadaan bingung dan panik.
Anak-anakku mulai melonggarkan pelukannya dan menatap kami dengan wajah berlinangan air mata.
"Aku sudah nggak kenapa-kenapa kok, Bi. Ayok, kita keluar. Ikut Ibu sama Ayah yok, sayang," pintaku dengan tulus kepada anak-anakku.
Mereka mengangguk, lalu mengikuti langkah kami. Para tetangga yang sedari tadi sudah menyiapkan ini itu, menyalami kami. Ikut bersedih dan berbelasungkawa... Langit pun mendung, menemani perjalanan kami yang akan kami mulai tanpa sosok Fajar lagi.

. . . . .

Di pinggir danau yang menjadi tempat favorit kami untuk berlibur, kami menikmati udara sejuk dan sosok baru di tengah-tengah kami. Ya, si bungsu Yusuf, terlahir dengan gagah dan sempurna. Dialah sang penghapus sedih yang dihadiahkan oleh-Nya untuk kami semua. Dan inilah buah dari kesabaran kami. Ah, satu tahun yang lalu... kami semua berusaha tegar, walau saat sholat di sepertiga malam, masih kudapati mata ini menjatuhkan bulir-bulir sucinya, mengenang dan merindukan Fajar. Juga suamiku yang menangis dalam diamnya saat memandangi foto Fajar yang sedang menggenggam jemari sembari tertawa lebar. Ah, kami sudah lalui itu. Saat ini, usia Yusuf sudah 13 bulan. Kami berbahagia atas kehadirannya... namun, cinta kami pada Fajar akan tetap mengalir, begitu pula dengan Yusuf.

. . Tamat . .

Temukan Aku #15

Bismillaah...

Tak henti-hentinya diri ini  mensyukuri atas perjalanan terhebat yang selalu dilalui saat ke sana. Lagi-lagi, rintik hujan menemani di kala kekhawatiran menghantui. Ah, hujan yang memiskan tiap percikannya di wajah. Sendu... pilihan untuk berbasah-basahan harus dihentikan di tengah kondisi badan yang payah dan hidung yang srat-srot mulu. Tapi, syukuri... aku bahagia~

Kampus belantara...
Masih ingat dulu aku pernah posting ini?
"Suatu hari nanti, aku harus melantunkan Ar-Rohmaan di sudut ruang musholla".
And see? Hari ini Alloh lengkapkan lagi inginku. Diberikannya kesempatan untuk terus mensyukuri tiap tetes nikmat yang terpancarkan untukku. Benar-benar berpuluh-puluh ribu barel syukur untuk hari ini :)

Rindu temukan muaranya lagi.. Ya, aku sudah sangat biasa mengendalikan semuanya. Bertemu pun tak lagi timbulkan resah. Cukup mengingat-Nya, hati ini kembali tenang.

Rintik Hujan...
Almamater basah...
Al-Qur'an Pink...
Musholla...
Kampus Belantara...
Isak tangis...
Kisah katak tuli... ah, suara dan cerita yang serupa langsung muncul di kepalaku, tersetel lagi saat Kak Anto menyebutkan kisah itu. Ya, suaramu...
Rindu...

Ah, pemandangannya keren... rasanya ingin berlama-lama di sana. Terus syukuri atas apa yang tertinggal. Mungkin ada yang tertinggal di sana. Hm, rasa haru dan rindu. Tamparan keras membonyokkan hati. Ada luka saat mata ini mengeluarkan titik-titik harunya. Aih, acaranya mantap! Bangga rasanya bisa jadi bagian dari mereka.

Do'a naik ke langit...
Entah, malaikat mungkin tengah mengaamiinkan...
Demi seulas senyum tipis tersungging di wajahnya...
Demi sebuah luapan hati yang masih menggantung...
Ah, tak apa!
Ini awal untuk sosok terhebatku nanti...
Mungkin dia, mungkin juga yang lain...
Siapa yang tahu?


Balikpapan, 26 Januari 2014
00.37 wita
Ada kita lagi di sana,
di sudut ruang penuh do'a,
dan di tengah ruang bertatap senyum samar...

~DI.RA~

Sabtu, 18 Januari 2014

Temukan Aku #14

Bismillaah...

Butiran halus,
Jatuh dari langit,
Alloh jatuhkan nikmat lagi,
Bertemu denganNya,
dengan perantara langit,
sesuatu yang lembut menyentuh tanah terhampar...
Halus, layaknya salju,
Ya, salju di siang bolong,
Bersama Rahmat,
Petunjuk, juga hidayahNya...

Satu lagi, Alloh berikan ketenangan di tengah ombak besar yang terus menghempas hati dan mengombang-ambingkan nahkodanya. Ah, seperti titik-titik hidayah yang dipancari cahaya Illahi...
Rintik yang diberkahi serpihan pancaran mentari..~

Liqo' ditemani bulir-bulir terhalusNya..
Lagi-lagi petunjuk diturunkan secara langsung dari langit..
Menghapus gundah, resah, dan keraguan..
Alloh temani lagi perjalanan terberat ini..
Ah, air yang menawan.. Hujan~

Gazebo... 6 gamis.. 6 syar'i..


Apa kabar? Semoga Alloh limpahkan rahmat dan hidayahNya. Jika hari ini banyak kegagalan yang ditemui, tak apa. Itulah ujian sekaligus bonus untukmu. Tak perlu menyesal. Cukup syukuri, resapi apa yang salah, dan lakukan hal yang lebih baik dari hari ini di keesokan harinya. Karena kawan, hari ini akan segera menjadi masa lalumu. Sambutlah hari esok dengan banyak kemanfaatan dan terisi dengan ilmu yang bermanfaat. Hilangkan 'kesia-siaan' terus mewarnai harimu. Lakukan perubahan! Walau berat dan tertatih, percayalah... keajaiban itu pasti. Sebab, Alloh selalu pancarkan nikmatNya yang terkadang tak kau anggap sebagai pertolongan maupun nikmat yang teramat nikmat. Kau hanya menganggap segalanya itu sebagai 'keajaiban'. Tapi, ingat! Tak ada yang namanya keajaiban. Semua telah diatur. Dan sebaik-baiknya pengatur segala sesuatu adalah Alloh Subhanahu Wa Ta'alaa~

Balikpapan, 18 Januari 2014
22.26 wita

Selasa, 14 Januari 2014

My (future) Family :)

Ayah, Ibu, dan keempat anaknya...

"Sini nak, Ayah mau menceritakan tentang perjuangan air melawan takdir."
Keempat anaknya meringsuk mendekati Ayahnya dengan wajah berseri-seri. Si bungsu menggelayuti Ibunya, memohon agar ikut bergabung bersama mereka. Mereka pun berhasil mengerumuni Ayahnya yang sedari tadi menanti mereka dengan wajah sumringah yang tak pernah padam.
"Ayo Ayah, mulai saja ceritanya," rengek si Sulung dengan wajah penuh penasaran.
"Tunggu Ayah, Dinda belum pakai jilbab, nih," dengan setengah berlari, si Putri Nomer Dua kembali masuk ke dalam rumah, mengenakan jilbab, dan mendekati Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya yang telah berkumpul di teras rumah.
"Haha, iya Ayah tungguin kok, Dinda. Kanda yang sabar, ya. Tunggu Dinda dulu," ucap sang Ayah sembari mengelus lembut kepala si Sulung.
"Ayo, Ayah. Dinda sudah siap!"
Sang Ibu pun ikut duduk di sebelah sang Ayah sambil memangku si Bungsu.
"Nah, karena sudah lengkap semua, Ayah mulai ceritanya. Begini..."
Keempat anaknya memerhatikan Sang Ayah dengan wajah penuh keseriusan. Mereka selalu begitu ketika sang Ayah hendak menceritakan sebuah kisah kepada mereka. Tak akan melewatkan satu kata pun yang disampaikan.
"Ehem! Di sebuah taman yang dipenuhi tumbuhan-tumbuhan rindang nan menawan, terdapat empat buan pancuran sedang yang mengelilingi sebuah pancuran yang saaaaaangat besar. Dari masing-masing pancuran ini, mereka akan hasilkan pancaran air yang berbeda-beda panjangnya serta tempat mereka menjatuhkan airnya."
"Kenapa bisa beda-beda, Yah?" tanya si Putra Nomer Tiga.
"Karena setiap pancuran memiliki tugasnya masing-masing," jelas sang Ayah.
"Hah? Tugas apaan, Yah? Bukannya mereka dibuat dengan bentuk dan ukuran yang sama?" protes si Sulung.
"Haha, benar, sayang. Tapi, bukankan lebih indah jika yang bentuknya serupa itu diberi tugas yang berbeda-beda agar saling melengkapi?" jawabnya.
Si Sulung mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda setuju dengan jawaban sang Ayah.
"Ayah lanjutkan, ya. Si pancuran yang besar itu, tidak setiap saat dinyalakan. Tapi, sekali dinyalakan, pancaran airnya akan mencuat ke atas, banyak sekali jumlah airnya, dan setiap mata yang memandangnya pasti akan bahagia dan mendatanginya. Berbeda dengan keempat pancuran sedang yang mengelilinginya. Mereka sering dinyalakan, walaupun si pancuran besar dalam keadaan mati. Jumlah airnya tak terlalu banyak, tapi banyak orang-orang yang duduk di dekatnya untuk merasakan percikan air yang dihasilkannya. Dan air yang mereka keluarkan pun ikut berbahagia. Bayangkan nak, setiap air yang keluar dari tiap-tiap pancuran itu, mereka di terbangkan ke udara, mencuat ke atas, lalu dijatuhkan ke bawah. Entah mengenai lantai taman, wajah seseorang yang sedang tertawa sumringah, atau mengenai sang pancuran itu sendiri. Air-air itu tak pernah mengeluh. Selalu berbahagia."
"Jadi, apa hubungannya Yah, tugas masing-masing pancuran sama air itu?" tanya si Sulung lagi. Si Putri Nomer Dua terlihat menyikut kakaknya dengan wajah gemas karena si kakak memotong cerita Ayahnya.
Sang Ayah tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya, "Jadi, hubungan antara tugas tiap pancuran yang berbeda dan air-air itu adalah... tiap pancuran punya ukuran dan jumlah air yang dihasilkan dalam jumlah yang berbeda-beda. Dan setiap air yang dihasilkan pancuran itu, si pancuran mempunyai tugas untuk membidik siapa saja yang terkena airnya agar merasa bahagia. Tak peduli itu manusia, hewan, atau tumbuhan. Begitu pun dengan air, karena dia diamanahi oleh pancuran untuk membahagiakan siapa saja yang dikenainya, maka air tak boleh mengeluh, apalagi milih-milih untuk dijatuhkan dimana. Dia harus ikhlas, karena dimanapun ia dijatuhkan, siapa yang sangka, airnya itu bisa menimbulkan senyuman sumringah di wajah seseorang?"
Ayah meneguk segelas air dan melanjutkan lagi," Takdir air yang dijatuhkan terus-menerus tanpa merasakan sakit, harus dilawannya dengan keinginannya yang menggebu untuk memilih dijatuhkan di tempat yang ia inginkan. Tapi, lagi-lagi air mengalah. Takdir sudah dipilihkan. Buat apa dia melawan? Jadilah air selalu mengikuti kemana pun arah pancuran itu mengarahkan jatuhnya. Selalu begitu setiap hari. Ceritanya sampai di sini dulu ya, Sayang. Mau maghrib. Kita harus siap-siap sholat berjama'ah."
"Yaaaaahh... kita kan mau dengerin ceritanya sampai selesai, Yah," gerutu Si Sulung dan Si Bungsu serempak.
"Haha, kelanjutannya akan kalian dapatkan setelah kalian dewasa nanti ya, anak-anakku. Kelak kalian akan mengerti maksud dari cerita yang Ayah sampaikan ini. Kalau hari ini kalian dengarkan dengan baik-baik, esok saat kalian sudah tumbuh menjadi orang-orang yang taat dan hebat, kalian akan pahami maksudnya dan akan bertambah kehebatan kalian jika maksud cerita ini kalian amalkan," jawab sang Ayah sambil merangkul keempat anaknya beserta istrinya dengan lembut dan penuh cinta.

. . Tamat . .



Terima kasih untuk kisah yang pernah tersampaikan darimu..
Di tengah kegamangan waktu itu, akhirnya aku mengerti banyak hal,
dan belajar banyak hal..
Satu lagi sebuah karya tercipta dari seseorang yang merubah egoku..
Terima kasih.. Jazakalloohu khoiroh~
Balikpapan, 14 Januari 2014
00.37 wita

Senin, 13 Januari 2014

Temukan Aku #13

Bismillaah...

Fyuuuhh~ karena ke-eror-an yang nggak tau disebabkan oleh apa, akhirnya blog ini kembali berfungsi lagi. Alhamdulillaah.. :)

Berkali-kali wajah ini berubah mimiknya. Dari sumringah luar biasa, sampai kerutan berlapis-lapis yang kalau digambarin, asli.. gambarannya pasti laku keras di pasaran :D

Hai, apa kabar? Semoga hari-harimu lebih menyenangkan ya daripada aku. Aamiin.. jadi hobi natapin titik hijau di sudut laptop sebelah kanan, nih. Entah, tiba-tiba jadi flashback. Dulu kayaknya pernah ngerasain bengong cuma nungguin si titik hijau bereaksi. Dan muka terasa panas. Yap, aku tertampar! Mau ngulangin rasa sakit yang sama lagi, yan? Nggak, kan? Nah lo~ titik hijau itu ada lagi. Kuat... kuat... ayo!

Aku pernah berjanji untuk berhenti mengharap,
Letakkan sayap mimpi yang sempat mengarungi hari denganmu,
Kelak lelah ini akan terbayar,
Dengan deru mengguncang tanah takdir,
Dan bangkitkan lelapnya kebutaanmu terhadapku...

Hari ini.. aku bukan yang berarti,
Esok pun tak pasti pula posisinya,
Hentikan kepakan sayap yang mulai gagah itu..
Ah! Aku hampir tak bisa..

Yakinku telah tersalur lewat do'a-do'a-ku,
Apa tersampaikan ke relung hatimu?
Entah, lewat hujan, bisikan angin, teriknya jingga,
Atau lekukan tajam senyum yang mengudara di langit sana...
Sirat itu pasti tersampaikan..

Menepis rindu itu sulit. Tapi, percaya, deh. Lebih sulit lagi mengangkat raga ini dari posisi terpuruk yang terjatuh dari puncak kebahagiaanmu. Sakit. Hancur. Parah. Payah. Mau terulang? Sedang di luar sana telah banyak yang berhasil bangkit, menjadi lebih baik, dan terhindar dari godaan hati, apa iya aku masih harus begini-gini, aja? Stuck di satu sosok yang selama ini telah dijauhkan dan nggak tau posisinya ada di mana. Apakah dia masih di bumi yang sama, atau jangan-jangan sudah jadi alien kayak yang barusan di posting sama Bos Tere Liye? Semoga saja kalau jadi alien, dia nggak inget aku. Bisa berabe kalau dia muncul dalam keadaan hidung jadi 6, tangan bercabang, dan suara jadi agak-agak cempreng mendayu plus ada gema-gemanya. Lari tunggang-langgang, deh. Tapi, prinsip hidup bersama walau dengan nasi dan garam, masih kupegang. :')

Agak gimanaaaa gitu, yaaa~ But, it's ok.
Silahkan dibaca bagi yang butuh.  Kalau buat sekedar 'kepo', haduuu.. selamat! Anda mendapatkan hasil dari buruan ke-kepo-an Anda!

Nice regards,
Diani's
Balikpapan, 13 Januari 2014
23.03 wita
Dira akan bertemu lagi? Jangan ngimpi!

Minggu, 05 Januari 2014

Temukan Aku #12

Bismillaah...

Hari Senin besok, aku kudu nyerahin Bab 1 Tugas Akhir ke pembimbing. Dan aku, sampai detik ini masih belum nemuin ilham apapun. Hiks, duh... ini otak agak nggak mau diajak kerjasama nih kalau lagi mepet gini. Lagian, aku iya-iya aja pas ditanyain sama Ibu Dosen Pembimbing. Mau dianggap apa? Tantangan, kah? Iya, iya, bisa jadi... :'( Kata-katanya ini mau dimulai dari mana? Aduuuuhh... nggak boleh ngeluh! Ayo, dian... tetap semangat! Haik! *apasih yaan..*

Hoo iya! Awal bulan di awal tahun... kejutannya luar biasa :) Mulai dari judul yang langsung di acc, sampe magang yang dimuluskan jalannya... nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang dapat kamu dustakan, yan? Banyak-banyak alhamdulillaah, deh. Yuhuuu, bulan depan sudah magang. Hitung-hitung, nggak bisa santai-santai lagi (memangnya kamu pernah santai, yan?). Tugas Akhir dan magang yang semakin nyata di depan mata, ada khawatir plus dag dig dug. Semoga baik-baik aja, semoga lancar, semoga dipermudah, semoga berkah, semoga bermanfaat... Aamiin~

04 Januari 2014
14.45 wita

Ada angin yang berhembus perlahan...
Bersama lantunan Qur'an dan nada-nada mendayu...
Wajah-wajah teduh pengabdi Tuhan,
Perindu Surga,
Pengharap Ridho Illahi...

Di bawah teduhnya saung...
Terik binar mentari menyoroti kami
Para pencari kebenaran,
Bermuhasabah kembali...
Ditemani rintik sesaat yang lantunkan rindunya...

Mana pelangi?
Ah, andai ada di sini...~

``Gazebo Perpusda``

Masih sempet ajanih bocah corat-coret pas lagi liqo'. Namanya kebiasaan... ada yang menarik, langsung deh jadi tulisan. Walaupun cuma upil yang ngegantung *EH! Tapi, tapi... aku belum pernah bikin tulisan tentang upil, kok. Kapan-kapan deh boleh :D eheheh!

Hei, apa kabar?
Buseeeett... nulis udah panjang-panjang gini, baru nanyain kabarnya? Kemane aje, lo?
Nggak apa-apa, yang penting niatnya, kan? *kidip-kidip mata* *kelilipan*

Detik yang menjalar dan pergi, di penghujung sana sedang ada yang menanti. Entah, bagaiman paras rupanya. Yang kutahu, dialah yang disiapkan. Siapa dia? Kita lihat saja nanti. Wong aku aja belum tahu, kok :D
*piiiisss*

Balikpapan, 05 Januari 2014
07.02 wita
Aku masih di sini...
Kamu masih menganggapku, kah?
Menggelayut di taman impian...
Iya, namamu!
#yosh !