Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Kamis, 28 November 2013

Temukan Aku #8

Untuk kita, yang terlalu malu-malu walau sekedar menyapanya,
Terlanjur bersemu merah,
Dada berdegup kencang,
Keringat dingin di jemari,
Bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian,
Memendam perasaan lewat puisi-puisi,
Dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.

(Tere Liye - Berjuta Rasa)

Bismillaah...
Tentang seorang penulis amatiran yang sampai sekarang terus menggantungkan harap dan mimpinya. Juga tentang hati yang dulu tersapa manis dan kini dirinya lebih memilih untuk meninggalkan dan berpaling dari cintanya. Soal hati yang selalu teriris, dia tutupi dengan senyuman, walau panas tengah membakar kelembutannya. Terbiasakah dia untuk itu? Yap, bisa dibilang begitu... Tak ada kata untuk selalu hidup bahagia dengan cinta yang dia hadirkan. Tekad yang bulat untuk sekedar menjaganya pun, tak ayal menjadikan itu sebagai senjata pembunuh balik bagi dirinya.

Yaaa... dia bisa apa? Terus menatapi kebahagiaan yang lain, walau sisi lain dalam hatinya merasakan perih. Dia bagaikan bunga yang memesona, hadir sebagai sosok wanita yang baru di sebagian hidup mereka. Tak jarang banyak mata tertarik, bahkan rela melabuhkan hati kepadanya. Dikatakan perebut, perusak kebahagiaan, tak tahu diri, dan apakah itu membuatnya semakin terjatuh? Ya, untuk saat itu dia terjatuh. Tapi, untuk apa terus-terusan memikirkan kata mereka? Dia bangkit! Dengan senyum yang mengalahkan sinar matahari, dia kembali membenahi cinta dan hidupnya. Satu hal yang membuatnya tersadar, "Bukan akulah yang datang menghampiri hati mereka, tapi merekalah yang menawarkan hati. Apakah aku salah? Tidak! Merekalah yang bodoh! Melepaskanku untuk yang lain... Mereka bukan orang baik. Tak pantas untuk aku sesali. Aku yang berhak tentukan hidupku. Namun, merekalah yang tak pantas untuk mendekat!"

Sudah berapa banyak tokoh yang dia buat berdasarkan banyaknya hati yang singgah? Berapa banyak tulisan-tulisan yang tak pernah terbaca oleh sang pujaan hati? Berapa kali rasa yang terpendam tak pernah tersampaikan, bahkan tak dapat diraihnya? Juga bagaimana bentuk hatinya ketika ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa dia tak berhak bahagia dengan yang sekarang? Sudah... dia telah lama bangkit. Walau kini dihadapkan kembali pada kesedihan dan luka yang sama. Tak apa, dia akan terus melangkah.

Lupakan rasa sakit itu! Tinggalkan rasa yang pernah tergantung untuk sekedar menunggu kepastian! Ah, hanya ditinggalkan, tapi tak mungkin dapat dilupakan apalagi dibuang. Biarlah mereka terus membenciku. Mereka bisa apa? Akulah yang paling tahu keadaanku. Kenapa? Apakah aku terlalu sinis dan berlebih? Biar~


...Kemelut Hati...
Biarkan terus mencari~
28 November 2013
12.22 wita
Dira~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar