Ada rasa ngilu... Padahal rasa itu sudah tertepis jauh. Tapi, ketika posisi itu tergantikan, apakah akan diterima dengan baik oleh hati ini? Mengapa rasanya masih sama? Sakit. Sudah, mau diteruskan lagi, semuanya sama. Tak ada hasil. Yang ada hanya perih. Mau bertahan sampai kapan? Sedang aku tengah berada dalam perlombaan dalam memperebutkan hatinya. Buat apa ikut serta? Walau do'a tak pernah putus, tapi apa hakku untuk meminta sesuatu yang belum tentu akan ada di masa depanku? Kalian tampak serasi, sungguh. Entah, kata-kata apalagi yang pantas untuk menggambarkan siluet kalian. Harusnya aku pergi! Ah, mau kemana? Entahlah... kaki ini pun enggan untuk beranjak. Jemari ini pun mulai lelah menuliskan hal-hal perih tentangmu. Sebenarnya ada suka, tapi... ah!
Aku terkalahkan lagi. Sama seperti waktu itu. Ada yang tertawa di tengah hatiku yang mendung dan teriris cacah. Senyuman khas para pemenang. Dan aku, selalu menikmati itu. Selalu menerima itu dengan kelapangan dada yang luar biasa. Air mata yang selalu tertahan, isak yang terdengar dalam hati, dan rintihan yang tak bertuan. Aku paham betul posisiku saat ini. Tersudut dan disalahkan! Dan aku, tak berhak berbahagia atas semuanya. Kebahagiaan ini hanya semu. Dalam hitungan detik akan hilang. Maaf~
Tak terlalu banyak tulisan yang bisa menggambarkan dirimu. Tak terlalu banyak pula orang-orang yang paham, bagaimana rasanya menjadi diri ini. Yang mereka tahu, ah, apa peduliku? Kenapa juga aku harus peduli posisiku saat ini? Mau kalah atau menang, itu tak menentukan siapa yang akan mengisi kekosongan ini.
Berhentilah memberikan harapan itu padaku. Aku mungkin lebih suka menganggapmu biasa saat ini. Walaupun semuanya sudah terlanjur. Jika dia lebih memilih menceritakan hal-hal ini pada yang lain, sungguh... aku lebih memilih Tuhanku sebagai tempat curahan segalanya dan kamu sebagai pengurang beban-beban ini. Aku sudah terbiasa denganmu. Aku memandangmu berbeda. Dan aku lakukan hal yang berbeda pula terhadapmu.
Diary Hujan...
Rintiknya belum kembali~
DI.RA\\
22 November 2013
17.14 wita
Tentang mimpi yang tergantung, lalu perlahan menyapa dengan senyum nyata. Satu per satu jadi nyata. Inilah perjalananku, sebagai ibu dan segala macam mimpi yang terus ingin digapai. Babak baru—Ibuk Dian.
Entri Populer
-
aku tau semua akan seperti ini ketika dua hati terpisahkan masa tapi itu aka terjadi bukan sekarang susahkah menunda takdir ? jika ada...
-
Bismillah... Hari ini aku alami fase yang luar biasa. Awal pertemuan denganmu setahun yang lalu. Awalnya aku loh terpaksa banget. Nggak ta...
-
Bismillaah.. Perlahan menghilang, Kelam awan bertabur kabut, Menelungkupi tiap rindu menggantung, Kilat syahdu memecah lentera hati, B...
-
Sumber gambar: "Google" Ciyeeeeee... gimana ya, rasanya menikah? Saling adu jotos tapi pakai gaya yang klasik dan romantis....
-
Bismillaah... "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar k...
-
Bismillaah... Kelak hari itu akan datang. Hari kebangkitan yang dinantikan oleh sebagian orang. Mereka yang tau dan sadar akan kebesaran-...
-
Bismillaah.... Kutuliskan lagi benang-benang rindu di tengah gemuruh guntur dan guyuran hujan menyentuh hati.. Apa kabar kau di sana? Ya...
-
Bismillaahirrohmaanirrohiim.. Aku kembali.. dalam bingkai dakwah. Memulai hal yang terhenti. Perjuangkan dia yang terlupakan. Meluruska...
-
Satu lagi kupersembahkan untukmu.. Aku tak berharap kamu mengerti, tapi aku harap kamu merasakan dengan lembut rasa yang mengalir... ...
-
(Sourced: google) Langkahku terhenti di sini, Terdiam.. Sesekali kupandangi sekelilingku.. Adakah sosok yang kukenal? Kuh...
~WELCOME~
hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar