Entri Populer

~WELCOME~

hari ini dimulai dengan doa dan SENYUMan :)
karena SENYUM membuka kesempatan yang terkadang enggan terbuka
dian~

Minggu, 08 September 2024

Menjadi Ibumu #1

Pengalaman Menyusui
Kelak akan menjadi inspirasi
Bagi siapa saja yang akan menjadi ibu
Karena ibu itu butuh kekuatan, bukan paksaan dan tuntutan...



19 Juni 2018...
Ada tangan mungil yang kusentuh, antara percaya dan tidak. Kutatap wajah sendumu meminta hak. Berusaha menahan perih di area bawah perut, menyusuimu sebisaku.

Hari itu hari pertamamu lahir. Kamu dinyatakan kurang sehat karena terlalu lama di dalam perut ibu dengan kondisi air ketuban negatif. Katanya kamu menelan air ketuban yang lumayan jumlahnya. Mau tak mau, aku mengangguk ketika Abimu menyetujui kamu dibawa ke ruangan khusus bayi, dipisahkan dariku yang baru beberapa jam memelukmu.

Aku sedih? Iya, jelas. Tapi, aku bisa apa? Semoga besok aku kuat. Mampu menatapmu dan menyusui kembali.

*-*-*-*-*-*-*-*-*

Ini kisahku menjadi seorang ibu. Dimana ada rasa cemas ketika mencoba untuk menyusui bayi mungilku. Takut ASI kurang, takut anakku kuning, takut BBnya nggak naik. Kecemasan yang klise. Tapi, mampu membuat kepala pecah. Stres bukan main. Baby blues? Hampir kali, ya. Alhamdulillaah, semua bisa dilewati. Yuhuuu...

*-*-*-*-*-*-*-*-*

20 Juni 2018
Tak kuasa kumenahan letih dan sedih. Aku memaksa, tapi hanya setetes saja yang ada. Patah hati, putus asa.

Malam itu, perawat ruangan adek datang ke kamar. Minta ASI untuk adek. Aku belum kuat jalan, efek jahitan yang lumayan dan kepala sempoyongan (Hb-ku rendah banget pasca melahirkan, sampai trasfusi 2 kantong darah). Aku coba untuk memompa ASI. Hasilnya? Nihil. Suami langsung panik, bergegas ke toko bayi beli perlengkapan untuk namping ASI. Pinjam pompa elektrik. Saat sampai, aku coba, hasilnya? Cuma sebercak saja yang keluar dari puting. Sisanya, periiih banget, aku nggak kuat pakai pompa asi. Coba lagi alternatif lain, sama sekali nggak ada setetes pun ASI yang keluar? Gimana, nih? Adek butuh ASI, tapi aku nggak menghasilkan ASI. Akhirnya suami pasrah, nenangin aku, lalu dia ke ruang bayi, memberi info ke perawat kalau aku belum bisa mengeluarkan ASI.

Jam 10 malam, aku menguatkan diri untuk jalan ke ruang bayi. Nyeri-nyeri sedap, tapi pasti bisa. Sampai di sana, adek lagi nangis, minta ASI. Aku coba menyusui, dipandu bidan yang telaten. Aku nyaman dengan keadaan adek di pelukanku. Semoga ASI-ku keluar. Semoga adek kenyang. Semoga nggak ada apa-apa setelah ini. Perasaan saat nyusuin ini nggak bisa diutarakan. Bahagiaaa banget. Nggak nyangka ya jadi ibu. Sempurna.

Malam itu kututup dengan perasaan lega dan bahagia. Aku ibu yang beruntung. Masih diberi kesempatan untuk menyusui. Menimang dan menikmati wajah cantiknya. Saranghae...

*-*-*-*-*-*-*-*-*

Aduh, mellow banget ya pembukaannya. Terus, kelanjutannya gimana? Yaps, hari berikutnya adek harus disinar, tambah patah hati mamak. ASI dioptimalkan untuk dipompa tetap nggak keluar. Aku cuma bisa nangis dan merasa nggak bisa jadi ibu yang sempurna. Sampai akhirnya, memutuskan untuk curhat ke teman.

Aku disarankan oleh perawat untuk cari donor ASI atau opsi terburuknya ya ke sufor. Susah payah mencari pendonor. Drama yang berkelanjutan banget. Ditambah syarat dan banyak hal yang harus diperhatikan untuk menetapkan ibu sepersusuan untuk adek.

Bisa dibilang ibu sepersusuan anakku adalah sahabat dekat di jaman kuliah. Qodarullôh dia ada di rumah sakit dan dengan sedikit memelas plus paksaan, dia jadi pendonor. Hehehe, bakat premannya keluar. Tapi tenang pemirsa, kami sudah sepakat tentan konsekuensi serta hal-hal lain yang dipertimbangkan tentang masalah ini. Alhamdulillaah, satu masalah selesai. Aku pikir gitu. Nyatanya? Nggak, guys.

Tiap 3-4 jam harus setoran ASI. Nah, ini nih yang nggak kami perhitungkan. Kelabakan? Iya bangeeeet. Harus nge-lobby temanku lagi untuk sediain ASI. Beruntung banget beliau bersedia, tapi dengan catatan, aku juga tetap berusaha untuk menghasilkan ASI. Di situ, aku patah semangat. Nggak yakin sama diri sendiri. Hampir gila? Mungkin. Titik terendah dalam hidupku.

Hari itu, aku yang kepayahan, menyaksikan juga kegigihan suamiku untuk bangun per 2 jam menjemput & mengantarkan ASI ke RS. Rasa cinta dan kasih begitu saja menyeruak untuknya. 🥺

Anakku sayang yang harus dirawat terpisah, aku banyak menangis..

Bunga Matahariku #1

Memang semua orang tua punya caranya sendiri, termasuk ibuku. Ketika Ia kirimkan aku ke dalam rahimnya, aku yakin banyak pengharapan yang baik. Lalu, aku lahir ke dunia—namun banyak goreskan luka di hatinya. Banyak kulihat dia menangis karena kecewa atau hal-hal tak berjalan sesuai inginnya. Tapi.. sekarang aku sudah sebesar ini. 31 tahun usiaku, anak-anak kecil yang lucu ada 3, aku melewatinya tanpa sosokmu. — 


Hari-hari terlewati, hingga bulan berlalu, tahun berganti. Aku sekuat itu? Tidak. Aku banyak mengeluh, menyerah, memaki diri, bahkan.. aku lupa menyaksikan banyak hal untuk bersyukur. 

Awalnya, aku banyak menyalahkanmu, tapi seiring waktu, aku berterima kasih padamu yang ajarkan banyak hal dan sampai detik ini aku ingat dengan baik. Aku rindu.. tapi tak bisa berjumpa. Tinggal di rumah yang biasa ada suaramu itu.. ternyata begitu berat. Kenangannya selalu lewat, sesaknya kehilanganmu juga begitu.

Tapi tak apa.. aku memang dihadirkan di dunia untuk selalu menjadi kuat. Di segala kondisi, aku bisa lewati semua. Oiya, kadang dan mungkin sering sekali, aku selalu minta apapun ke Alloh, lucunya.. Alloh kabulkan semua. Kadang aku lupa pernah minta, sampai selang 13 tahun berlalu, do’a itu terkabul. 

Yang hidup tetap lanjutkan hidup, walau dengan duka dan kesedihan yang terus tersimpan, aku yakin.. kelak rasa ini akan terus ada walau tak tumbuh. Bagaimana menyakitkannya kehilangan sosok yang selalu ada di setiap kondisiku. Terima kasih.. rasa sakit, sayang, cinta, marah, dan ketulusanmu, semoga Alloh berikan balasan Surga. 


—Bunga Matahariku, Ibu.

Selasa, 20 Agustus 2024

Menemukanku #1




 Hai!

Setelah lamanya rehat, aku kembali. Sosokku baru, semangat, juga impianku semuanya pun baru. Inilah aku.

Berbeda.

Selamat datang.

Di duniaku sebagai ibu anak 3, ibu penggerak, pegiat literasi, pecinta buku, dan pedagang emas. ❤️

Jumat, 19 Agustus 2016

Temukan Aku #24

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Aku kembali.. dalam bingkai dakwah.
Memulai hal yang terhenti.
Perjuangkan dia yang terlupakan.
Meluruskan kaki sejenak..
Siapa yang tahu,
Kelak ia akan digunakan dalam perjalanan jauh.
Menilik kerikil berduri..
Mengikis lubang berapi di sudut jalan..
Yang terkadang bergeming,
Yang terkadang bergidik.

Aku kembali..
Pada dakwah yang memberi janji..
Ada mulia didapati..
Dalam tiap inci yang kutapaki.
Aku berpulang karna cinta.
Walau sepertiga malam makin gelap di mata.
Tapi aku terlanjur di jalan pulang.
Meminta cahaya..
Meminta air siraman ke jiwa..

Rabb.. ini aku..
Hambamu..


Balikpapan, 19 Agustus 2016
22.29 wita
Kembalinya Jiwa Anshor..

Sabtu, 15 November 2014

Hijrah #2

Dan sayang, langkahku masih di sini. Di bumi nan luas yang tawarkan gemerlap tawa semu. Aku masih di sini, Sayang. Menunggu pagi dengan tangan menengadah dan tangis yang memecah langit. Aku masih di sini. Dengan semangatku yang terkadang naik-turun. Masih menunggu.. menunggu Dia tepati janji-Nya. Ya, aku masih di sini, Sayang. Setia bersamamu, arungi mimpi-mimpi baru kita. Ya, aku masih setia--hijrah..


~***



"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan darang kepada (Alloh) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba." T. Q. S. Maryam 19: 93

Di kala tak ada lagi tempat untuk mengadu, seketika semua menjauh, tak ada kawan yang menghibur, seolah-olah bumi dan langit menghimpitku--aku sendiri--menyesali hidup yang kusia-siakan, berbangga pada dosa, lalu aku tersadar. Dengan rasa malu bercampur butuh, aku mengambil wudhu, mencoba peruntungan, gelaran sajadah memanjang, aku hanyut...


 Sourced: Google



Lelah payah memelihara iman. Terkadang naik, terkadang turun. Belum lagi orang-orang di sekeliling yang terkadang mengharuskan diri untuk mencaci. Lega rasanya, tapi setelah itu ada sesal. "Kenapa diri tak jua bersabar?"
Lain lagi ketika berusaha berbuat baik, berubah untuk perbaiki akhlaq, menjauh sejenak dari kebohongan janji "akan menjadikan baik" itu, diri masih saja dianggap salah. Yaaaah.. inilah nasib bagi seseorang yang BARU di dunia yang baik ini--jalur para hamba Alloh.
Ada kalanya 'istiqomah' itu begitu berat untuk kupikul, menikam ketika kupeluk, dan menusuk-nusuk ketika kuperkuat genggaman padanya. Tapi, kalau aku tak istiqomah, bukankah semua akan sia-sia?
Kesempatan untuk bertemu dengan-Nya bagaimana?
Ah!


~***



Dan kawan, HIJRAH itu begitu mudahnya. Ketika hidayah telah merasuk, maka seketika diri yang dipenuhi najis itu akan tersucikan dengan sendirinya. Tapi, ISTOMAH-lah yang terberat dalam fase selanjutnya. Dimana aku pun menemui halangan dan rintangan di setiap lini juangku. Adaaaa saja yang membuat hati kembali menjadi batu. Dan bagiku, inilah proses ternyaman yang diberikan-Nya. Mau mendemo? Tidak perlu! Nikmati saja! Selagi masih dapat sholat, selagi masih bisa bersujud di hadapan-Nya, selagi bisa berkeluh-kesah dengan-Nya, tak akan ada kata letih untuk mengarungi segalanya.


~***



Robb, izinkan aku untuk kembali pada-Mu dalam keadaan iman yang utuh, tak kurang sedikit pun sebab manusia yang selalu recoki hati dan mnegusik hawa nafsu. Tetapkanlah hatiku pada agama-Mu yang lurus, sebab aku telah cukup mencicipi panasnya maksiat. Sudah, cukup. Aku ingin kembali pada-Mu, seutuhnyaaa...



DI
15 November 2014
13.05 wita
Langit runtuh! Hujan!

Selasa, 09 September 2014

Hijrah #1


(Sourced: google)


Langkahku terhenti di sini,
Terdiam..
Sesekali kupandangi sekelilingku..
Adakah sosok yang kukenal?
Kuhela kembali nafas yang mulai tersengal..
Namun, yang kurasa.. udara semakin tercekat di tenggorokan..
Tak ada kesegaran di sini..
Aku butuh udara!
Aku butuh air!
Tapi, tak ada di sini..

Kemana aku harus berlari?
Kemana aku harus berpindah?


~*


Ini kisah, tentang perjalanan terberat dan terpanjang buatku. Dimana aku harus memulainya dari NOL. Mencari kebenaran diantara kenistaan. Saat diri mantap berpindah dari sisi kegelapan menuju cahaya kemilaunya, ribuan duri tajam mengiringi langkah terseokku. Aku yang lemah ini.. mencari seorang diri.. tempat ternyaman untuk dihuni.. kawan terbaik untuk melengkapi.. dan arah terbaik untuk menggiringku temui-Nya.. Alloh..

~*

(prolog)

Kamis, 24 Juli 2014

Pencari Kebenaran #7

Sumber gambar: "Google"

Ciyeeeeee... gimana ya, rasanya menikah? Saling adu jotos tapi pakai gaya yang klasik dan romantis. Nahlo? Siapa sih yang nggak pengen nikah? Ayo, coba tangannya diacungkan!

. . . . . . .

Bila lelahmu terbayar dengan pahala..
Bila penantianmu terbayar dengan pahala..
Bila peluh juangmu terbayar dengan pahala..
Bila separuh dien yang kau tegakkan terbayar dengan pahala..
Lantas, apa yang kau khawatirkan?
Berlelah-lelah sekarang,
Bersenang-senang di surga kemudian..
Bersabar sekarang,
Bersanding di pelaminan kemudian..
InsyaaAlloh..

. . . . . . .

Sumber gambar: "Google"

Teruntuk para jomblo-ers yang sampai detik ini masih menjaga hati, pandangan, ucapan, dan raganya dari yang tak mempunyai hak atas diri ini...

"Kau mungkin merasa bosan dan kepayahan menopang diri di ujung duri seorang diri. Ada rasa ingin kembali mencicipi indahnya 'dicintai'. Ada rindu yang bahkan untuk mengungkapkannya saja, puluhan ribu bulir sebiji jagung sudah mengucur dari dahi. Lebih konyolnya lagi, ketika bertemu dengan sang tautan hati, buru-buru diri disibukkan, bahkan tak jarang kawan di sebelah sampai terpingkal sendiri. Kau lebih banyak menyendiri. Bukan karna dikucilkan, tapi itulah pribadi mandiri yang kau usahakan ada agar tak melulu menyusahkan orang di sana-sini. Berpayung kecewa pun, terkadang sudah menjadi makanan pokok bagimu ketika kau tak dapatkan apa yang kau harapkan. Tak ubahnya kau terus bangkit. Tak peduli dengan nyinyiran yang begitu pedas di telinga juga hati. Kau berjalan maju, terus maju, tak hiraukan semua celotehan hingga kau temukan setitik cahaya harapmu. Ada pula yang awalnya tak berniat menjadi baik, ketika takdir mempertemukannya dengan yang alim, hidayah melebur dalam jasad juga ruhnya. Tekad bulat merubah diri pun disegerakan. Demi menjaga apa yang seharusnya kau jaga, kau rela melepaskan masa gemerlap penuh cinta bertaburan, membahagiakan syahwat, menyeret diri dalam kubangan dosa terberat."

"Kau tahu? Semua itu barulah prosesnya saja yang ditampakkan di jalanan yang setiap hari engkau lalui. Perlahan-lahan menguji kesabaranmu dalam menanti dia yang sering kau lirik. Jika kau sadar, beribu istigfar kan terucap mengelakkan rasa yang terus mengetuk. Kau tak pantas disalahkan. Karena ini proses, ya lagi-lagi proses. Tak terbayangkan rasanya, jika satu langkah lagi mendekati dia yang disiapkan, ternyata kau menyerah dan menanggalkan semua. Ah, habislah sudah semua yang kau punya. Yang ada hanya kekecewaan tak mendasar. Sakit atas kesalahan sendiri. Apa kau percaya dengan janji-Nya? Ada kepastian di sana, tapi.. semua itu disiapakan hanya untuk mereka yang bersabar dan setia bertahan."

"Coba kau bayangkan.. menundukkan pandangan, mengatur ritme detak jantung, ada harap yang mencuat, pikiran tak karuan, langkah selalu dipercepat, seolah-olah diri siap untuk dibenamkan, semua itu terjadi ketika dia sang dambaan hati melintas di hadapan. Apa dia merasa? Tidak! Apa dia tahu perjuanganmu dan ketersiksaanmu? Jelas Tidak! Jadi, untuk apa kau terus pasrah tersiksa di lembah ketidakpastian dan kesemuan khayalanmu sendiri? Bangkitlah~ Fitrah dan fitnah itu bedanya sangatlah tipis. Bila rasa itu tetap kau rawat, maka fitnahlah yang kan kau temukan di akhir episodenya. Walau tak dapat dipungkiri, semua yang kau rasakan itu adalah fitrah terindah yang Dia anugerahkan untuk semua makhluk-Nya. But, sekali-kali tidak! Tak ada alasan tuk benarkan fitrah yang keliru alurnya. Tak ada jalan pintas tuk membenarkan fitrah yang berujung pada fintah. Untuk yang ini, lebih baik kau menarik diri. Pantaskan dan lepaskan!"

. . . . . . . .

Aku nggak lagi ngomporin kalian buat membunuh perasaan yang ada itu loh, yaa.. Tapi, aku cuma pengen berbagi ilmu, bahwa kecewa itu nggak enak. Sakitnya tuh di sini. Dan nggak ada garansinya. Kecuali, setelah semua itu berlalu, kita lantas sadar dan kembali menjadi hamba-Nya yang setia. Nah, kalau setelah itu kita malah menjauh sejauh-jauhnya dari Dia? Naudzubillaah..~

. . . . . . . .



Balikpapan, 24 Juli 2014
00.34 wita
'DI'