Darinya aku belajar.. tentang dunia yang begitu pekat untuk aku jalani. Semua semu seakan menarik hati untuk berjalan mundur mengitari mimpi dan khayalan liarku sendiri. Aku sadar, banyak kisah yang kuukir lalu kusia-siakan begitu saja. Tak ada waktu kuluangkan untuk masa-masa realitasku. Apa yang kuperbuat, seolah-olah menghabiskan semua tenaga yang kumiliki. Tentangmu yang kubuat secara acak, mulai dari cinta yang kuperjuangkan sendiri, sampai bahagia yang kurangkai, namun masih tak kuketahui bagaimana alur dan endingnya.
Kau terlalu banyak membantuku. Menuangkan tiap rasa yang tak pernah mampu terucap. Mengungkapkan bahasa yang seakan-akan membeku karena rasa yang terlalu lama kuolah dan kupendam sendiri. Dari sini aku sadar, ini semua semu.. sebagian orang akan menganggapku tak serius menjalani hidup -- masih stuck pada satu titik perjuangan tanpa langkah untuk meniggalkan. Aku bagaikan hidup di dua sisi yang tak beraturan.
Tentang hidup yang tak juga membaik. Lagi-lagi aku sadar, aku bukan sebaik-baik makhluk yang diciptakan. Aku bukan sebaik-baik wanita yang disiapkan. Tapi, aku berangkat dari sini, bahwa perjuangan untuk menjadi sebaik-baiknya makhluk dan wanita yang tercipta itu butuh perjuangan. Mengorbankan apa yang dipunya, sampai melepaskan apa yang digenggam.
Bukan soal cinta yang ingin kubagi denganmu, Dir. Mataku terbuka.. setelah menonton perahu kertas part 1 &2, aku menilai segala macam bentuk cinta yang tertuang di sana dengan versiku sendiri. Hidup tak sekedar mengejar cinta ya, Dir. Ternyata, di belakang itu ada banyak hal yang harus diperhatikan. Entah, akan banyak orang yang menganggap film itu tak layak. Ya, aku setuju bila semua adegan yang ada di situ hanya dinilai dari sudut nafsu. Tapi, bagaimana jika diputar sedikit saja sudut pandang yang melenceng itu. Ada ketulusan di sana.. ketulusan menjaga hati dan rasa yang tertutup rapih.
Ada satu hal yang kudapat dari sana.. bahwa "yang namanya hati, walau bertahun-tahun tak terungkapkan, tak ditampakkan, tak diutarakan, kelak jika saatnya telah tepat, semua rasa itu akan menguap dengan sendirinya. Tak meninggalkan setitik jejak pun di dataran hatinya. Artinya, semua rasa itu tersampaikan dengan sempurna. Hemm.."
Sudah berapa lama Dir, kamu kugunakan dalam setiap cerita yang kubuat? Sudah berapa banyak tokoh yang kutautkan denganmu di setiap cerita yang kuhasilkan? Terlalu banyak, ya? Sudah berapa tahun ya, Dir? Masa-masa SMP yang sengaja kulahirkan tokoh dirimu itu, rasanya sudah saatnya kau pensiun. Kita harus berhenti bermimpi, Dir. Banyak hal yang realistis kita lewati begitu saja. Kita terlalu bahagia dengan perasaan yang kita ciptakan sendiri. Terlalu banyak angan yang kita gantung tapi tak ada satu pun kepastian yang kita dapat. Haha, kita terlalu polos dan tolol.
Maaf, padahal aku yang menciptakanmu. Tapi, aku juga yang harus mematikan karakter luar biasamu itu. Maaf.. kelak, namamu akan menghiasi tiap kisahku lagi dalam lembaran tulisan yang dihasilkan dari kisah nyataku sendiri. Bersama yang telah ditakdirkan. Yang hatinya terjaga rapih, yang di dalam do'a-do'anya ada namaku disebut, yang semuanya telah diaturkan untukku, yang tak perlu lagi aku berkhayal tentang itu -- melainkan semua tinggal kutuangkan langsung karena semua sudah kualami dan kumiliki. Duh, lagi-lagi aku berkhayal, Dir. Hm, apa salahnya mengharapkan sosok sholeh dalam perangainya? Ah!
Dir, aku baru sadar.. kenapa setiap cerita yang kuciptakan itu tak ada satupun yang terselesaikan? Karena semua cuma ilusi, mimpi kosong yang seakan-akan, aku mendahului takdir-Nya. Aku selalu membuatmu bahagia, tapi.. apa aku juga rasakan bahagiamu? Nggak, Dir! Aku bahkan belum pernah merasakan itu semua. Kalaupun sudah, aku seperti menampar diri dengan tulisan-tulisan yang sudah tertata itu. Aku lelah.. ada banyak hal yang harus kita selesaikan di depan sana. Aku pun harus kembali ke dunia nyataku. Berhenti berangan-angan, temui kenyataan.
Sampai jumpa ya, Dir. Akan ada banyak orang yang merindukan sosokmu di balik novel yang belum kelar dan nggak rampung-rampung itu. Love, Rain, Hurt,.. suatu hari nanti bakalan mejeng di estalase toko buku ternama dengan alur, setting, tokoh, kisah, dan epilog serta prolog yang akan kurombak habis-habisan. Tapi nanti ya, Dir. Saat semuanya sudah menyatu.
Maaf.. untuk kisah fiksi tentangmu, harus kuhentikan sampai di sini. Kita akan bertemu di kisah true story saja. Hehe.. Hiks T.T
Balikpapan, 21 Juli 2014
02.08 wita
Biarkan Dira pergi..
'DI'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar