Ketika putra nomor tigaku diambil Alloh kembali, beberapa bulan kemudian... Alloh berikan lagi penggantinya. Walau rasa kehilangan itu masih berasa, tapi Alloh tak pernah biarkan diri ini bersedih terlalu lama. Disegerakannya si penawar luka. Ya, putra bungsuku berada di dalam rahimku... tepat sebulan setelah kandanya pergi. Meninggalkan kami, menorehkan pilu yang mendalam...
. . . . .
"Ayah! Fajar, Yah!" teriakku panik.
Suamiku segera berlari ke kamar anakku, Fajar, menemuiku yang sudah memasang wajah panik dan ketakutan. Dia menyentuh lengan Fajar, memeriksa denyut nadinya, dan dipandanginya wajah pucat anak kami yang sekujur tubuhnya mulai dijalari hawa dingin.
"Innaalillahi... Fajar telah pergi, Bu..." katany lirih.
Aku diam. Tak bergerak dan terus memandangi jasad anakku. Tanpa isak tangis, aku mencoba melapangkan dadaku seluas-luasnya. Ya, aku tak menangisi kepergiannya. Karena aku tahu, segala yang hidup akan mati dan kembali menemui pencipta-Nya.
Fajar menderita kelainan jantung. Sifatnya yang periang, terkadang membuatku lupa bahwa dia tengah sakit. Dia tidak bisa banyak beraktivitas. Di usianya yang baru mengunjak 6 tahun, dia sama sekali tidak bisa duduk diam dan terus beraktivitas sesukanya, walaupun telah kuperingatkan berkali-kali. Anakku yang cerdas, begitu cepatnya Dia memanggilmu. Padahal, baru berberapa hari yang lalu kau diperbolehkan untuk pulang, menemani kami lagi. Tapi, hari ini... ah, Alloh tengah berencana lain.
Tiba-tiba sekelilingku berputar. Pandanganku menghitam. Dan aku merasakan diri ini ringan. Entah, apa yang terjadi setelah itu...
. . . . .
Aku mendapati sekelilingku penuh dengan orang-orang. Ketiga anakku tengah menagis tersedu di sampingku. Ah, aku teringatkan sesuatu. Salah satu anakku telah meninggal... dan orang-orang ini mungkin para tetangga yang datang melayat. Kupaksakan diri ini untuk tersenyum dan bangkit dari tempat tidurku. Namun, tubuhku kembali terjatuh. Dengan sigap, suamiku menahan badanku sebelum benar-benar terhempas. Ada dia... anakku masih ada 3 orang.. ada Alloh di balik semuanya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir dengan sangat deras. Tanpa isakan menggugu, aku hanyut dalam pelukan hangat suamiku.
"Ibu... jangan menangis. Masih ada kami. Dinda janji, nggak bakalan bertengkar lagi dengan Kanda dan adik Senja," hibur Dinda yang kudapati wajahnya memerah. Air matanya masih bercucuran. Berkali-kali dihusapnya air mata itu sembari menatap dan terus menggenggam tanganku.
"Iya, sayang. Ibu nggak nangis lagi, kok. Janji! Dinda juga nggak boleh nangis lagi, ya. Sini, sayang..." aku memeluknya, diikuti lagi oleh kedua anakku. Dalam rangkulan hangat sang suami, kami larut dalam kebahagiaan yang bercampur mendung.
"Di, hadapi ini semua dengan tenang, ya. Maaf, aku nggak bisa ngelakuin apa-apa. Sekarang kita keluar dulu, yuk. Nemuin para tetangga dan ngurus pemakaman anak kita. Didi sudah agak mendingan, belum? Kalau belum, biar Ayah saja yang keluar," katanya denagn deretan kata panjang yang menandakan bahwa dia dalam keadaan bingung dan panik.
Anak-anakku mulai melonggarkan pelukannya dan menatap kami dengan wajah berlinangan air mata.
"Aku sudah nggak kenapa-kenapa kok, Bi. Ayok, kita keluar. Ikut Ibu sama Ayah yok, sayang," pintaku dengan tulus kepada anak-anakku.
Mereka mengangguk, lalu mengikuti langkah kami. Para tetangga yang sedari tadi sudah menyiapkan ini itu, menyalami kami. Ikut bersedih dan berbelasungkawa... Langit pun mendung, menemani perjalanan kami yang akan kami mulai tanpa sosok Fajar lagi.
. . . . .
Di pinggir danau yang menjadi tempat favorit kami untuk berlibur, kami menikmati udara sejuk dan sosok baru di tengah-tengah kami. Ya, si bungsu Yusuf, terlahir dengan gagah dan sempurna. Dialah sang penghapus sedih yang dihadiahkan oleh-Nya untuk kami semua. Dan inilah buah dari kesabaran kami. Ah, satu tahun yang lalu... kami semua berusaha tegar, walau saat sholat di sepertiga malam, masih kudapati mata ini menjatuhkan bulir-bulir sucinya, mengenang dan merindukan Fajar. Juga suamiku yang menangis dalam diamnya saat memandangi foto Fajar yang sedang menggenggam jemari sembari tertawa lebar. Ah, kami sudah lalui itu. Saat ini, usia Yusuf sudah 13 bulan. Kami berbahagia atas kehadirannya... namun, cinta kami pada Fajar akan tetap mengalir, begitu pula dengan Yusuf.
. . Tamat . .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar